Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Masa Kejayaan Kerajaan Singasari: Puncak Ambisi Nusantara Sebelum Majapahit

Kompas.com, 28 Januari 2026, 12:00 WIB
Masa Kejayaan Kerajaan Singasari Sumber Gambar: Kompas.com  Masa Kejayaan Kerajaan Singasari
Rujukan artikel ini:
Pararaton: Biografi Para Raja Singhasari-Majapahit
Pengarang: Heri Purwanto
Penulis Vadiyah
|
Editor Novia Putri Anindhita

Kerajaan Singasari tidak hanya kuat secara politik di Jawa Timur, tetapi juga memiliki pengaruh kuat ke wilayah lain di Nusantara.

Puncak kejayaan ini terjadi saat kekuasaan dipegang Raja Kertanegara, sosok pemimpin yang berani, cerdas, dan visioner.

Dalam masa pemerintahannya, Kertanegara tidak merasa puas dengan hanya menjadi penguasa regional di tanah Jawa.

Ia memiliki ambisi untuk membangun kekuatan Nusantara berdiri sejajar dengan kekuatan asing yang mulai mengincar Asia Tenggara.

Ambisi ini bukan sekadar wacana.

Kertanegara mewujudkannya melalui langkah-langkah strategis, mulai dari memperluas pengaruh politik, memperkuat militer, dan membangun hubungan dengan kerajaan lain di luar Jawa.

Dari sini, Singasari perlahan berubah dari kerajaan regional menjadi cikal bakal kekuatan besar Nusantara.

Untuk lebih jelasnya, berikut penjelasan mengenai masa kejayaan Kerajaan Singasari.

Masa Kejayaan Kerajaan Singasari

Masa kejayaan Singasari berlangsung pada pemerintahan Raja Kertanegara, sekitar tahun 1272–1292 M.

Pada saat periode ini Singasari berada di titik paling kuat, paling berpengaruh, dan paling ambisius.

Di bawah kepemimpinan Kertanegara, Singasari mulai tampil sebagai kerajaan yang memiliki pengaruh di Nusantara.

Namun, ancaman datang dari kekuatan asing seperti Dinasti Mongol.

Oleh karena itu, Kertanegara memilih langkah berani, mulai ofensif terlebih dulu dengan memperluas pengaruh, membangun militer kuat, dan menegakkan jalur perdagangan.

Empat hal yang membuat masa ini berbeda:

  • Kepemimpinan visioner Kertanegara melihat Nusantara sebagai satu kesatuan dan membuat keputusan strategis jauh ke depan.
  • Ekspansi wilayah ke luar Jawa melalui Ekspedisi Pamalayu membuat pengaruh Singasari meluas ke Sumatra, Bali, Kalimantan, Nusa Tenggara, bahkan sebagian Maluku.
  • Stabilitas politik dan militer memungkinkan penguasaan wilayah yang luas tanpa terlalu bergantung pada kekuatan langsung.
  • Kemajuan budaya dan agama Hindu-Buddha menciptakan toleransi dan memperkaya budaya kerajaan.

Faktor-Faktor yang Membuat Masa Kejayaan Kerajaan Singasari

1. Kepemimpinan Visioner Raja Kertanegara

Raja Kertanegara bukan raja yang hanya sibuk mengurus urusan dalam negeri.

Alih-alih puas dengan penguasaan lokal di Jawa Timur, Ia membayangkan sebuah kerajaan yang berpengaruh di seluruh Nusantara.

Kertanegara juga memahami pentingnya hubungan diplomatik, perdagangan, dan pertahanan.

Oleh karena itu, Ia memimpin dengan cara yang menggabungkan keberanian, kecerdasan strategi, dan pemikiran jauh ke depan.

Hal ini yang membuat Singasari tampil beda dari kerajaan-kerajaan sekitarnya.

2. Ekspansi Wilayah ke Luar Pulau Jawa

Ekspedisi Pamalayu ke Sumatra menjadi bukti nyata visi besar Kertanegara.

Langkah ini bukan sekadar penaklukan wilayah, tetapi strategi untuk memperkuat jaringan politik, mengamankan jalur perdagangan, dan membangun pengaruh di Nusantara.

Selain Sumatra, pengaruh Singasari juga meluas ke:

  • Bali, pulau penting di jalur pelayaran, penghubung antara Jawa dan timur Nusantara.
  • Kalimantan, kaya sumber daya, memberikan nilai ekonomi sekaligus pengaruh politik.
  • Nusa Tenggara, jalur strategis yang menghubungkan Jawa, Bali, dan timur Nusantara.
  • Maluku, daerah penghasil rempah, menambah daya tawar Singasari dalam perdagangan internasional.

Dengan ekspansi ini, Singasari bukan hanya memperluas wilayah, tapi juga membangun jaringan kekuasaan dan jalur perdagangan yang saling terhubung.

3. Stabilitas Politik dan Militer

Ekspansi wilayah tentu tidak akan berhasil tanpa dukungan militer yang kuat.

Singasari memiliki angkatan bersenjata yang terorganisasi dengan baik, mampu menekan pemberontakan dalam negeri sekaligus menjalankan ekspedisi jauh ke luar Jawa.

Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium

Stabilitas ini memungkinkan kerajaan:

  • Mengontrol wilayah yang semakin luas tanpa kehilangan kendali.
  • Menjamin keamanan jalur perdagangan dan pelayaran.
  • Memberikan ruang bagi pertumbuhan ekonomi dan budaya yang berkelanjutan.
  • Dengan kata lain, kekuatan politik dan militer menjadi tulang punggung yang menopang semua ambisi besar Singasari.

