Siapa Pencetus Filsafat Stoikisme? Mengenal Zeno dari Citium dan Sejarahnya

Lihat Foto
Sumber Gambar: Freepik.com
Siapa Pencetus Filsafat Stoikisme
Rujukan artikel ini:
Stoik: Apa dan Bagaimana
Pengarang: Massimo Pigliucci
Penulis Adnan
|
Editor: Novia Putri Anindhita

Stoikisme kini menjadi salah satu aliran filsafat paling populer yang digemari oleh masyarakat modern.

Banyak orang mengenal ajaran ini melalui tulisan-tulisan Kaisar Romawi Marcus Aurelius atau senator Seneca.

Namun, jarang yang benar-benar mengetahui akar sejarah dari mana ini pertama kali muncul.

Tokoh pendirinya bukanlah seorang raja, jenderal perang, atau bangsawan kaya raya sejak lahir.

Ia adalah seorang imigran yang kehilangan segalanya sebelum menemukan kekayaan intelektual yang abadi.

Untuk menjawab rasa penasaran mengenai siapa pencetus filsafat stoikisme, simak artikel berikut.

Sosok di Balik Lahirnya Stoikisme

Sosok di balik lahirnya Stoikisme adalah seorang pedagang sukses dari Pulau Siprus, Zeno.

Zeno lahir sekitar tahun 334 SM di kota Citium, sebuah kota pelabuhan yang sibuk dan multikultural.

Latar belakang keluarganya bukanlah akademisi murni, melainkan pedagang yang terbiasa dengan kerasnya dunia perniagaan.

Sebagai anak saudagar, Zeno muda dipersiapkan untuk meneruskan bisnis keluarga yang bergerak di bidang tekstil.

Komoditas utama yang ia perdagangkan adalah pewarna ungu Tyrian yang sangat mahal dan berharga kala itu.

Pewarna ini diekstrak dari siput laut dan menjadi simbol kemewahan bagi para bangsawan kerajaan.

Pekerjaan ini menuntut Zeno untuk sering bepergian melintasi lautan luas demi mengantar barang dagangan.

Tidak ada yang menyangka bahwa pemuda yang sibuk menghitung laba rugi ini akan menjadi filsuf besar.

Kehidupannya saat itu sangat jauh dari diskusi tentang etika, logika, atau ketenangan batin.

Namun, takdir memiliki rencana lain yang akan membelokkan jalan hidupnya secara drastis dan permanen.

Tragedi yang Menjadi Berkah: Kisah Kecelakaan Kapal Zeno

Titik balik kehidupan Zeno dimulai dari sebuah musibah besar yang menghancurkan seluruh aset materinya.

Suatu hari, ia melakukan perjalanan bisnis rutin mengarungi Laut Mediterania menuju pelabuhan Piraeus.

Nahas, kapal kargo yang ia tumpangi dihantam badai ganas hingga karam di tengah lautan.

Zeno berhasil selamat dan terdampar di Athena, namun ia kehilangan seluruh kekayaannya tanpa sisa.

Dalam kondisi miskin dan asing di kota besar, ia berjalan tanpa tujuan hingga masuk ke sebuah toko buku.

Di sana, ia membaca buku Memorabilia karya Xenophon yang menceritakan kisah bijak Socrates.

Hatinya bergetar membaca kisah tersebut dan seketika lupa pada kemalangannya yang baru saja terjadi.

Ia bertanya kepada penjaga toko buku, "Di mana aku bisa menemukan laki-laki seperti ini (Socrates) sekarang?"

Kebetulan yang luar biasa, saat itu melintaslah Crates dari Thebes, seorang filsuf beraliran Sinisme.

Penjaga toko menunjuk Crates dan berkata kepada Zeno, "Ikutilah orang itu."

Momen itulah yang menjadi sejarah Zeno pendiri Stoikisme memulai perjalanan intelektual barunya.

Zeno kemudian sering berkata, "Aku justru melakukan pelayaran yang paling sukses ketika kapalku karam."

Musibah kehilangan harta ternyata menjadi pintu gerbang baginya untuk menemukan kekayaan kebijaksanaan.

Mengapa Namanya "Stoikisme"? (Asal Usul Stoa Poikile)

Setelah bertahun-tahun belajar dari berbagai guru, Zeno akhirnya merasa siap untuk mengajarkan pemikirannya sendiri.

Namun, ia tidak memiliki cukup uang untuk menyewa gedung mewah seperti Akademi milik Plato.

Ia juga bukan warga negara asli Athena sehingga hak kepemilikan propertinya sangat terbatas.

Zeno memilih tempat mengajar yang sangat sederhana namun strategis di jantung kota Athena.

Tempat tersebut dikenal dengan nama Stoa Poikile atau Serambi Berlukis karena dindingnya penuh mural sejarah.

Karena ia selalu mengajar di Stoa, para pengikutnya kemudian dijuluki sebagai "Kaum Stoa" atau Stoik.

Inilah asal usul nama "Stoik" yang kita kenal sekarang, diambil dari nama arsitektur bangunan.

Pemilihan lokasi ini memiliki makna filosofis yang sangat mendalam bagi perkembangan ajaran Zeno.

Pengaruh Sinisme (Cynicism) terhadap Pemikiran Zeno

Sebelum merumuskan ajarannya sendiri, Zeno adalah murid setia dari Crates yang beraliran Sinisme.

Hubungan ini menjelaskan mengapa ada kemiripan antara pemikiran awal Zeno vs Stoikisme Romawi kelak.

Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium

Sinisme mengajarkan hidup asketis, menolak harta benda, dan tidak peduli pada pandangan sosial masyarakat.

Crates melatih Zeno dengan metode yang sangat keras untuk membunuh ego dan rasa malunya.

Suatu hari, Crates menyuruh Zeno membawa panci berisi sup lentil melintasi keramaian pasar.

Zeno yang berasal dari keluarga kaya merasa sangat malu melakukan hal rendahan tersebut.

Melihat keragu-raguan muridnya, Crates memukul panci itu dengan tongkat hingga pecah berantakan.

Sup lentil tumpah mengotori jubah Zeno, membuatnya menjadi tontonan dan bahan tertawaan orang banyak.

Zeno lari ketakutan karena malu, namun Crates berteriak, "Kenapa lari? Tidak ada hal buruk yang menimpamu!"

Pelajaran keras ini menanamkan mental baja pada Zeno untuk tidak peduli pada opini orang lain.

Namun, Zeno merasa Sinisme terlalu ekstrem dan kurang memedulikan aspek logika serta ilmu pengetahuan.

Ia kemudian memadukan ketangguhan mental Sinisme dengan logika akademis yang lebih terstruktur.

Hasil perpaduan inilah yang kemudian menjadi cikal bakal ajaran Stoikisme yang lebih seimbang.

Tiga Tokoh Penting Pembangun Fondasi Stoikisme

1. Zeno dari Citium (Sang Pendiri)

Zeno adalah orang pertama yang merumuskan konsep dasar hidup selaras dengan alam semesta.

Ia mengajarkan bahwa kebajikan adalah satu-satunya kebaikan sejati, sedangkan hal lain bersifat netral (indifferent).

Zeno memimpin sekolah Stoa selama bertahun-tahun dan sangat dihormati oleh warga Athena karena integritasnya.

Bahkan setelah kematiannya, penduduk Athena mendirikan patung perunggu sebagai penghormatan atas kesederhanaan hidupnya.

2. Cleanthes dari Assos (Sang Penjaga Api)

Penerus Zeno adalah Cleanthes, seorang mantan petinju yang bekerja sebagai kuli air di malam hari.

Cleanthes berjasa menjaga ajaran Zeno tetap murni dan menulis himne indah tentang Zeus (alam semesta).

Tanpa ketekunannya, mungkin ajaran Zeno akan lenyap ditelan zaman setelah sang pendiri wafat.

3. Chrysippus dari Soli (Sang Logikawan)

Tokoh ketiga adalah Chrysippus, seorang jenius logika yang sangat produktif dalam menulis buku filsafat.

Ia menyusun sistem logika Stoik menjadi sangat rapi, detail, dan sulit dibantah oleh lawan debat.

Ada pepatah kuno yang mengatakan, "Tanpa Chrysippus, tidak akan ada Stoa."

Dialah yang menyempurnakan ajaran Zeno menjadi sistem filsafat yang komprehensif dan bertahan berabad-abad.

Inti Ajaran Zeno: Logika, Fisika, dan Etika

Zeno membagi kurikulum filsafatnya menjadi tiga bagian yang saling terintegrasi dan tidak terpisahkan.

Berikut adalah tiga pilar utama ajaran Zeno yang sering dianalogikan sebagai sebuah kebun subur:

1. Logika (Pagar Kebun)

Logika adalah benteng pertahanan pikiran untuk membedakan persepsi yang benar dan yang salah.

Tanpa logika yang kuat, manusia akan mudah tertipu oleh ilusi dan emosi sesaat.

2. Fisika (Tanah Kebun)

Fisika dalam konteks ini adalah pemahaman tentang cara kerja alam semesta dan hukum takdir.

Memahami bahwa segala sesuatu terjadi karena sebab-akibat membantu kita menerima realitas (Amor Fati).

3. Etika (Buah Tanaman)

Etika adalah tujuan akhir dari filsafat, yaitu perilaku bajik dan karakter yang mulia.

Hasil dari logika yang benar dan pemahaman alam adalah tindakan hidup yang bijaksana.

Kisah Zeno mengajarkan kita bahwa kehilangan terbesar dalam hidup bisa menjadi awal dari penemuan jati diri yang paling berharga.

Dari puing-puing kapal karam, ia membangun sebuah filosofi yang mampu menenangkan jutaan jiwa manusia selama ribuan tahun.

Memahami sejarah Zeno bukan sekadar menambah wawasan, melainkan menyerap semangat ketangguhan untuk menghadapi ketidakpastian zaman ini.

Bagi Anda yang menyukai filsafat dan ingin menyelami ajaran ini lebih dalam dari sekadar kutipan media sosial, referensi yang otoritatif sangatlah diperlukan.

Buku Stoik: Apa dan Bagaimana karya Massimo Pigliucci adalah panduan yang wajib kamu baca.

Buku ini membahas semua hal tentang Stoikisme, mulai dari sejarah para tokohnya hingga aplikasi praktis di dunia modern.

Penulis menjabarkan konsep-konsep rumit menjadi bahasa yang renyah dan relevan dengan kehidupan sehari-hari kita.

Buku ini adalah referensi yang tepat untuk kamu yang ingin mempraktikkan Stoikisme secara utuh, bukan setengah-setengah.

Segera miliki buku inspiratif ini dengan membelinya di Gramedia.com.

TAG:

Terkini
Lihat Semua
Jelajahi