Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

5 Cara Menghadapi Pasangan yang Punya Trust Issue

Kompas.com, 23 Februari 2026, 10:00 WIB
Cara Menghadapi Pasangan yang Punya Trust Issue Sumber Gambar: Freepik.com Cara Menghadapi Pasangan yang Punya Trust Issue
Rujukan artikel ini:
Set Boundaries
Pengarang: Nedra Glover Tawwab
Penulis Anggi
|
Editor Novia Putri Anindhita

Menjalin hubungan dengan seseorang yang selalu diliputi rasa curiga akan terasa sangat menguras emosi.

Meskipun sudah bersikap jujur, mereka seakan selalu mencari celah kesalahan.

Misalnya, saat telat membalas pesan, imajinasi mereka langsung menganggap kita telah melakukan pengkhianatan.

Kondisi ini memang melelahkan, namun penting untuk dipahami bahwa perilaku tersebut merupakan mekanisme pertahanan diri akibat luka masa lalu atau pengkhianatan yang membuatnya merasa tidak aman.

Oleh sebab itu, ketakutannya akan disakiti sering kali terlihat jauh lebih besar daripada rasa cintanya ke pasangan.

Situasi inilah yang menjadi alasan utama mengapa seseorang memiliki trust issue yang mendalam.

Menghadapi pasangan yang seperti ini memang sering kali memicu rasa marah apabila kita tidak mengerti akar permasalahannya.

Tidak jarang kita merasa tidak dihargai atau dianggap tidak setia.

Tapi, kalau kita mau mengubah sudut pandang dengan melihat kecurigaannya sebagai bentuk luka, bukan sekadar tuduhan, maka pendekatan kita akan jauh lebih tenang.

Daripada terus-menerus berperang dengan kecurigaannya, lebih baik simpan energi dan membangun komunikasi yang lebih baik agar hubungan tetap harmonis.

Alasan Psikologis Penyebab Trust Issue

Salah satu poin paling krusial dalam cara menghadapi pasangan yang punya trust issue adalah menyadari fakta bahwa kepercayaan itu tidak bisa dipaksakan apalagi diperintahkan.

Kamu tidak bisa menyuruh seseorang untuk percaya padamu hanya karena kamu merasa sudah melakukan hal yang benar.

Secara psikologis, kepercayaan adalah sebuah perasaan aman yang tumbuh secara organik, bukan sebuah tombol yang bisa dinyalakan kapan saja.

Pasanganmu mungkin membawa beban trauma pengkhianatan dari masa lalu yang begitu hebat hingga otaknya secara otomatis masuk ke mode bertahan hidup.

Berikut adalah beberapa alasan psikologis mengapa hal ini terjadi:

1. Mekanisme Hypervigilance

Otak pasanganmu sedang diprogram untuk selalu mencari tanda-tanda bahaya.

Baginya, setiap hal kecil, seperti kamu yang lupa mengabari atau mengubah jadwal mendadak adalah sinyal bahwa pengkhianatan lama akan terulang kembali.

2. Proyeksi Luka Lama

Sering kali apa yang dia rasakan sebenarnya bukan tentang kamu.

Dia sedang memproyeksikan rasa sakit dari orang yang menyakitinya dulu kepadamu.

Kamu menjadi sasaran dari rasa waswas yang sebenarnya milik orang lain di masa lalunya.

3. Ketakutan akan Kehilangan Kendali

Dengan terus bertanya "Kamu di mana?" atau "Sama siapa?", dia sebenarnya sedang berusaha mendapatkan rasa kendali atas rasa takutnya sendiri.

Baginya, tahu segala detail kegiatanmu adalah satu-satunya cara untuk menenangkan badai kecurigaan di kepalanya.

Dengan memahami sisi psikologis ini, kamu bisa merespons dengan lebih tenang.

Saat dia mulai curiga, kamu tidak akan langsung terpancing untuk defensif atau marah karena kamu tahu itu adalah sistem keamanan di dalam dirinya yang sedang mengalami malfungsi.

Namun, ingat satu hal, yaitu empati bukan berarti membiarkan dirimu dikontrol atau dituduh tanpa alasan.

Cara menghadapi pasangan yang punya trust issue yang sehat adalah soal keseimbangan mendukung proses kesembuhannya tanpa membiarkan dirimu kehilangan batasan (boundaries) dan hak atas privasimu sendiri.

Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium

Cara Menghadapi Pasangan yang Punya Trust Issue dalam Keseharian

Berikut beberapa langkah konkret yang menjadi cara menghadapi pasangan yang punya trust issue agar rasa percayanya tumbuh kembali secara bertahap.

1. Praktikkan Over-Communication di Tahap Awal

Jika kamu tahu suatu hal berpotensi memicu kecemasannya, seperti lembur mendadak atau bertemu teman lama, kabari dia lebih dulu sebelum dia bertanya.

Inisiatif ini adalah kunci untuk meruntuhkan tembok kecurigaannya.

2. Validasi Ketakutannya, Bukan Membenarkan Tuduhannya

Saat dia mulai curiga, alih-alih membalas dengan kemarahan, cobalah untuk memvalidasi emosinya.

Katakan padanya bahwa kamu mengerti rasa cemas yang sedang dia rasakan.

Berikan penjelasan ke padanya sejujur mungkin tanpa menyalahkan.

Cara ini menunjukkan bahwa kamu berada di pihaknya untuk melawan rasa takut tersebut.

3. Jadilah Pribadi yang Konsisten

Bagi seseorang dengan luka kepercayaan, ketidakpastian adalah ancaman.

Dengan menjadi orang yang konsisten, antara perkataan dan perbuatan, kamu sedang memberikan bukti nyata bahwa kamu layak dipercaya.

4. Hargai Kejujuran pada Hal-Hal Kecil

Jangan pernah berbohong untuk hal sepele, seperti bilang sudah di rumah padahal masih di jalan.

Bagi mereka, satu kebohongan kecil adalah awal untuk meragukan semua kebenaran besar lainnya.

5. Ajak Berdiskusi Tanpa Emosi

Pilih waktu saat kalian berdua sedang santai untuk bertanya, "Apa sih yang biasanya bikin kamu merasa insecure? Gimana cara aku bisa bantu kamu merasa lebih aman tanpa aku harus merasa terkekang?"

Merawat Kewarasan Diri Sendiri dalam Menghadapi Pasangan dengan Trust Issue

Jangan sampai karena terlalu fokus mencari cara menghadapi pasangan yang punya trust issue, kamu malah kehilangan dirimu sendiri.

Kamu tidak bisa menjadi satu-satunya sumber penyembuh baginya.

Pasanganmu harus punya kemauan untuk memproses traumanya sendiri, entah itu melalui terapi, bantuan profesional, atau literasi mandiri.

Tugasmu adalah menjadi mitra yang suportif, bukan menjadi perawat emosionalnya selama 24 jam.

Hubungan yang sehat membutuhkan dua orang yang sama-sama berjuang untuk sehat.

Jika hanya kamu yang berusaha membuktikan kesetiaan sementara dia menolak untuk mencoba percaya, maka hubungan itu akan menjadi pincang.

Nah, sering kali konflik soal kepercayaan muncul karena kita tidak paham cara kerja emosi dan batasan (boundaries) yang sehat.

Di sinilah banyak orang terjebak, saking inginnya membuktikan kesetiaan, kita malah membiarkan pasangan "menjajah" privasi kita habis-habisan.

Padahal, hubungan yang langgeng justru butuh pagar yang jelas agar kedua belah pihak tetap bisa bernapas.

Untuk membantu kamu menyeimbangkan hal ini, buku Set Boundaries karya Nedra Glover Tawwab adalah panduan yang sangat pas.

Nedra menjelaskan dengan sangat lugas bahwa batasan itu bukan untuk menjauhkan orang, tapi untuk melindungi energi dan kewarasanmu sendiri.

Dalam konteks cara menghadapi pasangan yang punya trust issue, buku ini memberikan pencerahan soal bagaimana tetap suportif tanpa membiarkan diri kamu didikte atau kehilangan kehidupan pribadi.

Kamu akan belajar menentukan sejauh mana orang lain, termasuk pasangan boleh masuk ke area pribadimu sehingga hubungan kalian tidak berubah menjadi beban.

Kalau kamu merasa mulai kehilangan jati diri karena terus-menerus mencoba menenangkan kecurigaan pasangan, buku ini bisa jadi kompas buat balik lagi ke jalur yang sehat.

Segera pesan dan dapatkan bukunya sekarang juga di Gramedia.com atau Gramedia Digital untuk versi e-book.

Rekomendasi Buku Terkait

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau