Jujur Terhadap Diri Sendiri sebagai Cara Meraih Kesejahteraan Psikologis

Lihat Foto
Sumber Gambar: Pexels.com
Rujukan artikel ini:
Berani Tidak Disukai
Pengarang: Ichiro Kishimi dan Fumitake…
Penulis Lika Purnama
|
Editor: Ratih Widiastuty

Kesejahteraan psikologis adalah kondisi di mana seseorang merasa bahagia, merasakan hidup yang bermakna, puas dan memiliki penilaian positif terhadap hidup yang ia jalani.

Kesejahteraan dapat dicapai melalui berbagai cara, salah satunya adalah dengan selalu jujur pada diri sendiri.

Sayangnya, manusia seperti terprogram untuk menciptakan kesan yang sempurna tentang dirinya sendiri meskipun tidak selalu benar.

Padahal, tindakan berbohong ini justru memperburuk keadaan dan memberi dampak negatif pada diri kita dalam jangka panjang.

Mengapa Jujur pada Diri Sendiri Itu Penting?

Jujur pada diri sendiri tidak hanya memberi banyak hal positif pada diri kita, melainkan pada orang lain yang ada di sekitar kita juga.

Menjadi jujur memungkinkan kita untuk tetap dapat memunculkan pemikiran yang positif, sekalipun kehidupan sedang memburuk, seolah kita akan diberi kekuatan untuk menghadapi permasalahan yang ada dan tidak lari dari kenyataan dengan berusaha membohongi diri sendiri.

Manfaat Jujur pada Diri Sendiri

1. Hidup Lebih Ringan

Ketika kamu mampu untuk jujur pada diri sendiri, kamu akan lebih mampu untuk dapat menerima segala kekurangan dan kelebihan yang kamu miliki.

Kamu dapat memahami sepenuhnya apa yang mampu dan tidak mampu kamu lakukan, sehingga penilaian orang lain terhadap dirimu menjadi tidak begitu penting lagi.

Kamu juga akan bisa hidup lebih berani, kamu yang paling mengenal dirimu secara mendalam, sehingga tidak ada lagi pendapat orang lain yang bisa membuatmu jatuh.

Kamu akan dapat terus fokus pada tujuan dan bisa mengabaikan komentar-komentar tidak penting yang hanya membuat lelah.

Dengan begini, tuntutan yang ada di pundakmu tidak akan seberat dahulu dan hidup akan terasa lebih ringan.

2. Hubungan Lebih Sehat

Dasar dari hubungan apapun adalah kejujuran.

Namun, rasanya sangat mustahil bagi kita untuk bisa jujur terhadap orang lain bila kepada diri sendiri saja kita masih terus berbohong, sedangkan satu kebohongan yang kita simpan akan terus memicu kebohongan-kebohongan lainnya.

Tentunya ini akan berdampak buruk, tidak hanya bagi diri kita, namun juga bagi hubungan kita dengan orang lain.

Sedangkan untuk membuat hubungan yang kita miliki dapat bertahan lama, entah pertemanan maupun hubungan romantis, maka kejujuran adalah hal mutlak.

Cara Menjadi Jujur pada Diri Sendiri

1. Maafkan Diri Sendiri

Satu hal penting yang sering menjadi alasan mengapa orang sering membohongi dirinya sendiri adalah karena takut mengambil tanggung jawab dan agar terhindar dari konsekuensi atas kesalahan yang dilakukan.

Padahal, untuk dapat move on dan menata hidup dengan baik, perlu untuk bertanggung jawab dan belajar dari kesalahan.

Memaafkan diri sendiri meskipun sekilas aneh, namun memiliki efek besar yang mampu membuat kita menghindari tindakan denial, sehingga kita bisa menerima diri kita apa adanya.

Sebab dengan menerima diri apa adanya, rasa takut terhadap konsekuensi yang dihadapi akan perlahan terkikis.

Kita juga akan lebih memahami bahwa kita hanyalah manusia biasa yang pasti bisa berbuat salah.

Dengan melakukan semua ini akan perlahan membuat kejujuran lebih mudah untuk masuk dalam diri kita.

2. Berhenti Meremehkan Diri Sendiri

Satu kesalahan terbesar yang mungkin sangat sering kita lakukan adalah terlalu meremehkan diri sendiri.

Kita sering takut akan mimpi yang terlalu tinggi digapai atau pada masa depan yang terlalu jauh untuk dikejar.

Padahal bukannya kita tidak sanggup, namun selalu ada sisi lain dari diri kita yang berusaha berbohong dengan meremehkan bahwa kita tidak layak.

Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium

Padahal bukannya kita tidak layak, hanya saja kita tidak bisa jujur dan terlanjur takut.

Karena itu, cobalah untuk percaya pada kemampuan yang kamu punya dan coba menghadapi rasa takut, sehingga kebohongan tentang tidak layak tersebut dapat hilang.

3. Jangan Abaikan Perasaanmu

Jika kita ditanya oleh siapapun tentang, “bagaimana kabarmu?” atau “kamu baik-baik aja kan?”, maka pasti hampir selalu kita jawab dengan kalimat “aku gak apa-apa” atau “aku baik-baik aja”, sekalipun dunia kita seolah akan runtuh.

Memang bisa dimengerti bahwa ada kalanya kita ingin terlihat kuat dihadapan orang lain sehingga memilih menutupi apa yang kita rasakan, sayangnya ini adalah kebohongan kecil yang turut menjadi dasar kenapa kita suka membohongi diri sendiri.

Kita terlanjur memasang topeng di hadapan orang lain, sehingga tanpa sadar kita juga memberikan sugesti pada diri sendiri bahwa kita benar-benar baik-baik saja.

Hal ini menyebabkan perasaan yang harusnya dikeluarkan jadi tertahan dan tidak tersalurkan dengan baik.

Sedangkan jika perasaan tersebut selalu diabaikan dan dipendam, akan menjadi bom waktu yang mengganggu kesehatan kita secara mental.

Jika tidak bisa jujur pada orang lain, setidaknya jujurlah pada diri sendiri dengan menyadari dan menerima perasaan-perasaan yang menyelimuti diri kita saat itu.

4. Tidak Masalah Jika Tidak Tahu Semua Hal

Kita manusia, bukan Google yang berjalan.

Otak kita memiliki batasan kapasitas yang membuat kita tidak mungkin tahu segala hal dan itu adalah wajar.

Jadi, tidak masalah bila kita tidak memiliki jawaban atas pertanyaan orang lain, atau kita lupa pada materi yang kita terima bertahun-tahun lalu.

Kita tidak perlu berpura-pura mengetahui segalanya.

Justru dengan mengakui ketidaktahuan kita dan menunjukan bahwa kita memiliki kemauan keras untuk belajar, akan membuat kita terlihat lebih baik dan memiliki semangat juang.

5. Berani Tidak Disukai

Salah satu alasan lain mengapa kita sering membohongi diri sendiri adalah karena kita takut bila jujur akan tidak disukai orang lain.

Kita lantas berpura-pura menjadi orang yang bukan kita agar dapat diterima.

Jika kita hidup untuk memenuhi ekspektasi orang lain, pasti akan sangat melelahkan, bukan?

Karena itu, agar dapat menjadi lebih jujur pada diri sendiri, cobalah untuk berani.

Buku Berani Tidak Disukai yang ditulis oleh Ichiro Kishimi dan Fumitake Koga akan membantu kamu untuk dapat menentukan arah hidup dan bebas dari beban ekspektasi orang lain.

Kamu akan diperkenalkan dengan gaya berpikir baru, sehingga sanggup memaafkan diri sendiri, mencintai diri, dan menyingkirkan hal-hal yang tidak penting dari pikiran yang mendorongmu menjadi orang lain.

Dalam buku berisi 352 halaman ini akan membantu kamu menyangkal hasrat untuk diakui sekaligus menjawab pertanyaan tentang kebahagiaan hidup yang mungkin selama ini kamu cari.

Itulah cara-cara jujur terhadap diri sendiri.

Jika kamu tertarik pada buku Berani Tidak Disukai, segera kunjungi Gramedia.com untuk mendapatkan bukunya.

Selain itu, ada gratis voucher diskon yang bisa kamu gunakan tanpa minimal pembelian. Langsung klik di sini untuk ambil vouchernya.

Selamat membaca!

TAG:

Terkini
Lihat Semua
Jelajahi