Apa Arti Lemah Teles? Cari Tahu Yuk!

Lihat Foto
Sumber Gambar: Kompas.com
Arti Lemah Teles
Rujukan artikel ini:
Bahasa Jawa Dasar. Edisi Revisi
Pengarang: Dwi Puspitorini, Ratnawati Rachmat
Penulis Hana Sjafei
|
Editor: Almira Rahma Natasya

Pernahkah kamu mendengar kata lemah teles dan artinya?

Lemah teles merupakan salah satu bahasa Jawa yang saat ini menjadi tren di media sosial dan banyak digunakan masyarakat.

Kata lemah teles ini sebenarnya juga merupakan judul lagu dari penyanyi Happy Asmara.

Lagu tersebut sebenarnya cerita tentang kekecewaan terhadap pasangan yang tiba-tiba menghilang tanpa ada kabar.

Ia lalu bermaksud mengingatkan agar hati-hati mendapatkan sial, karena Tuhan pasti yang akan membalas.

Dari situlah akhirnya kata lemah teles banyak digunakan dalam keseharian.

Arti kata lemah teles itu sendiri yaitu tanah basah yang kerap dikaitkan oleh masyarakat Jawa sebagai karma untuk individu tertentu.

Terdapat pula pepatah yang berkaitan dengan lemah teles, yakni lemah teles Gusti Allah sing mbales.

Pepatah ini memiliki arti apabila segala sesuatu entah baik ataupun buruk Tuhan lah yang akan membalas.

Setiap individu yang berbuat baik pasti akan mendapatkan balasan yang baik, begitu juga dengan individu yang berbuat buruk pasti akan mendapatkan balasan buruk.

Meski demikian, sebagian masyarakat ada yang menggunakan frasa lemah teles bukan dalam bentuk kekecewaan.

Melainkan mereka menggunakannya untuk menyatakan hal-hal baik yang berisi tentang harapan agar Tuhan membalas kebaikan orang lain.

Misalnya saja “Suwon, Mas Cristiano Ronaldo. Lemah Teles (Terimakasih, Mas Cristiano Ronaldo),” ujar @AgusMagelangan di akun Twitter-nya.

Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium

Kata-Kata Bahasa Jawa dan Artinya

Selain lemah teles, terdapat beberapa kata di bahasa Jawa dan artinya yang wajib kamu ketahui.

Berikut kata-kata bahasa Jawa dan artinya:

Tingkatan Bahasa Jawa

Agar kamu memahami bahasa Jawa yang semakin populer, sebaiknya kamu mengetahui tingkatan bahasa Jawa.

Berdasarkan ahli Bahasa Jawa dan Budaya, Sry Satriya Tjatur Wisnu Sasangka menjelaskan, unggah-ungguh atau tingkatan bahasa Jawa bisa dibedakan menjadi dua yaitu bentuk ngoko (ragam ngoko) dan krama (ragam krama).

Ragam ngoko terdiri dari ngoko lugu dan ngoko alus.

Sementara itu, ragam krama terdiri dari krama lugu dan krama alus.

Keempat tingkatan bahasa ini dibedakan sesuai dengan usia hingga jabatan lawan bicara.

Semakin tua dan tinggi jabatan lawan bicara, maka bahasa yang digunakan semakin tinggi tingkat kesopanan dan kehalusannya.

Ingin mengetahui lebih mendalam tentang bahasa jawa? Kamu bisa membaca buku Bahasa Jawa Dasar Edisi Revisi karya Dwi Puspitorini, Ratnawati Rachmat.

Menariknya, buku ini membahas tentang dasar bahasa Jawa, baik tulis maupun lisan, baik ragam ngoko maupun ragam krama, dan dilengkapi dengan instrumen latihan serta disusun dengan sistematika sederhana.

Tertarik mengoleksinya? Segera check out di Gramedia.com!

Selain itu, ada gratis voucher diskon yang bisa kamu gunakan tanpa minimal pembelian. Yuk, beli buku di atas dengan lebih hemat! Langsung klik di sini untuk ambil vouchernya.

TAG:

Terkini
Lihat Semua
Jelajahi