Buku Seni Berbicara pada Anak Sejak kaki kita bisa melangkah dan lidah mengecap kata, kita disibukkan dengan satu pelajaran besar tentang bagaimana cara berbicara kepada orang lain.
Kita diajarkan dengan runtut untuk mengucapkan kata tolong saat membutuhkan.
Kita diajarkan mengucapkan maaf saat melakukan kekeliruan, dan mengucapkan terima kasih sebagai bentuk apresiasi.
Kita dibiasakan menghormati guru, menjaga sopan santun kepada yang lebih tua, hingga piawai memilih diksi yang dianggap pantas dalam berbagai situasi sosial orang dewasa.
Namun, pernahkah kita berhenti sejenak dan membalik pertanyaan itu ke dalam diri kita sendiri? Mengapa kita begitu sibuk belajar cara berbicara kepada orang dewasa, sementara cara berbicara kepada anak-anak sering kali terlewatkan dan dianggap sebagai sesuatu yang terjadi secara alami begitu saja? Mengapa bentakan, perintah yang repetitif, dan pengabaian emosi sering kali menjadi bahasa ibu yang refleks kita keluarkan saat berhadapan dengan makhluk mungil ini?
Pertanyaan-pertanyaan menggelitik itulah yang menghantam kesadaran saya setelah menutup lembar demi lembar buku Seni Berbicara pada Anak: Panduan Mendidik Anak Tanpa Ngegas karya Joanna Faber dan Julie King.
Sebuah buku yang bukan sekadar memberikan daftar instruksi teknis, melainkan sebuah undangan terbuka untuk merombak total cara kita memandang dunia anak.
Sebagai seorang lulusan Ilmu Keluarga dan Konsumen, saya selalu memercayai satu hal bahwa keluarga adalah lingkungan pertama dan paling utama tempat seorang anak belajar mengenal dirinya sendiri.
Di sanalah, di dalam rumah dan lewat kata-kata yang didengarnya setiap hari, mereka mulai meraba-raba pemahaman apakah dunia ini tempat yang aman, apakah perasaan mereka diterima, dan apakah suara mereka layak untuk didengarkan.
Jujur saja, saat pertama kali memegang buku ini, saya sempat berpikir bahwa buku ini mungkin hanya akan relevan bagi mereka yang sudah menimang buah hati.
Saya sendiri belum memiliki anak.
Namun, hanya butuh membaca beberapa bab pertama untuk membuat anggapan itu runtuh sepenuhnya.
Buku ini memiliki spektrum yang jauh lebih luas daripada sekadar buku panduan parenting konvensional.
Guru, relawan kemanusiaan, seorang kakak, calon orangtua, atau siapa pun yang dalam kesehariannya kerap berinteraksi dengan anak-anak akan menemukan banyak ruang refleksi yang mendalam di sini.
Sebab, esensinya sangat sederhana, bahwa setiap orang dewasa pernah menjadi anak-anak.
Kita semua pasti pernah mengingat betapa bahagianya kita dahulu ketika cerita sederhana kita didengarkan oleh orang dewasa hingga tuntas tanpa dipotong.
Sebaliknya, kita juga pasti masih bisa merasakan sisa-sisa rasa kecewa ketika tangisan kita dianggap berlebihan, pertanyaan penasaran kita dijawab dengan tergesa-gesa, atau seluruh perasaan kita dipatahkan begitu saja hanya karena kita dianggap masih kecil dan tidak tahu apa-apa.
Salah satu kekuatan terbesar buku ini terletak pada strukturnya.
Alih-alih langsung memberikan daftar kalimat ajaib, kedua penulis mengajak kita memahami alasan di balik perilaku anak.
Penulis menegaskan, “Intinya adalah kita tidak dapat bersikap baik saat perasaan kurang baik. Demikian pula anak-anak. Mereka tidak bisa bersikap baik saat perasaannya tidak baik.”
Ketika anak sulit ditenangkan, mereka belum tentu sedang membangkang.
Tangisan yang terdengar berlebihan sering kali merupakan satu-satunya bahasa yang mereka miliki ketika belum mampu menjelaskan apa yang sedang dirasakan.
Buku ini memandu kita untuk tidak memulai dari pertanyaan bagaimana agar anak mau menurut.
Pertanyaan itu harus diubah menjadi apa yang sebenarnya sedang dialami anak.
Ketika sudut pandang kita bergeser dari menghakimi menjadi memahami, respons yang keluar dari mulut kita pun secara otomatis akan ikut berubah.
Kembali pada pertanyaan awal, mengapa anak sering tidak mau mendengar? Berapa banyak dari kita yang terjebak dalam pola komunikasi satu arah berupa perintah dan larangan? Banyak orang dewasa berfokus pada satu tujuan, yaitu membuat anak segera menurut.
Faber dan King mengingatkan sebuah realitas psikologis yang pahit bahwa tidak ada seorang pun yang suka diperintah.
Perintah langsung memancing penolakan langsung karena saat kita memberi perintah pada anak-anak, berarti kita sedang melawan sifat diri sendiri.
Buku ini justru mengingatkan bahwa sebelum anak mampu mendengarkan kita, mereka perlu lebih dulu merasa didengarkan.
Hubungan selalu lebih penting daripada sekadar kepatuhan.
Lalu, apa solusinya jika tidak boleh memerintah? Buku ini menawarkan sebuah konsep emas untuk membangun koneksi sebelum memberikan koreksi.
Hubungan yang hangat membantu kerja sama lahir secara alami.
Ambil contoh ketika anak menolak menggosok gigi.
Respons yang sering muncul mungkin berupa ancaman atau perintah yang diulang berkali-kali.
Buku ini menawarkan pendekatan yang berbeda melalui permainan, humor, atau imajinasi.
Sikat gigi dapat berubah menjadi kereta api yang sedang membersihkan rel, monster kecil yang sedang berburu kuman, atau tokoh favorit yang mengajak anak menyikat gigi bersama.
Bagi orang dewasa, cara seperti ini mungkin terlihat sederhana.
Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium
Bagi anak, bermain memang merupakan bahasa yang paling mereka pahami.
Imajinasi sering kali membuka pintu kerja sama yang sulit dicapai melalui perintah langsung.
Satu bab yang menurut saya wajib dibaca berulang kali adalah mengenai validasi emosi.
Ada sebuah kutipan kuat dari Joanna Faber di bagian awal buku yang menyatakan bahwa perasaan itu penting, sepenting alasan.
Sering kali, saat anak menangis karena hal kecil, respons instan orang dewasa adalah mematikan perasaan tersebut.
Kalimat yang berniat menghibur tanpa kita sadari sebenarnya sedang mengirimkan pesan bahwa perasaan mereka tidak valid.
Buku ini dengan tegas menepis cara tersebut.
Faber dan King menuliskan bahwa perasaan yang baik tidak akan datang sebelum perasaan yang buruk dibiarkan pergi.
Menerima perasaan anak sama sekali tidak sama dengan membenarkan perilakunya.
Konsep utama buku ini menegaskan bahwa semua perasaan bisa diterima, tetapi sebagian tindakan harus dibatasi.
Sebelum membahas batasan perilaku, anak perlu merasa emosinya diakui.
Di titik ini, anak tidak lagi merasa berhadapan dengan lawan yang ingin memenangkan perdebatan, melainkan dengan sosok yang berusaha memahami mereka.
Komunikasi dua arah yang sehat selalu menuntut kehadiran penuh.
Buku ini mengingatkan bahwa mendengar bukan sekadar aktivitas pasif berdiam diri menanti giliran berbicara, melainkan sebuah seni untuk hadir secara utuh dengan menatap mata mereka sejajar, memberikan jeda agar mereka menyelesaikan kalimatnya, dan menahan diri untuk tidak terburu-buru menghakimi atau mencari solusi.
Sering kali, yang dibutuhkan anak bukan jawaban sempurna.
Mereka hanya ingin mengetahui bahwa cerita mereka penting bagi orang yang mereka sayangi.
Hal ini berkaitan erat dengan bab mengenai bagaimana cara memberikan pujian yang menumbuhkan.
Selama ini, kita sering terjebak pada pujian berbasis identitas seperti kamu pintar sekali, atau kamu anak paling hebat.
Faber dan King memandu kita untuk menggeser fokus pujian dari identitas menuju usaha dan proses.
Kalimat yang mengapresiasi proses membantu anak memahami bahwa proses belajar sama berharganya dengan hasil akhir.
Pergeseran sederhana ini berdampak masif pada psikologis anak.
Mereka akan tumbuh dengan pemahaman bahwa proses dan daya juang jauh lebih berharga daripada sekadar hasil akhir sehingga tidak takut melakukan kesalahan.
Pada akhirnya, kekuatan Seni Berbicara pada Anak terletak pada kesederhanaannya.
Joanna Faber dan Julie King tidak hanya menyampaikan teori, tetapi juga menghadirkan contoh-contoh percakapan yang dekat dengan keseharian.
Bahasa yang ringan, alur yang runtut, serta pendekatan yang tidak menggurui membuat buku ini mudah dipahami sekaligus dipraktikkan.
Lebih dari itu, buku ini mengajak pembaca mengubah cara pandang.
Pertanyaannya tidak lagi sekadar bagaimana membuat anak mendengarkan, melainkan apa yang sebenarnya sedang dirasakan anak.
Dari perubahan perspektif tersebut, kita diajak menyadari bahwa keluarga merupakan ruang pertama tempat anak belajar tentang rasa aman, empati, dan kasih sayang melalui percakapan-percakapan sederhana setiap hari.
Kita mungkin tidak selalu mampu memberikan respons yang sempurna.
Rasa lelah, emosi, dan kesalahan tentu akan menjadi bagian dari perjalanan.
Namun, selama masih bersedia belajar memahami dunia anak, selalu ada kesempatan untuk membangun hubungan yang lebih hangat.
Sebab, bagi seorang anak, kata-kata bukan sekadar rangkaian kalimat.
Kata-kata adalah tempat pertama mereka belajar mengenal dirinya sendiri.
Semoga buku ini menemukan jalannya menuju lebih banyak rumah, ruang kelas, taman bermain, atau tangan siapa pun yang sedang membersamai tumbuh kembang anak.
Sebab, setiap percakapan yang dipenuhi empati mungkin tampak sederhana hari ini.
Namun, boleh jadi, percakapan itulah yang kelak tinggal paling lama di hati seorang anak.
Bagi pembaca yang ingin mengenal lebih jauh isi buku ini, Seni Berbicara pada Anak: Panduan Mendidik Anak Tanpa Ngegas dapat ditemukan di toko buku Gramedia terdekat maupun melalui Gramedia.com.