Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Penyebab Trust Issue dalam Hubungan dan Cara Mengatasinya

Kompas.com, 23 Februari 2026, 11:00 WIB
Trust Issue dalam Hubungan Sumber Gambar: Freepik.com Trust Issue dalam Hubungan
Rujukan artikel ini:
A Guide Book To Trust…
Pengarang: Ares Ulia
Penulis Anggi
|
Editor Novia Putri Anindhita

Pernahkah kamu merasa cemas saat pasanganmu telat membalas pesan? Atau merasa perlu mengecek ponselnya terus-menerus?

Perasaan waswas, curiga, dan sulit untuk percaya sepenuhnya pada orang lain ini sering kali dikenal sebagai trust issue.

Masalah ini bukan sekadar bumbu dalam drama percintaan, melainkan kondisi emosional yang nyata dan bisa berdampak besar.

Memiliki trust issue dalam hubungan sebenarnya adalah bentuk mekanisme pertahanan diri.

Namun, jika dibiarkan terus-menerus, rasa tidak percaya ini justru akan menjadi bumerang yang menghancurkan kedekatan emosional.

Memahami akar penyebab dan cara menangani krisis kepercayaan ini membutuhkan kejujuran yang mendalam terhadap diri sendiri.

Untuk membantumu menavigasi perasaan yang rumit ini, mari kita bedah lebih dalam bagaimana cara berdamai dengan rasa tidak percaya tersebut agar hubunganmu bisa kembali harmonis.

3 Penyebab Trust Issue dalam Hubungan

Berikut beberapa alasan mengapa trust issue dalam hubungan bisa tumbuh begitu kuat:

1. Luka Pengasuhan di Masa Kecil

Dalam psikologi, terdapat konsep attachment style.

Pola ini terbentuk sejak kita kecil, dari cara orang tua atau pengasuh merespons kebutuhan emosional kita.

Jika di masa kecil kamu tumbuh dengan pengasuh yang tidak konsisten, sering mengabaikan perasaanmu, atau kerap mengingkari janji, tanpa sadar otakmu belajar satu hal bahwa orang yang paling dekat pun bisa menyakitimu.

Saat dewasa, luka tersebut muncul kembali dalam bentuk kewaspadaan berlebihan terhadap pasangan.

2. Efek Domino Hubungan Masa Lalu

Pengalaman pahit dengan mantan pasangan yang manipulatif atau tidak jujur sering meninggalkan trauma yang belum tuntas.

Kamu mungkin merasa sudah move on, tapi mekanisme pertahanan dirimu tetap aktif.

Tanpa disadari pasanganmu yang sekarang bisa saja ikut merasakan dampaknya.

Mereka seperti harus menanggung atas kesalahan yang dilakukan orang lain di masa lalumu.

3. Rendahnya Self-Esteem

Terkadang, rasa tidak percaya pada pasangan sebenarnya adalah cerminan dari rasa tidak percaya pada diri sendiri.

Ketika seseorang merasa dirinya tidak cukup berharga, tidak cukup menarik, atau tidak cukup layak untuk dicintai, muncul ketakutan bahwa pasangannya suatu saat akan pergi.

Ketakutan terus menerus ini yang akhirnya membentuk pola kecurigaan terhadap pasangan.

Cara Mengatasi Trust Issue dalam Hubungan

Memulihkan kepercayaan yang sudah retak bukanlah hal yang mudah karena dibutuhkan kesabaran, kerendahan hati, dan kerja sama yang solid antara kedua belah pihak.

Kamu tidak bisa memaksa kepercayaan muncul kembali hanya dengan kata "tolong percaya padaku".

Jika kamu atau pasanganmu sedang berjuang menghadapi trust issue dalam hubungan, berikut beberapa langkah yang bisa diterapkan untuk memperbaikinya.

1. Akui dan Identifikasi Sumbernya secara Jujur

Langkah paling awal adalah keberanian untuk mengakui bahwa ada masalah kepercayaan.

Luangkan waktu untuk benar-benar memahami asal dari rasa curiga tersebut.

Perlu dibedakan apakah perasaan itu muncul karena tindakan pasangan saat ini, atau sebenarnya merupakan gema dari pengalaman dan luka di masa lalu yang belum sepenuhnya pulih.

