Mengapa Bangsa Barat Melakukan Penjelajahan Samudra? Simak 5 Alasannya Berikut Ini!

Lihat Foto
Sumber Gambar: Freepik.com
Mengapa bangsa barat melakukan penjelajahan samudera
Rujukan artikel ini:
Korps Marsose Dan Perang Belanda…
Pengarang: Prasetyo Ramadhan
Penulis Okky Olivia
|
Editor: Almira Rahma Natasya

Sejarah mencatat bahwa bangsa-bangsa Eropa pernah mengukir sejarah dengan memutuskan untuk melakukan sebuah ekspedisi atau penjelajahan ke beberapa belahan bumi lain, terhitung sejak abad ke-15 Masehi.

Zaman ekspedisi ini kemudian disebut sebagai zaman penjelajahan samudra, atau yang biasa dikenal dengan era the age of discovery.

Portugis dan Spanyol adalah dua negara yang pertama kali melakukan penjelajan samudra dan mengelilingi dunia, baru kemudian diikuti oleh bangsa Eropa lain seperti Belanda dan Inggris.

Mengapa bangsa barat melakukan penjelajahan samudra? Simak latar belakang ekspedisinya berikut ini.

Latar Belakang Bangsa Barat Melakukan Penjelajahan Samudra

1. Perang Salib

Perang salib merupakan perang agama yang terjadi di Asia Barat dan Eropa pada abad ke-11 sampai abad ke-17, yang disokong langsung oleh Gereja Katolik.

Perang yang berlangsung selama lebih dari 200 tahun ini terbagi menjadi tujuh periode peperangan, dan melibatkan hampir seluruh masyarakat Eropa, Arab, dan Turki Seljuk.

Jika Orang-orang Kristen menyebut ini sebagai Perang Salib, maka orang Islam menyebutnya sebagai Perang Suci, dan perebutan kota Yerussalem menjadi salah satu penyebab dimulainya peperangan ini.

2. Jatuhnya Konstantinopel dan Runtuhnya Kekaisaran Romawi

Kekalahan dan keruntuhan Kekaisaran Romawi Timur memiliki pengaruh yang sangat besar bagi bangsa-bangsa di Eropa, ditambah juga dengan jatuhnya wilayah Konstantinopel ke tangan Turki Utsmani (Kekaisaran Ottoman).

Peristiwa ini membuat akses perdagangan bangsa Eropa ke wilayah Asia menjadi terputus sehingga memperburuk kondisi ekonomi Eropa, padahal Konstantinopel adalah pintu utama perdagangan Asia dan Eropa.

Akibatnya, bangsa Eropa kesulitan untuk mendapatkan ekspor rempah-rempah Asia yang pada saat itu menjadi komoditas penting dan paling dicari di pasaran.

3. Perkembangan Ilmu Teknologi dan Sains

Kekalahan di Perang Salib ternyata membuat teknologi dan Sains di Eropa menjadi semakin berkembang, terutama pada zaman Renaisans atau abad Pencerahan di awal abad ke-15 Masehi.

Nicolas Copernicus dan Galileo Galilei juga muncul dengan teori yang menyebutkan bahwa bumi berbentuk bulat dan memiliki orbit yang selalu mengelilingi matahari.

Teori ini membuat pemikiran masyarakat Eropa menjadi terbuka, dan memunculkan keinginan untuk mencari tahu hal-hal baru mengenai alam semesta, salah satu caranya adalah dengan melakukan penjelajahan samudra.

4. Mencari Kepulauan Rempah-Rempah

Demi memenuhi kebutuhan dan permintaan pasar, bangsa Eropa mulai mencari jalur lain dengan melakukan penjelajahan samudra ke belahan bumi lainnya.

Tanpa disangka, peristiwa penjelajahan samudra ini menjadi salah satu titik awal terjadinya kolonialisme di Indonesia selama beratus-ratus tahun lamanya.

Kepulauan Nusantara memang sudah terkenal sebagai penghasil rempah-rempah yang utama, bahkan pala, lada, dan cengkeh yang menjadi komoditas termahal juga tumbuh subur di beberapa wilayah di Nusantara.

5. Semangat 3G (Gold, Glory, Gospel)

Penjelajahan samudra bangsa Eropa juga disertai dengan semangat 3G yang memiliki arti dan tujuannya masing-masing.

Selain itu, mereka juga ingin bertemu dengan Prester John yang diyakini sebagai rajanya Kristen di wilayah timur.

Semboyan 3G pertama kali dicetuskan oleh Paus Alexander VI dari Vatikan, yang lahir setelah adanya peristiwa Perjanjian Tordesilas antara Portugis dan Spanyol pada 1494.

Makna dan Tujuan Semboyan 3G:

Keinginan untuk memperoleh kekayaan dari wilayah-wilayah yang disinggahi, yakni berupa emas, perak, bahan tambang, dan barang berharga lainnya.

Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium

Keinginan untuk berjaya dengan cara menguasai wilayah yang didatangi dan menjadikannya sebagai koloni.

Semboyan Glory dan kolonialisme ini berhasil dilakukan di beberapa wilayah, salah satunya adalah di Kepulauan Nusantara selama lebih dari 300 tahun.

Merupakan sebuah misi penyebaran agama Nasrani yang dilakukan oleh Misionaris Eropa di wilayah-wilayah yang mereka datangi.

Mereka menganggap bahwa penyebaran ajaran Injil ini merupakan panggilan hidup dan tugas yang mulia.

Sebagai dua negara yang paling awal melakukan penjelajahan, Portugis dan Spanyol berhasil menemukan kepulauan rempah-rempah di Asia Tenggara.

Pada tahun 1512, armada laut Portugis sampai di wilayah Malaka dengan membawa lebih dari seribu orang dan 18 buah kapal.

Dari sinilah mereka mulai menanggalkan kekuasaannya di Nusantara.

Tidak lama setelah itu, Spanyol menyusul dan ikut menguasai beberapa wilayah Nusantara, tapi kekuasaan Portugis dan Spanyol tidak bertahan lama dan tergantikan oleh Belanda yang berhasil menancapkan kukunya selama berabad-abad.

Nah, itulah penjelasan singkat mengenai alasan bangsa barat atau bangsa Eropa melakukan penjelajahan samudra.

Dari sini bisa kita mengetahui bahwa Kepulauan Nusantara atau Indonesia adalah salah satu wilayah yang paling diperhitungkan, karena kekayaan alamnya yang berharga bagi bangsa lain di berbagai belahan dunia.

Salah satu bentuk kolonialisme Belanda di Indonesia bisa kamu temukan dalam buku Korps Marsose dan Perang Belanda di Aceh karya Prasetyo Ramadhan.

Selain Perang Jawa, Perang Aceh adalah salah satu peperangan termahal dan tersulit yang pernah dialami Belanda.

Perang ini bahkan menguras habis kas negara Belanda secara besar-besaran.

Sejak agresi pertamanya di Aceh tahun 1873, Belanda tidak pernah berhasil menguasai seluruh wilayah Aceh, para pejuang dan masyarakat Aceh benar-benar tidak sudi tunduk dan mengakui kedaulatan Belanda, hal ini membuat Aceh dicap sebagai satu-satunya wilayah yang paling sulit untuk ditaklukkan.

Taktik gerilya dari hutan ke hutan yang diterapkan rakyat Aceh membuat Belanda frustasi hingga mereka memutuskan untuk membentuk unit pasukan khusus yang diberi nama Korps Marechaussee atau Korps Marsose.

Korps Marsose dirancang dan dijadikan sebagai prajurit serba bisa yang harus berani bertempur dari jarak dekat, dan harus berhasil masuk ke pedalaman hutan untuk menangkap para pejuang Aceh yang tidak pernah sanggup dilakukan oleh tentara Belanda pada umumnya.

Melalui buku ini, kamu akan mengetahui bagaimana perjuangan keras yang dilakukan oleh rakyat Aceh demi membela tanah airnya sekaligus harga dirinya.

Di sisi lain kamu juga akan mengetahui bagaimana liciknya Belanda yang menghalalkan segala cara untuk memperoleh kemenangan.

Buku ini sudah bisa kamu dapatkan melalui Gramedia.com.

Selain itu, ada gratis voucher diskon yang bisa kamu gunakan tanpa minimal pembelian. Yuk, beli buku di atas dengan lebih hemat! Langsung klik di sini untuk ambil vouchernya.

TAG:

Terkini
Lihat Semua
Jelajahi