4. Kemajuan Agama dan Budaya

Masa kejayaan Singasari juga ditandai oleh perkembangan budaya dan praktik keagamaan yang unik.

Raja Kertanegara dikenal sebagai penganut ajaran Siwa-Buddha yang mencerminkan upaya menyatukan dua tradisi besar.

Pendekatan ini menciptakan suasana toleran, memperkaya kehidupan spiritual, sekaligus mendorong kemajuan seni dan sastra.

Beberapa bukti nyata:

  • Prasasti dan arca yang mencatat peristiwa penting dan simbol kekuasaan raja.
  • Sastra dan karya seni yang memperlihatkan tingkat peradaban tinggi dan identitas budaya Singasari.
  • Tradisi religius yang harmonis, menunjukkan bahwa kemajuan budaya dan agama sejalan dengan strategi politik dan ekonomi kerajaan.

Wilayah Kekuasaan dan Ekspedisi Pamalayu: Ambisi Besar Singasari dalam Praktek

Pada masa kejayaannya, Singasari tidak hanya menguasai Jawa Timur, tapi juga memengaruhi banyak wilayah strategis Nusantara.

Dari pusat kekuasaan di Jawa Timur, pengaruhnya merambah Jawa Tengah, Sumatra melalui Ekspedisi Pamalayu, Bali, Kalimantan, dan Nusa Tenggara.

Ekspedisi Pamalayu menjadi simbol nyata ambisi Singasari.

Memiliki tujuan sebagai berikut:

  • Mengamankan jalur perdagangan Selat Malaka
  • Menyatukan kerajaan lokal menghadapi ancaman Mongol
  • Membangun jaringan politik yang menguntungkan Nusantara

Langkah ini kemudian menjadi inspirasi bagi Majapahit, yang melanjutkan visi penyatuan Nusantara yang Kertanegara mulai rintis.

Kehidupan Ekonomi, Akhir Kejayaan, dan Warisan Kerajaan Singasari

Kejayaan Singasari tidak hanya dibangun lewat kekuatan politik dan militer, tapi juga melalui ekonomi yang kuat dan terintegrasi.

Letak strategis Jawa Timur membuat kerajaan ini dengan mudah mengontrol jalur perdagangan antar wilayah.

Hasil pertanian seperti padi, rempah, kayu, serta kerajinan lokal menjadi sumber daya penting yang mendukung.

Perdagangan antarpulau membuat Singasari terkoneksi dengan berbagai kerajaan di Nusantara sehingga stabilitas ekonomi memungkinkan kerajaan membiayai semua aktivitas besar dari militer, administrasi, hingga budaya dan seni.

Dengan kata lain, kejayaan Singasari muncul karena semua aspek kehidupan kerajaan berjalan selaras.

Sayangnya, masa gemilang Singasari tidak berlangsung lama.

Pada 1292 M, pemberontakan yang dipimpin Jayakatwang dari Kediri mengguncang kerajaan.

Raja Kertanegara gugur, dan Singasari runtuh.

Namun, meski kerajaan fisiknya hilang, Singasari meninggalkan beberapa warisan penting yang terus memengaruhi sejarah Nusantara, antara lain:

  • Gagasan penyatuan Nusantara – Pandangan Singasari tentang kepulauan ini sebagai satu kesatuan politik menjadi fondasi ide persatuan Nusantara di era Majapahit.
  • Strategi ekspansi maritim dan diplomasi – Menunjukkan bahwa pengaruh bisa diperluas tidak hanya lewat penaklukan militer, tetapi juga lewat hubungan politik dan perdagangan.
  • Toleransi budaya melalui sinkretisme Hindu-Buddha – Menguatkan kehidupan sosial dan seni budaya, sekaligus memperlihatkan kematangan peradaban Singasari.

Jejak-jejak ini akhirnya menjadi fondasi langsung bagi kejayaan Majapahit yang meneruskan cita-cita besar penyatuan Nusantara.

Untuk memahami apa yang terjadi pada Singasari pada saat itu secara lebih utuh langsung dari sumber kisahnya, Pararaton: Biografi Para Raja Singhasari-Majapahit menjadi bacaan yang relevan dan menarik untuk dibaca.

Pararaton merupakan naskah Jawa Pertengahan yang merekam perjalanan raja-raja Singhasari hingga Majapahit, dari masa Ken Angrok sampai runtuhnya Majapahit.

Buku ini menyajikan teks asli lengkap dengan terjemahan dan ulasan sejarah sehingga kamu bisa melihat bagaimana kisah-kisah besar itu dibangun, diperdebatkan, dan ditafsirkan oleh para sejarawan.

Di dalamnya, pembaca akan menemukan cerita tentang Ken Angrok dan Ken Dedes, kutukan Mpu Gandring, konflik berdarah antara raja Singhasari, hingga kelanjutan kisah Raden Wijaya, kedatangan pasukan Mongol, dan dinamika Majapahit.

Menariknya, buku ini tidak menempatkan semua kisah sebagai kebenaran mutlak, melainkan mengajak pembaca memahami sisi historis sekaligus polemik di baliknya.

Dapatkan segera bukunya hanya di Gramedia.com.

Rekomendasi Buku Terkait

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau