Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bukti Peninggalan Kerajaan Kutai: Jejak Sejarah Kerajaan Hindu Tertua di Indonesia

Kompas.com, 19 Februari 2026, 11:00 WIB
Bukti Peninggalan Kerajaan Kutai (Replika Yupa) Sumber Gambar: Wikimedia/Ezagren   Bukti Peninggalan Kerajaan Kutai (Replika Yupa)
Rujukan artikel ini:
Jejak Kejayaan Kerajaan-Kerajaan di Nusantara
Pengarang: Litbang Kompas
Penulis Nadia
|
Editor Novia Putri Anindhita

Kerajaan Kutai merupakan kerajaan Hindu tertua di Indonesia yang memiliki peran penting dalam sejarah awal Nusantara.

Keberadaan kerajaan ini tidak hanya diketahui melalui cerita lisan, tetapi juga didukung oleh bukti peninggalan sejarah yang dapat ditelusuri hingga kini.

Bukti peninggalan Kerajaan Kutai menjadi dasar utama bagi para sejarawan untuk memahami perkembangan awal sistem pemerintahan, agama, dan kehidupan sosial masyarakat Indonesia.

Pembahasan mengenai bukti peninggalan Kerajaan Kutai penting karena peninggalan tersebut menjadi saksi nyata keberadaan kerajaan pada masa lampau.

Melalui peninggalan ini, kita dapat mengetahui bagaimana Kerajaan Kutai berkembang dan memberi pengaruh besar dalam perjalanan sejarah Indonesia.

Kerajaan Kutai dalam Sejarah Nusantara

Kerajaan Kutai dikenal dengan nama Kerajaan Kutai Martadipura dan diperkirakan mulai berkembang sekitar abad ke-4 Masehi.

Kerajaan ini berlokasi di wilayah Kalimantan Timur, tepatnya di sepanjang aliran Sungai Mahakam yang menjadi pusat aktivitas masyarakat pada masa itu.

Letak geografis tersebut sangat strategis karena sungai berfungsi sebagai jalur transportasi utama yang menghubungkan wilayah pedalaman dengan daerah pesisir.

Selain itu, Sungai Mahakam juga berperan penting dalam mendukung kegiatan perdagangan, pertukaran budaya, serta penyebaran pengaruh Hindu di kawasan tersebut.

Disebutkan juga Kerajaan Kutai diperintah oleh raja-raja, yaitu Kudungga, Aswawarman, dan Mulawarman.

Dalam sejarah Nusantara, Kerajaan Kutai menempati posisi penting sebagai kerajaan bercorak Hindu pertama di Indonesia.

Keberadaannya menandai awal masuknya pengaruh Hindu ke wilayah Nusantara yang kemudian memengaruhi sistem pemerintahan, kepercayaan, dan budaya masyarakat setempat.

Pengaruh ini tidak hanya terlihat pada aspek religi, tetapi juga tercermin dalam penggunaan bahasa Sanskerta dan aksara Pallawa pada prasasti-prasasti peninggalannya.

Dari Kutai, jejak peradaban Hindu tersebut menjadi fondasi bagi perkembangan kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha lain di berbagai wilayah Indonesia.

Bukti Peninggalan Utama Kerajaan Kutai

Prasasti Yupa merupakan bukti peninggalan Kerajaan Kutai yang paling utama dan paling dikenal.

Prasasti ini berbentuk tugu batu yang digunakan sebagai tempat mengikat hewan kurban dalam upacara keagamaan Hindu.

Hingga kini, prasasti Yupa menjadi sumber tertulis tertua dalam sejarah Indonesia.

Prasasti Yupa ditemukan di wilayah Muara Kaman, Kalimantan Timur.

Jumlah prasasti Yupa yang ditemukan mencapai beberapa buah dan semuanya memiliki bentuk serta fungsi yang serupa.

Keberadaan prasasti ini membuktikan bahwa Kerajaan Kutai telah memiliki sistem keagamaan dan tradisi ritual yang terstruktur.

Isi Prasasti Yupa dan Informasi Sejarah yang Dikandung

Prasasti Yupa ditulis menggunakan aksara Pallawa dan bahasa Sanskerta.

Penggunaan bahasa dan aksara ini menunjukkan kuatnya pengaruh budaya India dalam kehidupan Kerajaan Kutai.

Isi prasasti Yupa mencantumkan nama raja-raja Kerajaan Kutai, yaitu Kudungga, Aswawarman, dan Mulawarman.

Salah satu informasi penting dalam prasasti Yupa adalah catatan tentang kedermawanan Raja Mulawarman.

Disebutkan bahwa ia memberikan sedekah berupa ribuan ekor sapi kepada kaum brahmana.

Informasi ini menunjukkan bahwa Kerajaan Kutai berada dalam kondisi ekonomi yang makmur dan stabil.

Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium

Makna Prasasti Yupa bagi Sejarah Kerajaan Kutai

Prasasti Yupa memiliki makna yang sangat penting bagi sejarah Kerajaan Kutai.

Prasasti ini menjadi bukti masuknya pengaruh Hindu ke Nusantara secara nyata dan terstruktur.

Selain itu, prasasti Yupa juga menunjukkan adanya sistem pemerintahan kerajaan yang telah mapan.

Melalui prasasti Yupa, diketahui bahwa raja memiliki kedudukan penting tidak hanya sebagai pemimpin politik, tetapi juga sebagai pelindung agama.

Hubungan erat antara raja dan kaum brahmana menjadi ciri khas kehidupan keagamaan Kerajaan Kutai.

Bukti Peninggalan Kerajaan Kutai Lainnya

Selain prasasti Yupa, bukti peninggalan Kerajaan Kutai memang tidak banyak ditemukan.

Keterbatasan ini dipengaruhi oleh kondisi alam dan lingkungan sekitar wilayah kerajaan.

Meski demikian, sejumlah temuan arkeologis tetap menjadi penunjang penting dalam membuktikan keberadaan Kerajaan Kutai, di antaranya:

  • Kondisi geografis dan iklim tropis di wilayah Sungai Mahakam menyebabkan benda-benda peninggalan mudah mengalami pelapukan sehingga tidak banyak artefak yang bertahan hingga kini.
  • Situs-situs arkeologis di sekitar Sungai Mahakam menunjukkan adanya aktivitas manusia pada masa Kerajaan Kutai yang menjadi petunjuk keberadaan pusat kehidupan kerajaan.
  • Batu-batu ritual yang ditemukan diduga digunakan dalam upacara keagamaan, mencerminkan praktik spiritual masyarakat Kutai pada masa itu.
  • Sisa-sisa aktivitas keagamaan menjadi indikasi kuat adanya sistem kepercayaan yang terorganisir dalam kehidupan sosial Kerajaan Kutai.

Meskipun jumlah peninggalannya relatif terbatas dibandingkan kerajaan-kerajaan besar lainnya di Nusantara, temuan-temuan ini tetap memperkuat bukti sejarah bahwa Kerajaan Kutai pernah berdiri dan berkembang sebagai salah satu kerajaan tertua di Indonesia.

Bukti Peninggalan Kerajaan Kutai dalam Konteks Indonesia Modern

Di Indonesia modern, bukti peninggalan Kerajaan Kutai memiliki peran penting dalam pendidikan sejarah.

Prasasti Yupa kini disimpan dan dirawat sebagai benda cagar budaya.

Peninggalan ini menjadi sumber pembelajaran bagi generasi muda untuk mengenal sejarah awal Nusantara.

Upaya pelestarian terus dilakukan oleh pemerintah dan lembaga terkait agar bukti peninggalan Kerajaan Kutai tetap terjaga.

Pelestarian ini bertujuan agar nilai sejarah dan budaya yang terkandung di dalamnya tidak hilang oleh perkembangan zaman.

Beberapa Hal Penting tentang Bukti Peninggalan Kerajaan Kutai

Bukti peninggalan Kerajaan Kutai memberikan gambaran penting tentang keberadaan dan kehidupan kerajaan tertua di Indonesia.

Dari berbagai temuan yang ada, beberapa hal berikut menjadi poin utama yang perlu diperhatikan:

Prasasti Yupa sebagai peninggalan utama ditemukan di Muara Kaman dan menjadi sumber sejarah terpenting Kerajaan Kutai.

Isi prasasti Yupa memuat informasi mengenai raja-raja Kutai, silsilah kekuasaan, serta gambaran kehidupan sosial dan keagamaan pada masa itu.

Minimnya peninggalan fisik lainnya disebabkan oleh faktor lingkungan dan usia artefak sehingga memperkuat peran prasasti Yupa sebagai sumber primer.

Nilai historis prasasti Yupa sangat tinggi karena menjadi dasar utama dalam kajian awal sejarah dan perkembangan kerajaan di Indonesia.

Dengan keterbatasan peninggalan yang ada, prasasti Yupa tetap menjadi bukti kunci yang menegaskan eksistensi Kerajaan Kutai serta perannya dalam sejarah Nusantara.

Bukti peninggalan Kerajaan Kutai memberikan gambaran jelas tentang awal perkembangan kerajaan dan peradaban di Indonesia.

Prasasti Yupa sebagai peninggalan utama menjadi saksi sejarah kejayaan Kerajaan Kutai dan peran pentingnya dalam sejarah Nusantara.

Untuk memperdalam pemahaman tentang raja-raja dan kejayaan kerajaan di Indonesia, buku Jejak Kejayaan Kerajaan-Kerajaan di Nusantara dapat menjadi referensi yang relevan.

Buku ini membahas berbagai kerajaan besar yang pernah berjaya di Nusantara, termasuk apa saja yang menjadi peninggalan Kerajaan Kutai saat peradabannya.

Melalui pembahasan yang ringkas dan mudah dipahami, kamu dapat melihat keterkaitan antara Kerajaan Kutai dan kerajaan-kerajaan lain dalam sejarah Indonesia.

Buku ini dapat ditemukan dan dibaca melalui Gramedia Digital.

Rekomendasi Buku Terkait

Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau