Letak Kerajaan Gowa Tallo: Lokasi Geografis dan Buktinya

Lihat Foto
Sumber Gambar: Kompas.com
Letak Kerajaan Gowa Tallo 
Rujukan artikel ini:
Karaeng Pattingalloang: Model Kepemimpinan Negarawan…
Pengarang: Arafah Palu Daeng Bella,…
Penulis Adnan
|
Editor: Novia Putri Anindhita

Kerajaan Gowa Tallo pernah berdiri gagah sebagai penguasa maritim besar yang mendominasi wilayah timur Nusantara.

Nama besarnya sering dikaitkan dengan julukan "Ayam Jantan dari Timur" yang melekat pada Sultan Hasanuddin.

Namun, kejayaan kerajaan kembar ini sebenarnya tidak lepas dari keunggulan posisi wilayah yang mereka tempati.

Banyak sejarawan sepakat bahwa faktor geografis adalah kunci utama mengapa Makassar bisa menjadi pusat perdagangan dunia.

Sering kali siswa sejarah merasa kesulitan membayangkan di mana tepatnya pusat kerajaan ini jika melihat peta modern.

Apakah lokasinya berada di tengah Kota Makassar yang padat atau tersembunyi di pedalaman Kabupaten Gowa?

Memahami letak persisnya akan membantu kita mengerti strategi pertahanan dan ekonomi yang diterapkan para raja terdahulu.

Artikel ini akan mengupas tuntas letak kerajaan gowa tallo mulai dari koordinat geografis hingga bukti fisiknya.

Di Mana Letak Kerajaan Gowa Tallo Secara Geografis?

Secara geografis, pusat Kerajaan Gowa Tallo terletak di semenanjung barat daya Pulau Sulawesi yang sangat strategis.

Wilayah ini menjorok ke laut, menciptakan garis pantai panjang yang sangat ideal untuk aktivitas pelabuhan dan pelayaran.

Jika kita melihat peta administrasi modern, lokasi inti kerajaan ini berada di Provinsi Sulawesi Selatan.

Wilayah kekuasaannya mencakup sebagian besar daerah yang kini kita kenal sebagai Kota Makassar dan Kabupaten Gowa.

Pusat pemerintahan kerajaan terbagi dua karena merupakan gabungan dari dua kerajaan yang bersaudara, yaitu Gowa dan Tallo.

Kerajaan Gowa berpusat di daerah dataran tinggi yang kini masuk dalam wilayah administratif Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa.

Sementara itu, Kerajaan Tallo berpusat di pesisir pantai utara yang kini menjadi bagian dari Kota Makassar.

Posisi keduanya saling melengkapi, Gowa menguasai agraris pedalaman dan Tallo menguasai akses maritim pesisir.

Kombinasi dua lokasi ini menciptakan kekuatan geopolitik yang sulit ditandingi oleh kerajaan lain di Sulawesi saat itu.

Secara astronomis, letak kerajaan ini berada di sekitar garis lintang selatan yang membelah wilayah Indonesia bagian tengah.

Kondisi tanahnya yang subur di bagian pedalaman juga mendukung pertanian padi sebagai cadangan logistik pangan utama kerajaan.

Pusat Pemerintahan: Dari Kale Gowa ke Somba Opu

Sejarah mencatat adanya perpindahan pusat pemerintahan yang menandai transformasi Gowa dari kerajaan agraris menjadi imperium maritim.

Pada masa awal pembentukannya, raja-raja Gowa memerintah dari daerah berbukit yang dikenal dengan nama Tamalate atau Kale Gowa.

Lokasi ini berada cukup jauh dari bibir pantai, mencerminkan fokus awal masyarakatnya yang masih bertumpu pada pertanian.

Namun, visi kerajaan berubah drastis ketika Raja Gowa ke-9, Daeng Matanre Karaeng Tumapa'risi' Kallonna, memindahkan ibu kota.

Pusat kekuasaan digeser ke pesisir pantai di muara Sungai Jeneberang yang kini dikenal sebagai Benteng Somba Opu.

Pemilihan lokasi di delta Sungai Jeneberang ini bukanlah keputusan sembarangan tanpa perhitungan matang dari sang raja.

Muara Sungai Jeneberang menawarkan akses langsung bagi kapal-kapal besar untuk bersandar dan melakukan bongkar muat barang.

Selain Jeneberang, keberadaan Sungai Tallo di bagian utara juga dimanfaatkan sebagai jalur transportasi vital bagi Kerajaan Tallo.

Pertemuan dua sungai besar ini menciptakan kawasan delta yang subur dan sangat strategis untuk pertahanan militer.

Sungai-sungai ini berfungsi sebagai jalan tol alami yang menghubungkan hasil bumi dari pedalaman menuju pelabuhan internasional.

Perpindahan ke Somba Opu menandai era baru di mana Gowa Tallo mulai menatap laut sebagai masa depannya.

Alasan Strategis Pemilihan Lokasi di Jalur Maritim

Kejayaan Makassar sebagai bandar dagang kelas dunia didorong oleh keuntungan posisi geografis yang sulit ditandingi.

Kerajaan ini berdiri tepat di persimpangan jalur perdagangan rempah yang menghubungkan belahan dunia barat dan timur.

Letaknya berada di tengah-tengah jalur pelayaran antara Malaka (di barat) dan Maluku (di timur) yang kaya rempah.

Pedagang dari Jawa atau Melayu yang hendak mencari pala dan cengkih di Maluku pasti akan singgah di Makassar.

Begitu pula sebaliknya, pedagang yang membawa rempah dari Maluku membutuhkan tempat istirahat sebelum melanjutkan perjalanan jauh ke barat.

Gowa Tallo berfungsi sebagai Bandar Transito atau pelabuhan transit yang menyediakan logistik air bersih dan perbaikan kapal.

Selain jalur timur-barat, posisi kerajaan ini juga mengunci jalur utara-selatan melalui perairan Selat Makassar.

Selat Makassar adalah jalur pelayaran utama bagi kapal-kapal yang berlayar dari Tiongkok atau Filipina menuju Nusa Tenggara.

Arus laut dan pola angin muson di sekitar semenanjung Sulawesi sangat menguntungkan bagi kapal layar zaman dahulu.

Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium

Para pelaut memanfaatkan angin muson barat dan timur untuk berlayar pergi dan pulang dengan singgah di Makassar.

Posisi silang yang sangat strategis ini membuat pelabuhan Somba Opu tidak pernah sepi dari aktivitas perdagangan internasional.

Inilah alasan mengapa VOC Belanda begitu bernafsu untuk merebut lokasi ini demi memonopoli perdagangan rempah di timur.

Peta Lokasi dan Situs Peninggalan yang Masih Ada

Klaim mengenai lokasi dan kebesaran Gowa Tallo didukung oleh bukti arkeologis yang masih berdiri kokoh hingga kini.

Situs paling penting yang menjadi bukti pusat pemerintahan adalah reruntuhan Benteng Somba Opu di Kabupaten Gowa.

Benteng ini terletak di Jalan Daeng Tata, Kelurahan Benteng Somba Opu, Kecamatan Barombong, tepat di tepi Sungai Jeneberang.

Bangunan ini dulunya merupakan pusat istana raja Gowa sebelum dihancurkan oleh Belanda dalam Perjanjian Bongaya tahun 1667.

Kini, pengunjung dapat melihat sisa-sisa dinding bata merah yang tebal yang menjadi saksi bisu pertahanan terakhir Gowa.

Situs kedua yang tak kalah penting adalah Benteng Rotterdam yang terletak di pinggir pantai Kota Makassar modern.

Awalnya, benteng ini bernama Benteng Ujung Pandang dan dibangun oleh Raja Gowa sebagai markas pertahanan laut.

Bentuk benteng ini sangat unik karena jika dilihat dari udara menyerupai seekor penyu yang sedang merangkak ke laut.

Filosofi penyu dipilih karena hewan ini mampu hidup di darat dan di air, melambangkan kekuasaan amfibi Gowa Tallo.

Setelah jatuh ke tangan Belanda, benteng ini berganti nama menjadi Fort Rotterdam dan menjadi pusat pemerintahan kolonial.

Selain dua benteng induk tersebut, terdapat pula kompleks Makam Raja-Raja Gowa di Katangka yang berdekatan dengan masjid tua.

Keberadaan makam ini memvalidasi lokasi pusat aktivitas keagamaan dan pemerintahan yang berada di sekitar wilayah tersebut.

Jejak peninggalan ini membentuk garis imajiner yang menunjukkan betapa luasnya area inti kerajaan pada masa jayanya.

Pengaruh Letak Geografis terhadap Kemajuan Ekonomi Gowa Tallo

Lokasi yang terbuka ke laut lepas membentuk karakter ekonomi Gowa Tallo menjadi sangat kosmopolitan dan inklusif.

Kemudahan akses menuju pelabuhan Somba Opu menarik minat pedagang dari berbagai bangsa untuk datang dan menetap.

Pedagang Arab dan Persia datang membawa ajaran Islam serta barang-barang tekstil mewah dari Timur Tengah.

Pedagang Tiongkok menjadikan Makassar sebagai pasar potensial untuk keramik dan sutra yang sangat diminati kaum bangsawan.

Sementara itu, pedagang Portugis, Inggris, dan Denmark datang untuk memburu rempah-rempah Maluku yang ditransaksikan di pasar Makassar.

Kebijakan pelabuhan bebas (free port) yang diterapkan raja Gowa semakin memperkuat daya tarik lokasi ini bagi asing.

Raja Gowa menjamin keamanan setiap kapal yang bersandar tanpa membedakan asal usul bangsa atau agama mereka.

Gudang-gudang logistik dibangun di sepanjang muara sungai untuk menampung komoditas sebelum dikirim ke pasar Eropa.

Sistem kanalisasi sungai diperbaiki untuk memudahkan kapal-kapal kecil mengangkut barang dari kapal induk ke gudang penyimpanan.

Kemajuan ekonomi ini membuat Gowa Tallo mampu membeli persenjataan modern untuk memperkuat armada angkatan lautnya.

Kekayaan dari pajak perdagangan juga digunakan untuk membiayai perkembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan di istana.

Peta navigasi dan teknologi perkapalan berkembang pesat berkat interaksi dengan pelaut-pelaut ulung dari berbagai belahan dunia.

Bisa dikatakan, letak geografis adalah modal awal yang dikelola dengan cerdas untuk membangun peradaban maritim yang besar.

Jejak Intelektual di Balik Kejayaan Maritim

Mempelajari letak Kerajaan Gowa Tallo menyadarkan kita bahwa kejayaan masa lalu bukan hanya soal kekuatan militer semata.

Ada visi besar dalam memilih lokasi, membangun infrastruktur sungai, dan mengelola diplomasi dagang internasional.

Di balik strategi brilian tersebut, terdapat sosok-sosok pemikir ulung yang mendedikasikan hidupnya untuk kemajuan negara.

Salah satu tokoh penting yang menjadi otak di balik kegemilangan Gowa Tallo adalah Karaeng Pattingalloang.

Untuk mengenal lebih dekat sosok jenius ini, buku Karaeng Pattingalloang: Model Kepemimpinan Negarawan dan Intelektual yang Relevan dengan Perubahan Zaman adalah referensi wajib.

Buku karya Arafah Palu Daeng Bella dan I Mannuntungi Daeng Situju ini mengangkat kisah hidup sang bangsawan Makassar abad ke-17.

Penulis menguraikan perjalanan hidupnya mulai dari silsilah keturunan hingga peran besarnya sebagai Perdana Menteri Kesultanan Gowa.

Anda akan diajak menyelami pemikirannya sebagai pengarah kebijakan serta diplomasi maritim yang disegani bangsa Eropa.

Kisah hidupnya adalah teladan sempurna tentang perpaduan antara kecerdasan intelektual dan keberanian memimpin negara.

Segera miliki buku inspiratif ini dengan membeli versi digitalnya melalui Gramedia Digital.

TAG:

Terkini
Lihat Semua
Jelajahi