Gerakan Bawah Tanah Korea Di balik ketatnya pengawasan pemerintah kolonial Jepang, terdapat jaringan gerakan bawah tanah yang bekerja secara rahasia.
Mereka menyelundupkan informasi, menggalang dana, hingga menjalankan aksi perlawanan dari Korea, Shanghai, Manchuria, dan wilayah lain yang menjadi basis pejuang kemerdekaan.
Gerakan bawah tanah Korea merupakan jaringan perlawanan rahasia yang dibentuk untuk menentang penjajahan Jepang pada tahun 1910–1945.
Berbagai organisasi, seperti Uiyeoldan (Heroic Corps) dan Hanin Aegukdan (Korean Patriotic Corps), dikenal karena sabotase, aksi terhadap pejabat kolonial, serta dukungan terhadap perjuangan kemerdekaan Korea.
Setelah Jepang secara resmi menganeksasi Korea pada tahun 1910, pemerintah kolonial menerapkan pemerintahan militer yang sangat represif.
Kebebasan berbicara dibatasi, media diawasi, sementara organisasi politik dan kegiatan yang dianggap mengancam kekuasaan kolonial dibubarkan.
Salah satu alat utama untuk mempertahankan kekuasaan tersebut adalah Kempeitai, yaitu Polisi Militer Jepang yang dikenal melakukan pengawasan, penangkapan, interogasi, penyiksaan, hingga pemberantasan terhadap para pejuang kemerdekaan.
Kehadiran Kempeitai membuat aktivitas perlawanan terbuka semakin sulit dilakukan.
Situasi semakin memanas setelah Gerakan 1 Maret 1919 (March First Movement).
Demonstrasi damai yang menuntut kemerdekaan Korea dibubarkan secara keras oleh pemerintah kolonial Jepang dan menyebabkan ribuan korban serta puluhan ribu penangkapan.
Peristiwa ini menjadi titik balik yang mendorong banyak pejuang mengubah strategi dari aksi terbuka menjadi gerakan bawah tanah yang lebih rahasia dan terorganisasi.
Perlawanan terhadap Jepang tidak dilakukan oleh satu kelompok saja.
Berbagai organisasi rahasia memiliki peran yang berbeda, mulai dari aksi bersenjata, penggalangan dana, hingga pengumpulan informasi intelijen.
Uiyeoldan atau Heroic Corps (Korps Pahlawan) didirikan oleh Kim Won-bong di Jilin, Tiongkok, pada November 1919.
Organisasi ini memilih jalur aksi langsung dengan menyasar kantor pemerintahan kolonial, kantor polisi, hingga tokoh penting Jepang sebagai bentuk perlawanan terhadap penjajahan.
Pada 1923, sejarawan sekaligus pejuang kemerdekaan Shin Chae-ho menulis Deklarasi Revolusi Korea (Joseon Revolution Declaration) untuk Uiyeoldan.
Manifesto tersebut menolak pendekatan diplomasi yang dianggap tidak efektif dan menyerukan perjuangan revolusioner melalui aksi langsung demi kemerdekaan Korea.
Hanin Aegukdan atau Korean Patriotic Corps (Korps Patriot Korea) dibentuk oleh Kim Koo di Shanghai pada tahun 1931 sebagai organisasi rahasia yang berfokus pada operasi terhadap tokoh dan kepentingan Jepang.
Organisasi ini berada di bawah naungan Pemerintahan Sementara Korea yang saat itu bermarkas di Shanghai.
Aksi paling terkenal dilakukan oleh Yun Bong-gil pada 29 April 1932 di Taman Hongkou (Hongkou Park), Shanghai.
Ia melempar bom ke acara perayaan kemenangan militer Jepang sehingga menewaskan dan melukai sejumlah pejabat tinggi militer.
Peristiwa ini menarik perhatian dunia internasional terhadap perjuangan kemerdekaan Korea.
Berbeda dari organisasi bersenjata, Baeksan Sanghoe merupakan perusahaan dagang yang didirikan di Busan dan dimanfaatkan secara diam-diam untuk mendukung perjuangan kemerdekaan Korea.
Melalui aktivitas bisnisnya, perusahaan ini berhasil menggalang, menyamarkan, dan menyalurkan dana kepada berbagai kelompok perlawanan.
Dana tersebut juga membantu kegiatan Pemerintahan Sementara Korea di Shanghai, termasuk mendukung operasional organisasi kemerdekaan yang bergerak di luar negeri.
Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium
Strategi ini membuat Baeksan Sanghoe menjadi contoh bagaimana kegiatan ekonomi dimanfaatkan untuk menopang perjuangan bawah tanah tanpa harus terlibat langsung dalam aksi bersenjata.
Selain membentuk organisasi bersenjata, Pemerintahan Sementara Korea juga mengembangkan jaringan intelijen rahasia untuk menghubungkan para pejuang di Korea, Tiongkok, dan Manchuria.
Jaringan ini bertugas mengirim informasi, menyampaikan instruksi, menyelundupkan dokumen penting, hingga menjaga komunikasi antarkelompok perlawanan agar tidak mudah dilacak oleh aparat kolonial Jepang.
Menjelang akhir Perang Dunia II, jaringan tersebut turut mendukung berbagai operasi militer Korean Liberation Army (Tentara Pembebasan Korea), termasuk rencana infiltrasi ke Semenanjung Korea bersama Office of Strategic Services (OSS), lembaga intelijen Amerika Serikat yang menjadi pendahulu CIA.
Meskipun rencana itu belum sempat dilaksanakan karena Jepang menyerah pada Agustus 1945, jaringan intelijen ini menunjukkan bahwa perjuangan kemerdekaan Korea tidak hanya mengandalkan aksi bersenjata, tetapi juga operasi rahasia yang terorganisasi.
Kim Won-bong merupakan pendiri Uiyeoldan (Heroic Corps) pada tahun 1919.
Ia dikenal sebagai salah satu tokoh perlawanan bersenjata paling aktif selama masa penjajahan Jepang.
Di bawah kepemimpinannya, Uiyeoldan melancarkan berbagai operasi terhadap kantor pemerintahan kolonial, kantor polisi, hingga fasilitas penting Jepang.
Karena aktivitas tersebut, Kim Won-bong menjadi salah satu pejuang kemerdekaan yang paling diburu oleh pemerintah kolonial Jepang.
Banyak sumber sejarah menyebut, Jepang bahkan menawarkan hadiah besar bagi siapa pun yang dapat menangkapnya, meskipun nilai hadiahnya berbeda-beda di berbagai catatan sehingga tidak dapat dipastikan sebagai yang terbesar.
Kim Koo adalah salah satu pemimpin paling berpengaruh dalam Pemerintahan Sementara Korea (Korean Provisional Government) yang bermarkas di Shanghai.
Selain memperjuangkan kemerdekaan melalui jalur diplomasi internasional, ia juga mendukung berbagai operasi rahasia untuk melawan pemerintahan kolonial Jepang.
Salah satu langkah pentingnya adalah mendirikan Hanin Aegukdan (Korean Patriotic Corps) pada tahun 1931.
Organisasi ini melahirkan sejumlah aksi patriotik terkenal, termasuk operasi Yun Bong-gil di Taman Hongkou, Shanghai, yang menarik perhatian dunia terhadap perjuangan kemerdekaan Korea.
Na Seok-ju merupakan anggota Uiyeoldan yang dikenal karena aksi beraninya pada 28 Desember 1926.
Ia menyusup ke Gyeongseong (kini Seoul) untuk menyerang Oriental Development Company (Dongyang Cheoksik Hoesa) dan Bank of Joseon, dua lembaga yang dianggap menjadi simbol eksploitasi ekonomi Jepang terhadap Korea.
Setelah melemparkan bom dan terlibat baku tembak dengan aparat kolonial Jepang, Na Seok-ju memilih mengakhiri hidupnya agar tidak tertangkap hidup-hidup.
Aksinya kemudian dikenang sebagai salah satu operasi paling berani dalam sejarah gerakan bawah tanah Korea.
Melalui berbagai aksi rahasia yang dilakukan, gerakan bawah tanah Korea turut memberikan kontribusi bagi perjuangan kemerdekaan Korea.
Keberadaan jaringan perlawanan ini menjadi salah satu bukti rakyat Korea menentang penjajahan Jepang.
Untuk memahami lebih jauh perjuangan kemerdekaan Korea serta perkembangan organisasi-organisasi pejuang Korea, kamu dapat membaca buku Korea dalam Kemelut Ideologi.
Buku karya Afriadi ini mengulas gerakan kemerdekaan Korea sejak 1919 dengan menyoroti dinamika perjuangan melawan penjajahan Jepang.
Selain membahas upaya represi yang dilakukan pemerintah kolonial Jepang, buku ini juga menjelaskan peran dua organisasi besar, yaitu Pemerintahan Provisional Korea dan Partai Komunis Korea yang memengaruhi arah perjuangan dan masa depan Korea meskipun dilandasi oleh ideologi yang berbeda.
Buku ini juga mengelaborasikan sumber-sumber Korea Utara yang tidak banyak digunakan selama ini oleh sejarawan Korea Selatan maupun pemerhati sejarah Korea pada umumnya.
Hal ini yang menjadikan buku Korea dalam Kemelut Ideologi lebih unik dibandingkan kajian-kajian mengenai Perang Korea lain.
Buku ini tersedia di Gramedia.com dan Gramedia Digital untuk versi e-book.