Dengan mengetahui sumbernya, kamu bisa lebih objektif dan tidak menimpalkan beban kesalahan masa lalu kepada pasanganmu yang sekarang, yang mungkin sebenarnya sangat jujur padamu.

Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium

2. Praktikkan Komunikasi Transparan

Daripada melempar tuduhan yang memicu pertengkaran, cobalah komunikasikan perasaanmu tanpa membuat pasangan merasa diserang.

Gunakan pola I-statement untuk mengekspresikan kerentananmu.

Misalnya "aku merasa cemas dan mulai berpikir yang tidak-tidak saat kamu nggak ngasih kabar selama berjam-jam karena aku punya pengalaman buruk sebelumnya. Bisa tolong bantu aku merasa lebih aman dengan memberi kabar singkat?"

3. Berhenti Mengawasi secara Berlebihan

Perilaku monitoring yang obsesif, seperti mengecek ponsel pasangan secara sembunyi-sembunyi atau memantau following di Instagram, mungkin terasa menenangkan untuk sesaat.

Namun, perilaku ini justru memperkuat pola pikir bahwa pasangan tidak bisa dipercaya.

Cobalah untuk pelan-pelan melepaskan kontrol tersebut.

Hubungan yang sehat butuh ruang privasi agar rasa percaya bisa tumbuh secara alami.

4. Fokus pada Masa Kini dan Berhenti Menggali Masa Lalu

Sangat mudah untuk menarik kembali kesalahan masa lalu ke dalam pertengkaran hari ini sebagai senjata.

Namun, jika kamu dan pasangan sudah sepakat untuk memaafkan suatu kejadian, maka berhentilah menjadikannya sebagai alat intimidasi.

Fokuslah pada upaya perbaikan yang sedang dilakukan sekarang.

Biarkan masa lalu menjadi pelajaran, bukan penghalang kebahagiaanmu saat ini.

Mempraktikkan poin-poin di atas memang menantang, namun ini merupakan cara satu-satunya agar trust issue dalam hubungan tidak berubah menjadi pemisah antara kamu dengan orang yang kamu sayangi.

Menghadapi trust issue dalam hubungan memang bukan perjalanan yang instan.

Akan ada hari rasa cemas kembali muncul, dan itu adalah bagian dari proses pemulihan.

Hal yang paling krusial adalah kamu tidak membiarkan kecurigaan tersebut mengambil alih kemudi kebahagiaanmu.

Namun, jika kamu merasa terus-menerus terjebak dalam lingkaran kecurigaan yang sama hingga mengganggu kesehatan mental, mungkin itu tandanya kamu butuh perspektif tambahan dari para profesional.

Terapi atau konseling bisa membantu mengurai trauma masa lalu yang selama ini menjadi penyebab trust issue dalam hubungan yang sedang kamu jalani.

Sebagai langkah awal yang bisa kamu lakukan secara mandiri, buku A Guide Book To Trust Your Self karya Ares Ulia sangat pas untuk menemanimu berproses.

Buku ini membahas berbagai kondisi seperti mental breakdown, overthinking, burnout, serta permasalahan yang sering kali berhubungan dengan rasa tidak aman dalam diri.

Fokus utamanya adalah membantu pembaca merawat kesehatan fisik, pikiran, dan mental secara lebih seimbang.

Sebab, tidak jarang rasa curiga yang berlebihan muncul ketika kondisi mental sedang lelah atau tidak stabil.

Melalui buku ini, pembaca diajak untuk meningkatkan kesadaran dan mengenali diri sendiri sebagai fondasi utama sebelum belajar mempercayai orang lain.

Buku ini juga menjelaskan alasan mengapa otak sering memunculkan kekhawatiran yang sebenarnya belum tentu terjadi, sekaligus membahas cara mengelola pikiran agar tidak terjebak dalam kecemasan berlarut-larut.

Selain itu, buku ini membantu pembaca menyadari bahwa setiap individu memiliki potensi dan kekuatan yang lebih besar dari yang selama ini disadari.

Kekuatan tersebut berakar pada cara berpikir dan pola pemikiran yang kita bangun.

Buku A Guide Book To Trust Yourself bisa kamu dapatkan melalui Gramedia.com atau toko Gramedia terdekat.

Rekomendasi Buku Terkait

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau