Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Cara Melupakan Seseorang yang Tidak Bisa Kita Miliki

Kompas.com, 27 November 2025, 14:00 WIB
Cara Melupakan Seseorang yang Kita Cintai yang Bukan Milik Kita Sumber Gambar: Freepik.com  Cara Melupakan Seseorang yang Kita Cintai yang Bukan Milik Kita
Rujukan artikel ini:
Pulih dari Trauma: Berkenalan dengan…
Pengarang: Dr Jiemi Ardian
Penulis Rofik
|
Editor Novia Putri Anindhita

Melupakan seseorang yang tidak bisa kita miliki bukanlah hal yang mudah karena perasaan yang sudah terlanjur tumbuh sering kali meninggalkan jejak mendalam di hati.

Harapan, penyesalan, dan kelekatan sering kali membuat kita sulit untuk melepaskan, meskipun tahu hubungan itu tidak mungkin terjadi.

Oleh sebab itu, penting bagi kamu untuk memahami cara melepaskan dengan cara yang sehat agar mentalmu tetap kuat dan tidak terseret dalam rasa sakit yang berkepanjangan.

Mengapa Sulit Melupakan Seseorang yang Bukan Milik Kita?

1. Perasaanmu Terhubung dengan Harapan yang Tidak Pernah Selesai

Kamu sulit melupakan seseorang yang bukan milikmu karena perasaan itu tumbuh dari harapan yang tidak pernah benar-benar kamu dapatkan jawabannya.

Harapan yang menggantung membuat otak terus menciptakan kemungkinan baru, seperti “mungkin suatu hari bisa,” “mungkin dia juga merasa sama,” atau “mungkin waktunya belum tepat,” padahal semua itu hanya ilusi yang membuatmu semakin terikat.

Ketika harapan tidak ditutup secara jelas, hati cenderung kembali ke titik yang sama sehingga proses melepaskan terasa jauh lebih berat daripada hubungan yang memang punya akhir yang tegas.

2. Otak Cenderung Mengidealkan Seseorang yang Tidak Bisa Dimiliki

Seseorang yang tidak bisa kamu miliki sering tampil dalam bentuk “versi terbaik” di kepala kamu, bukan versi nyata yang penuh kekurangan.

Ketika kamu mengidealkan seseorang, otak akan memilih hanya mengingat hal-hal indah, perhatian kecil, atau momen yang membuatmu merasa spesial sehingga gambaran tentang dirinya lebih sempurna daripada kenyataan.

Akibatnya, kamu tidak hanya melepas orangnya, tetapi juga versi ideal yang kamu ciptakan sendiri.

3. Hubungan yang Tidak Terjadi Menciptakan “Ruang Kosong” di Dalam Pikiran

Hubungan yang tidak pernah benar-benar terjadi sering kali justru meninggalkan imajinasi tentang apa yang bisa terjadi seandainya kamu bersama.

Ruang kosong inilah yang kemudian diisi oleh fantasi, skenario, dan kemungkinan yang membuatmu merasa masih ada potensi untuk memiliki dia.

Semakin besar ruang kosong itu, semakin sulit kamu memisahkan mana yang keinginan dan mana yang kenyataan sehingga pelepasan terasa seperti kehilangan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah kamu pegang.

4. Ada Keterikatan Emosional yang Terbentuk

Kamu mungkin terikat bukan karena hubungan besar, tetapi karena momen kecil yang membuat hatimu tersentuh, seperti obrolan ringan, perhatian sederhana, atau kenyamanan saat kamu berada di dekatnya.

Momen-momen kecil ini sering menjadi pemicu yang membuat seseorang terus kembali ke pikiranmu meskipun secara logika kamu tahu dia bukan milikmu.

Keterikatan seperti ini membuat hati sulit melepaskan karena ada bagian dalam dirimu yang merasa sedang kehilangan sesuatu yang pernah membuatmu merasa hidup.

5. Masih Ada Ilusi bahwa Kamu Bisa Mengubah Keadaan

Salah satu hal yang membuat proses melupakan jadi lama adalah keyakinan bahwa keadaan bisa berubah jika kamu berusaha lebih keras, lebih sabar, atau lebih sempurna.

Padahal kenyataan bahwa seseorang bukan milik kamu biasanya sudah terlihat jelas, hanya saja kamu menundanya karena takut menerima kenyataan pahit.

Selama ilusi ini belum kamu lepaskan, hati akan terus terjebak dalam lingkaran berharap dan kecewa, yang akhirnya membuat proses move on terasa seperti perjalanan tanpa ujung.

6. Perasaanmu Terhubung dengan Kebutuhan Emosional yang Pernah Terpenuhi

Meskipun hubungan itu tidak terjadi, mungkin ada rasa nyaman, dipahami, atau dihargai yang pernah kamu terima darinya.

Ketika kebutuhan emosional ini terpenuhi, otak mencatatnya sebagai sesuatu yang penting sehingga kamu merasa kehilangan ketika hal itu tidak lagi tersedia.

Inilah yang membuat kamu bukan hanya merindukan orangnya, tetapi juga perasaan yang muncul ketika ada di dekatnya.

Cara Melupakan Seseorang yang Bukan Milik Kita

1. Terima Kenyataan bahwa Perasaanmu Tidak Bisa Terbalas

Langkah pertama untuk melupakan seseorang adalah menerima kenyataan bahwa hubungan itu memang tidak bisa terjadi.

Bukan karena kamu tidak cukup baik, tetapi karena memang tidak ada kesesuaian situasi.

Penerimaan membantu hati berhenti melawan kenyataan sehingga kamu tidak lagi menaruh harapan baru yang justru memperlambat proses healing.

Semakin cepat kamu berdamai dengan fakta bahwa dia bukan milikmu, semakin ringan langkahmu untuk benar-benar melepaskan.

2. Beri Jarak agar Ikatan Emosional Perlahan Melemah

Memberi jarak, baik secara fisik maupun digital adalah cara efektif untuk mencegah hati semakin terbawa suasana.

Jarak ini bukan bentuk pelarian, tetapi langkah sadar agar pikiranmu punya ruang untuk pulih tanpa terus diterpa pemicu emosional.

Ketika kamu menghentikan stimulus yang menguatkan perasaan, otak perlahan mengurangi keterikatannya dan memberi jalan bagi proses move on.

3. Batasi Interaksi di Media Sosial untuk Menghentikan Pemicu Visual

Media sosial adalah salah satu faktor yang membuat perasaan sulit hilang karena kamu terus melihat fragmen kehidupan orang tersebut.

Setiap postingan, story, atau update kecil dapat memancing kembali emosi yang sudah berusaha kamu redam.

Dengan membatasi akses, kamu menutup pintu untuk trigger visual yang sering membuat hati kembali sakit secara tidak sadar.

4. Hentikan Fantasi tentang Masa Depan Bersama

Fantasi adalah salah satu penguat terbesar dari rasa terikat karena otak menciptakan versi hubungan yang ideal namun tidak nyata.

Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium

Semakin sering kamu membayangkan skenario “seandainya”, semakin kuat ikatan emosional yang tidak sehat terbentuk di dalam pikiranmu.

Oleh karena itu, penting untuk mengingatkan diri bahwa imajinasi bukanlah bukti, dan kamu berhak memiliki masa depan yang lebih nyata dan membahagiakan.

5. Salurkan Emosi melalui Journaling atau Ekspresi Kreatif

Menulis perasaan membantumu merapikan kekacauan di dalam pikiran, sekaligus memberi tempat aman untuk mengeluarkan emosi yang terpendam.

Journaling dapat mencegah emosi meledak atau menumpuk karena kamu memberikan ruang bagi hatimu untuk berbicara tanpa takut dihakimi.

Selain itu, ekspresi kreatif seperti menggambar, musik, atau crafting juga dapat menjadi katarsis yang membantu proses penyembuhan secara lembut.

6. Bangun Rutinitas Baru

Rutinitas baru memberi otak jalur kebiasaan yang segar sehingga fokusmu tidak lagi berkutat pada orang yang sama.

Saat kamu mengisi hari dengan aktivitas yang produktif atau menyenangkan, energi emosionalmu beralih ke arah yang lebih konstruktif.

Perubahan kecil seperti olahraga, belajar hal baru, atau memperluas hobi dapat memberi efek signifikan dalam percepatan healing.

7. Habiskan Waktu dengan Orang-Orang yang Menghargai dan Mendukungmu

Kehadiran orang-orang yang peduli dapat memperkuat ketahanan emosionalmu, terutama ketika kamu merasa rapuh atau kehilangan arah.

Interaksi positif membantu otak memproduksi hormon yang memulihkan suasana hati sehingga kamu tidak terjebak dalam lingkaran kesepian.

Lingkungan yang suportif juga mengingatkanmu bahwa ada banyak cinta lain di luar hubungan yang tidak bisa kamu miliki.

8. Tegaskan Batas Pribadi agar Tidak Kembali Mencari Alasan Berhubungan

Ketika proses move on sedang berjalan, sangat mudah untuk tergoda kembali menghubungi atau mendekati orang tersebut karena rindu.

Namun, jika kamu terlalu sering memberi celah, hatimu akan kembali ke titik awal karena ikatan itu terus diperbarui.

Dengan menetapkan batas tegas, kamu mengajarkan diri bahwa healing adalah prioritas yang harus dijaga.

9. Bangun Kembali Rasa Percaya Diri dan Kualitas Diri

Ketika kamu mencintai seseorang yang tidak bisa kamu miliki, harga diri bisa ikut menurun karena kamu merasa tidak cukup.

Membangun self-worth kembali akan membantu kamu percaya bahwa kamu layak dicintai oleh orang yang benar-benar hadir untukmu.

Semakin kamu fokus pada pertumbuhan diri, semakin lemah ikatan pada seseorang yang tidak tepat.

10. Cari Makna Baru dari Pengalaman Ini agar Tidak Terjebak di Masa Lalu

Mencari makna bukan berarti menyakiti diri dengan mencari alasan “kenapa harus terjadi”, tetapi melihat bagaimana kamu bisa tumbuh darinya.

Pemaknaan positif membantu kamu memahami bahwa pengalaman ini adalah bagian dari proses pendewasaan emosional.

Ketika kamu mampu menarik pelajaran, luka itu perlahan berubah menjadi kekuatan.

11. Fokus Pada Tujuan Pribadi dan Masa Depan

Dengan mengarahkan energimu ke target-target baru, kamu memberi dirimu alasan untuk bergerak maju.

Tujuan pribadi menciptakan rasa motivasi yang mengalihkan fokus dari hal yang membuatmu sedih.

Ketika kamu merasa berkembang, kebutuhan akan validasi dari orang yang salah akan semakin melemah.

12. Pertimbangkan Bantuan Profesional

Psikolog dapat membantumu memahami pola pikir dan pola emosi yang membuatmu sulit move on.

Melalui terapi, akan diberikan teknik-teknik yang lebih terarah agar kamu dapat melepaskan perasaan dengan cara yang sehat.

Mendapatkan bantuan bukan tanda lemah, melainkan bentuk keberanian untuk menjaga kesehatan mentalmu.

Melupakan seseorang yang tidak bisa kamu miliki bukan tentang menghapus perasaan secara paksa, tetapi tentang memberi dirimu ruang untuk pulih, tumbuh, dan menemukan kembali hidup yang lebih sehat secara emosional.

Proses ini memang tidak selalu mudah, tetapi setiap langkah kecil menuju pemahaman diri akan membuat hatimu lebih kuat dan tidak lagi dikendalikan oleh rasa kehilangan yang berlarut.

Jika kamu ingin memperdalam proses penyembuhan, terutama bila perasaanmu menyentuh luka-luka lama atau pengalaman emosional yang lebih berat, kamu bisa mulai mempelajarinya melalui buku Pulih dari Trauma karya dr. Jiemi Ardian di Gramedia.com.

Buku ini membahas Trauma Processing Therapy (TPT) dengan cara yang sederhana, aplikatif, dan penuh latihan praktis untuk membantu kamu memproses memori dan pengalaman emosional secara sehat.

Membaca buku tersebut bisa menjadi langkah awal untuk merawat dirimu lebih serius dan memberi kesempatan bagi hati untuk benar-benar pulih.

Semoga kamu menemukan ketenangan yang selama ini kamu cari.

Pesan dan dapatkan buku Pulih dari Trauma sekarang juga di Gramedia.com.

Rekomendasi Buku Terkait

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau