Istilah Stoikisme kini semakin populer di kalangan anak muda dan sering digunakan di media sosial untuk menggambarkan cara menghadapi tekanan hidup.
Penggunaan istilah ini sering kali digunakan saat sedang merasa stres, bahkan tak jarang digunakan sebagai bentuk pelarian.
Meski begitu, muncul pertanyaan mengenai prinsip Stoikisme ini apakah bertentangan dengan akidah agama Islam.
Oleh karena itu, dibutuhkan pemahaman yang lebih untuk menilai prinsip-prinsip tersebut.
Secara garis besar, beberapa nilai dalam stoikisme memang memiliki kesamaan dengan ajaran Islam, seperti pentingnya pengendalian diri, penerimaan takdir, dan fokus pada hal-hal yang berada dalam kendali manusia.
Untuk memahami batasan dan kesesuaiannya dengan lebih jelas, simak penjelasan berikut ini.
Apa itu Stoikisme?
Stoikisme sering disalahartikan sebagai ajaran yang melarang manusia memiliki perasaan atau emosi sama sekali.
Padahal, Stoikisme adalah tentang pengelolaan pikiran sehat untuk mencapai ketenangan batin yang stabil.
Filosofi ini mengajarkan kita untuk tidak diperbudak oleh emosi reaktif seperti marah berlebihan atau ketakutan.
Seorang Stoik tidak mematikan perasaannya, melainkan melatih diri agar tidak dikendalikan oleh perasaan tersebut.
Fokus utama seorang Stoik adalah membangun ketahanan mental agar tidak terguncang oleh hal eksternal yang berada di luar kendalinya.
Menurut stoikisme, kebahagiaan tidak bergantung pada harta, pujian, atau kedudukan duniawi, melainkan pada kualitas sikap dan kebajikan pribadi.
Tujuan akhirnya dikenal sebagai eudaimonia, yakni kehidupan yang dijalani secara bermakna, berlandaskan kebajikan, dan selaras dengan tatanan kehidupan.
Konsep ini sangat menekankan pada penggunaan akal budi sebagai anugerah terbesar bagi manusia.
Dengan menggunakan akal, manusia bisa memilah mana fakta nyata dan mana sekadar persepsi ketakutan.
Sederhananya, Stoikisme adalah alat praktis untuk memangkas beban pikiran yang tidak perlu dalam kehidupan sehari-hari.
Dikotomi Kendali vs Konsep Tawakal
Pada Stoikisme diajarkan konsep fundamental yang disebut sebagai dikotomi kendali.
Bahwa penderitaan muncul saat manusia mencoba mengendalikan hal-hal di luar kuasanya.
Hal yang bisa kita kendalikan hanyalah pikiran, tindakan, perkataan, dan persepsi kita sendiri.
Sementara opini orang lain, cuaca, kekayaan, kesehatan, dan kematian adalah hal eksternal di luar kendali.
Dalam Islam, konsep ini berjalan beriringan dengan pemahaman mendalam tentang hubungan Ikhtiar dan Tawakal.
Agama mewajibkan kita berusaha semaksimal mungkin pada apa yang berada dalam kendali tangan kita.
Sementara hasil akhir adalah hak prerogatif Allah Swt. yang mutlak berada di luar kendali manusia.
Menyerahkan hasil sepenuhnya kepada Allah setelah berusaha keras ini lah yang disebut dengan Tawakal.
Jika kita stres memikirkan hasil atau cemas akan masa depan, itu tandanya kita melangkahi kuasa Tuhan.
Stoikisme menyebut ini sebagai pelanggaran logika alam, sedangkan Islam menyebutnya kurang adab kepada Rabb.
Dengan menyadari batasan ini, seorang Muslim akan menjadi lebih tenang dalam menghadapi ketidakpastian hidup.
Empat Kebajikan Stoik dalam Kacamata Akhlakul Karimah
Stoikisme memiliki empat pilar kebajikan utama yang menjadi landasan moral bagi setiap praktisinya.
Keempat pilar ini ternyata sangat selaras dengan sifat-sifat mulia atau Akhlakul Karimah dalam Islam.
Berikut adalah perbandingan harmonis antara nilai kebajikan Stoik dan ajaran moral Islam:
- Wisdom (Kebijaksanaan): Kemampuan nalar dalam mengambil keputusan ini selaras dengan sifat Fatanah (cerdas/bijaksana) yang dimiliki Rasulullah.
- Justice (Keadilan): Bersikap adil dan memperlakukan sesama dengan baik adalah inti dari konsep Muamalah dan Adil dalam Islam.
- Courage (Keberanian): Berani berpegang pada prinsip kebenaran meski sulit adalah manifestasi dari sifat Syaja'ah dalam membela akidah.
- Temperance (Menahan Diri): Kemampuan mengontrol hawa nafsu dan keinginan berlebih sangat mirip dengan konsep Iffah (menjaga kehormatan) dan Qanaah.
Konsep Amor Fati dan Rida
Dalam Stoikisme, amor fati dimaknai sebagai sikap menerima dan mencintai segala sesuatu yang terjadi dalam hidup, baik yang menyenangkan maupun yang sulit, dengan sikap lapang dan tenang.
Penerimaan tersebut bukanlah bentuk kepasrahan, akan tetapi sebagai kesadaran bahwa setiap kejadian memiliki peran dalam membentuk diri.
Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium
Dalam Islam, sikap mental positif ini dikenal dengan istilah Rida terhadap Qadha dan Qadar Allah.
Iman kepada takdir adalah rukun iman keenam yang wajib diyakini oleh setiap Muslim yang taat.
Seorang mukmin sejati meyakini bahwa tidak ada satu pun daun yang jatuh tanpa izin-Nya.
Mengeluh pada takdir dianggap sebagai bentuk ketidaksopanan terhadap skenario terbaik yang telah ditulis Allah.
Sikap Ridha berarti meyakini bahwa pilihan Allah untuk hamba-Nya adalah pasti yang terbaik.
Ujian dan cobaan dipandang sebagai cara Allah menggugurkan dosa dan mengangkat derajat manusia.
Jadi, menjadi Stoik yang baik justru membantu seseorang menjadi Muslim yang lebih berserah diri.
Apakah Belajar Stoikisme Itu Haram atau Bermanfaat?
Kekhawatiran akan lunturnya akidah saat belajar filsafat asing adalah hal yang sangat wajar dan perlu dihargai.
Namun, Islam sejatinya adalah agama yang sangat terbuka terhadap kebenaran dan hikmah dari mana pun asalnya.
Selama prinsip tersebut tidak mengajarkan kesyirikan atau menuhankan selain Allah, maka boleh dipelajari.
Stoikisme tidak mengajarkan penyembahan dewa-dewa Yunani, melainkan tata cara mengelola pikiran dan mental.
Filsafat ini lebih mirip dengan panduan psikologi praktis daripada sebuah agama atau kepercayaan teologis.
Mengambil teknik mental Stoik untuk memperkuat kesabaran Islam adalah langkah strategis yang bijak untuk menjadi hamba yang lebih tangguh.
Banyak pemikir Islam kontemporer yang justru menggunakan Stoikisme sebagai jembatan untuk menjelaskan tasawuf modern.
Jadi, tidak perlu merasa bersalah selama niat utamanya adalah memperbaiki akhlak dan kualitas diri.
Integrasi Zikir dan Refleksi Stoik di Malam Hari
Stoikisme mengajarkan praktik rutin jurnaling malam untuk mengevaluasi tindakan dan emosi sepanjang hari.
Dalam tradisi Islam, praktik serupa dikenal dengan istilah Muhasabah atau introspeksi diri sebelum beristirahat.
Umar bin Khattab pernah berkata, "Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab di hari akhir nanti."
Kamu bisa menggabungkan kedua metode ini untuk mendapatkan kualitas istirahat dan ketenangan yang maksimal.
Mulailah dengan berzikir ringan untuk menenangkan pikiran dan menyambungkan hati kepada Allah.
Setelah hati tenang, ambil buku jurnal dan tuliskan evaluasi diri secara objektif dan jujur.
Tanyakan pada diri sendiri: "Apakah hari ini saya sudah berlaku adil, sabar, dan bermanfaat bagi orang lain?"
Identifikasi momen di mana kamu kehilangan kendali emosi dan cari tahu apa pemicunya.
Tutup sesi refleksi tersebut dengan beristighfar, memohon ampun atas kesalahan yang mungkin tidak disengaja.
Kombinasi zikir dan journaling ini akan membantu kamu membersihkan emosi negatif yang selama ini membebani diri.
Keduanya bisa berjalan beriringan untuk membentuk pribadi yang tangguh, tenang, dan berserah diri sepenuhnya.
Stoikisme memberikan kerangka berpikir logis, sementara Islam memberikan landasan spiritual dan tujuan akhir yang abadi.
Bagi kamu yang menyukai filsafat dan sedang mencari referensi komprehensif mengenai penerapan ajaran ini buku Stoik: Apa dan Bagaimana karya Massimo Pigliucci adalah panduan lengkap yang sangat direkomendasikan.
Buku ini merupakan referensi yang tepat bagi kamu yang sedang mencari buku mengenai Stoikisme atau kaum Stoik.
Penulis membahas semua hal tentang Stoikisme secara mendalam, mulai dari sejarah hingga latihan praktisnya.
Gaya bahasanya yang ringan membuat konsep filsafat yang rumit menjadi mudah dipahami dan juga diterapkan.
Selain itu, melalui buku ini kamu akan menemukan banyak keselarasan yang mengejutkan antara kebijaksanaan kuno ini dengan nilai-nilai universal.
Yuk, segera miliki buku inspiratif ini dengan membelinya di Gramedia.com.