Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Cerita Tangkuban Perahu, Legenda Rakyat Terkenal dari Jawa Barat

Kompas.com, 30 Mei 2023, 13:00 WIB
Cerita Tangkuban Perahu Sumber Gambar: ppid.bandung.go.id/knowledgebase/legenda-sangkuriang-asal-gunung-tangkuban-perahu/ Cerita Tangkuban Perahu
Rujukan artikel ini:
Seri Cerita Rakyat 37 Provinsi…
Pengarang: Dian Kristiani
Penulis Okky Olivia
|
Editor Puteri

Sebagai negara kepulauan, Indonesia terkenal memiliki keragaman suku yang sangat banyak.

Hal ini tentunya akan membentuk kebudayaan dan kepercayaan yang berbeda-beda di antara masyarakat.

Setiap daerah di Indonesia pasti memiliki cerita rakyatnya sendiri yang tentunya mengandung pesan moral sesuai dengan kepercayaan masing-masing daerah.

Salah satu cerita rakyat yang terkenal dari Jawa Barat adalah legenda Tangkuban Perahu, atau lebih dikenal dengan cerita Sangkuriang.

Secara turun temurun, sosok Sangkuriang dalam cerita ini dipercaya sebagai penyebab utama munculnya Gunung Tangkuban Perahu, salah satu gunung berapi aktif yang ada di Jawa Barat.

Untuk lebih jelasnya, kamu bisa simak garis besar cerita Sangkuriang dan Gunung Tangkuban Perahu berikut ini.

Garis Besar Cerita Tangkuban Perahu

Pada zaman dahulu, hidup seorang putri kerajaan di Jawa Barat bernama Dayang Sumbi bersama anak laki-lakinya, Sangkuriang dan anjing kesayangannya yang bernama Tumang.

Sangkuriang gemar sekali berburu binatang di hutan dan selalu ditemani oleh Tumang ke manapun dia pergi.

Walau sering bersama, Sangkuriang tidak pernah tahu kalau anjing tersebut adalah ayah kandungnya yang merupakan titisan Dewa.

Saat berburu, Tumang tidak mau mengikuti perintah Sangkuriang untuk mengejar hewan buruan, hal ini yang akhirnya membuat Sangkuriang mengusir Tumang ke dalam hutan.

Sangkuriang kembali ke kerajaan dan menceritakan kejadian ini pada ibunya, Dayang Sumbi ternyata marah besar dan tidak sengaja memukul kepala Sangkuriang dengan sendok nasi.

Sangkuriang yang kecewa memilih untuk meninggalkan kerajaan dan pergi mengembara, hal ini membuat Dayang Sumbi sangat menyesal.

Setelah kejadian itu, Dayang Sumbi selalu berdoa dan bertapa setiap tahunnya, sampai akhirnya ia mendapatkan karunia dari Dewa agar selalu awet muda dan memiliki kecantikan yang abadi.

Sangkuriang yang telah mengembara selama bertahun-tahun akhirnya berniat kembali ke tanah airnya, tapi kerajaan itu telah berubah total.

Sangkuriang justru bertemu dengan seorang gadis cantik yang langsung membuatnya terpesona, tanpa mengetahui kalau gadis itu sebenarnya adalah Dayang Sumbi, ibunya sendiri.

Sama halnya dengan Dayang Sumbi, ia juga jatuh cinta pada Sangkuriang yang pada saat itu telah menjadi pemuda tampan.

Saat pamit untuk pergi berburu, Sangkuriang meminta tolong pada Dayang Sumbi untuk merapikan ikat kepalanya, Dayang Sumbi terkejut saat melihat ada bekas luka di kepala Sangkuriang.

Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium

Setelah diperhatikan, Dayang Sumbi baru menyadari kalau pemuda itu adalah anaknya yang sudah lama pergi merantau.

Dayang Sumbi mencoba mengagalkan lamaran dari Sangkuriang, ia mengajukan 2 syarat yang ia yakini tidak akan mungkin bisa dilakukan oleh Sangkuriang.

Pertama, ia meminta Sangkuriang untuk membendung air di Sungai Citarum, dan yang kedua, ia meminta Sangkuriang untuk membuat sampan atau perahu besar yang akan digunakan untuk menyebrangi sungai.

Kedua syarat yang cukup berat ini harus bisa dipenuhi oleh Sangkuriang sebelum fajar menyingsing.

Sangkuriang menyetujui syarat tersebut, ia kemudian mengerahkan makhluk-makhluk gaib untuk membantu menyelesaikan 2 pekerjaan tersebut.

Dayang Sumbi mengintip dengan perasaan cemas, saat pekerjaan itu hampir selesai, kemudian Dayang Sumbi meminta pasukannya untuk menggelar kain sutra merah di sebelah timur kota.

Kain sutra tersebut tentunya akan memantulkan warna merah di bagian timur dan membuat Sangkuriang mengira kalau pekerjaannya tidak bisa diselesaikan tepat waktu.

Sangkuriang marah karena tidak berhasil memenuhi syarat yang diminta Dayang Sumbi, ia kemudian menjebol bendungan yang membuat seluruh kota mengalami banjir bandang.

Tak hanya itu, Sangkuriang juga menendang perahu buatannya yang membuat perahu itu melayang dan jatuh menjadi sebuah gunung.

Gunung tersebut berada di bagian utara Kota Bandung dan kini lebih dikenal dengan nama Gunung ‘Tangkuban Perahu’.

Itulah garis besar cerita Sangkuriang yang menjadi asal muasal terbentuknya Gunung Tangkuban Perahu.

Selain cerita Sangkuriang, masih banyak cerita rakyat lain dari Jawa Barat yang tidak kalah menarik, salah satunya tentang legenda Lutung Kasarung.

Kamu bisa membaca kisah lengkapnya dalam buku Seri Cerita Rakyat 37 Provinsi Jawa Barat - Lutung Kasarung.

Mengisahkan tentang seorang perempuan bernama Purbasari yang menderita penyakit kulit yang membuat dirinya dikucilkan dan dibuang ke hutan.

Di dalam hutan, ia bertemu dengan seekor lutung yang setia menemani dan menyembuhkan penyakitnya.

Saat akan kembali ke istana, Purbasari mendapatkan banyak tantangan dari orang-orang istana yang berniat menyingkirkannya.

Kalau ingin tahu cerita lengkapnya, kamu bisa dapatkan buku ini melalui online di Gramedia.com.

Rekomendasi Buku Terkait

Terkini Lainnya

Doa yang Dibaca Saat Sedekah Subuh dan Cara Mengamalkannya 

Doa yang Dibaca Saat Sedekah Subuh dan Cara Mengamalkannya 

buku
Letak Kerajaan Samudera Pasai: Lokasi, Sejarah, dan Bukti Peninggalannya

Letak Kerajaan Samudera Pasai: Lokasi, Sejarah, dan Bukti Peninggalannya

buku
6 Manfaat Meditasi untuk Ketenangan di Tengah Hidup yang Serba Cepat

6 Manfaat Meditasi untuk Ketenangan di Tengah Hidup yang Serba Cepat

buku
Bukti Peninggalan Kerajaan Pajang yang Menjadi Jejak Penting Sejarah Islam Jawa

Bukti Peninggalan Kerajaan Pajang yang Menjadi Jejak Penting Sejarah Islam Jawa

buku
Letak Kerajaan Gowa Tallo: Lokasi Geografis dan Buktinya

Letak Kerajaan Gowa Tallo: Lokasi Geografis dan Buktinya

buku
Apa Itu Banjir Rob dan Mengapa Sering Terjadi di Wilayah Pesisir?

Apa Itu Banjir Rob dan Mengapa Sering Terjadi di Wilayah Pesisir?

buku
Apa Itu Penyandang Disabilitas? Berikut Jenis dan Haknya

Apa Itu Penyandang Disabilitas? Berikut Jenis dan Haknya

buku
Makanan yang Mengandung Vitamin E: Rahasia Kulit Sehat, Awet Muda, dan Daya Tahan Tubuh

Makanan yang Mengandung Vitamin E: Rahasia Kulit Sehat, Awet Muda, dan Daya Tahan Tubuh

buku
Apakah Diet Rendah Gula Bisa Bikin Kurus? Berikut Penjelasannya

Apakah Diet Rendah Gula Bisa Bikin Kurus? Berikut Penjelasannya

buku
Makanan yang Mengandung Protein Tinggi: Kunci Hidup Lebih Bertenaga

Makanan yang Mengandung Protein Tinggi: Kunci Hidup Lebih Bertenaga

buku
Macam-Macam Wakaf Beserta Contohnya yang Wajib Diketahui Umat Islam

Macam-Macam Wakaf Beserta Contohnya yang Wajib Diketahui Umat Islam

buku
Bagaimana Cara Bulking yang Benar? Simak Caranya di Sini! 

Bagaimana Cara Bulking yang Benar? Simak Caranya di Sini! 

buku
Warna yang Cocok untuk Kulit Sawo Matang: Panduan agar Tidak Salah Pilih Warna

Warna yang Cocok untuk Kulit Sawo Matang: Panduan agar Tidak Salah Pilih Warna

buku
Daftar Makanan Penyebab Asam Urat yang Wajib Kamu Tahu!

Daftar Makanan Penyebab Asam Urat yang Wajib Kamu Tahu!

buku
Apa Itu Resolusi Tahun Baru dan Mengapa Banyak Orang Sulit Menepatinya

Apa Itu Resolusi Tahun Baru dan Mengapa Banyak Orang Sulit Menepatinya

buku
Fondasi Keragaman, Mengenal Kitab Suci Agama di Indonesia

Fondasi Keragaman, Mengenal Kitab Suci Agama di Indonesia

buku
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau