Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Nama Raja Kerajaan Singasari dan Perannya dalam Sejarah Nusantara 

Kompas.com, 10 Februari 2026, 11:00 WIB
Nama Raja Kerajaan Singasari  Sumber Gambar: wikimedia.org/ESCapade Nama Raja Kerajaan Singasari 
Rujukan artikel ini:
Tahta Kerajaan-Kerajaan Jawa : Kemelut…
Pengarang: Dwi Lestari
Penulis Vadiyah
|
Editor Novia Putri Anindhita

Kerajaan Singasari merupakan kerajaan Hindu-Buddha yang berdiri pada abad ke-13 M, bermula di wilayah Tumapel kabupaten Malang, Jawa Timur.

Pada awalnya, kawasan ini bukan pusat kekuasaan besar.

Namun, dari ruang geografis yang relatif terbatas inilah sebuah kerajaan lahir dan perlahan membentuk pengaruh yang menjalar ke berbagai wilayah di Nusantara.

Hal yang membuat Singasari berbeda adalah cara kekuasaannya terbentuk.

Kerajaan Singasari tidak lahir dari garis keturunan bangsawan mapan, melainkan dari pergulatan sosial dan politik yang keras.

Ken Arok, tokoh sentral pendiri Singasari, berasal dari latar belakang rakyat biasa.

Perjalanan hidupnya diwarnai intrik, keberanian mengambil risiko, dan ambisi besar untuk mengubah nasib.

Dengan kecerdikan dan strategi politik, ia berhasil menyingkirkan penguasa Tumapel dan mendirikan dinasti baru yang kemudian dikenal sebagai Wangsa Rajasa.

Sejak momen itulah Singasari mulai menegaskan dirinya sebagai kerajaan Hindu-Buddha yang berpengaruh.

Namun, fondasi kekuasaan yang lahir dari konflik turut membentuk karakter pemerintahannya.

Pergantian raja di Singasari hampir selalu berlangsung dalam suasana tegang.

Tahta kerajaan jarang berpindah secara damai karena proses suksesi kerap diwarnai oleh dendam keluarga, perebutan legitimasi kekuasaan, serta kekerasan yang seolah menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan politik Singasari.

Kondisi inilah yang membuat nama raja Kerajaan Singasari tidak dapat dipahami secara terpisah.

Setiap raja merupakan bagian dari satu rangkaian peristiwa yang saling berkaitan, mewarisi bukan hanya tahta, tetapi juga konflik, keputusan, dan konsekuensi dari masa pemerintahan sebelumnya.

Oleh sebab itu, kisah naik-turunnya kerajaan Singasari terbentuk sebagai rangkaian sejarah yang saling terkait dan sulit dipisahkan.

Daftar Nama Raja Kerajaan Singasari dan Perannya dalam Sejarah

Secara historis, terdapat lima nama raja yang tercatat memimpin Kerajaan Singasari.

Masing-masing membawa peran berbeda, ada yang menjadi pendiri, penstabil, hingga pemimpin terbesar kerajaan ini.

Berikut urutan nama raja Kerajaan Singasari beserta peran pentingnya.

1. Ken Arok (1222–1227 M)

Ken Arok adalah pendiri sekaligus raja pertama Kerajaan Singasari.

Ia naik ke tahta setelah menyingkirkan Tunggul Ametung dan menikahi Ken Dedes, sosok yang dipercaya membawa “wahyu keprabon”.

Pada 1222 M, Ken Arok dinobatkan sebagai raja dengan gelar Sri Ranggah Rajasa Bhatara Amurwabhumi.

Meski masa pemerintahannya singkat, Ken Arok meletakkan fondasi kekuasaan yang sangat kuat.

Dari garis keturunannya lahir raja-raja besar hingga era Majapahit.

Namun, hidupnya berakhir tragis ketika ia dibunuh oleh Anusapati, anak tirinya sendiri.

2. Anusapati (1227–1248 M)

Anusapati, putra Ken Dedes, memimpin Singasari dengan gaya yang lebih tenang.

Ia tidak dikenal sebagai raja ekspansionis, melainkan fokus menjaga stabilitas kerajaan.

Namun, bayang-bayang masa lalu terus menghantuinya.

Dendam keluarga menjadi bom waktu yang akhirnya meledak.

Anusapati dibunuh oleh Tohjaya, putra Ken Arok dari istri lain, yang merasa berhak atas tahta Singasari.

3. Tohjaya (1248 M)

Tohjaya tercatat sebagai raja dengan masa pemerintahan paling singkat.

Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium

Ia naik tahta melalui kekerasan, tanpa dukungan kuat dari bangsawan dan pejabat istana.

Penolakan dari dalam kerajaan membuat pemerintahannya rapuh sejak awal.

Tak lama kemudian, ia digulingkan oleh Ranggawuni dan Mahisa Cempaka.

Pemerintahan Tohjaya menjadi simbol fase paling kacau dalam sejarah Singasari.

4. Ranggawuni (Wisnuwardhana) (1248–1268 M)

Ranggawuni, bergelar Wisnuwardhana, dikenal sebagai raja penstabil Kerajaan Singasari.

Setelah periode konflik berdarah, ia memilih jalan rekonsiliasi dan pembenahan internal.

Administrasi kerajaan diperkuat, hubungan dengan daerah bawahan diperbaiki, dan keamanan dalam negeri dipulihkan.

Masa pemerintahannya menjadi jeda penting sebelum Singasari melangkah menuju puncak kejayaan.

5. Kertanegara (1268–1292 M)

Kertanegara adalah raja terakhir sekaligus raja terbesar Kerajaan Singasari.

Di masa kepemimpinannya, Singasari mencapai kejayaan tertinggi.

Ia memiliki visi besar untuk menyatukan wilayah Nusantara, salah satunya melalui Ekspedisi Pamalayu ke Sumatera.

Kertanegara juga dikenal berani menolak tekanan Dinasti Yuan dari Tiongkok.

Namun, fokusnya pada ekspansi luar negeri membuat pertahanan dalam negeri melemah.

Pemberontakan Jayakatwang dari Kediri akhirnya mengakhiri kekuasaan Singasari pada 1292 M.

Pola Perebutan Tahta dalam Sejarah Raja-Raja Jawa

Jika ditarik benang merahnya, kisah nama raja Kerajaan Singasari saling berkaitan satu sama lain.

Pergantian tahta yang penuh intrik, konflik keluarga, dan kudeta berdarah menunjukkan satu pola besar dalam sejarah Jawa, yakni kekuasaan hampir selalu diperebutkan dengan cara keras.

Apa yang terjadi di Singasari hanyalah satu potongan dari dinamika panjang kerajaan-kerajaan Jawa.

Sejak abad ke-7 M, Jawa telah mengenal kehidupan bernegara.

Pusat kekuasaan yang awalnya berkembang di Jawa Tengah kemudian bergeser ke Jawa Timur dan bertahan selama berabad-abad.

Dalam rentang waktu tersebut, pergantian raja jarang berlangsung tenang.

Kerajaan Singasari memperlihatkan pola tersebut dengan sangat jelas.

Mulai dari Ken Arok hingga Kertanegara, tahta selalu berada dalam posisi rapuh.

Hubungan keluarga bisa berubah menjadi permusuhan, sementara sekutu dengan mudah berbalik arah ketika kepentingan bergeser.

Di balik semua itu, kursi raja bukan sekadar jabatan, melainkan simbol prestise tertinggi dan pusat kekuasaan.

Oleh karena itulah, tahta menjadi sesuatu yang diperebutkan tanpa kompromi, sebuah pola yang terus berulang dalam sejarah kerajaan-kerajaan Jawa.

Untuk memahami lebih jauh bagaimana tahta menjadi pusat konflik politik dan simbol prestise tertinggi dalam sejarah Jawa, buku Tahta Kerajaan-Kerajaan Jawa: Kemelut Kekuasaan Raja-Raja Jawa dapat menjadi referensi yang tepat.

Buku ini mengulas bagaimana runtuhnya kerajaan-kerajaan di Jawa akibat perebutan tahta.

Mulai dari Kerajaan Medang hingga Mataram Islam yang kemudian pecah menjadi Surakarta dan Yogyakarta, kisah perebutan kekuasaan, perilaku para raja Jawa pada masa itu, hingga cara mereka naik tahta dan menjalankan pemerintahan.

Seluruh pembahasan disajikan secara runtut sehingga memudahkan pembaca memahami benang merah konflik kekuasaan dalam sejarah kerajaan-kerajaan Jawa.

Buku ini cocok dibaca setelah mengenal nama raja Kerajaan Singasari karena dapat membantu melihat gambaran yang lebih luas, bahwa konflik di Singasari bukan anomali, melainkan bagian dari pola panjang sejarah Jawa.

Baca selengkapnya dan dapatkan segera bukunya hanya di Gramedia.com.

Rekomendasi Buku Terkait

Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau