Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Digital Parenting ala Pesantren: Mengatasi Screen Time dengan Soul Time

Kompas.com, 18 Agustus 2026, 12:00 WIB
Juz 'Amma for Little Ones Sumber Gambar: Gramedia.com Juz 'Amma for Little Ones
Rujukan artikel ini:
Qanza: Juz 'Amma for Little…
Pengarang: Ustaz Achmad Fathurrohman Rustandi,…
|
Editor Novia Putri Anindhita

Aktivitas harian di Pesantren Suciati Saliman pagi hari, santri bangun pukul empat untuk tahajud dan persiapan setoran hafalan al-Qur’an.

Sementara aktivitas harian di sebagian rumah, anak-anak bangun dan langsung mengecek notifikasi gawai.

Sebagai pengasuh Pesantren Madina dan juga penulis buku anak, dan Juz ‘Amma for Little Ones di Kreatifafa dan m&c Gramedia, Penulis menyaksikan jurang yang makin melebar antara anak-anak yang tumbuh dengan ritual digital dengan anak-anak yang tumbuh dengan ritual spiritual.

Data dari Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia yang disampaikan Woro Srihastuti Sulistyaningrum melalui komdigi.go.id, anak-anak di Indonesia sekitar 29% populasi atau sekitar 80 juta jiwa.

Sebanyak 82% anak-anak sudah menggunakan ponsel dan 56% sudah mengakses internet.

Namun, hanya 37% anak saja yang pernah menerima informasi tentang keamanan internet.

Indonesia juga menempati peringkat empat dunia dalam kasus pornografi anak secara online.

Bahkan, data National Center for Missing & Exploited Children yang dikutip Kompas.id lebih mencengangkan.

Pada tahun 2024, Indonesia berada di peringkat ketiga terbesar sebagai negara yang ditemukan insiden kejahatan seksual anak melalui internet (cybertipeline) dengan total 1.450.403 kasus yang dilaporkan.

Akar Masalah yang Jarang Disadari

Masalah utamanya bukan pada gawai, melainkan pada beberapa hal yang sering tidak disadari, di antaranya:

  • Ketidakbijaksanaan digital dalam pengasuhan, anak tidak pernah diberi pengetahuan yang memadai tentang hal yang boleh dan tidak, serta tentang bahaya dan tantangan.
  • Tidak ada alternatif menarik dalam aktivitas anak di dunia nyata. Karena anak-anak hari ini hanya di dalam rumah, tidak ada eksplorasi di luar rumah. Berbeda dengan anak-anak dua puluh tahun lalu yang memiliki banyak aktivitas alternatif menarik di luar rumah dan bertualang.
  • Tidak adanya modeling yang memadai dari orangtua karena orangtuanya juga kecanduan gawai.
  • Pengajaran agama yang tidak sesuai dengan pengalaman digital yang pernah dirasakan anak-anak.

Sebagai pengkaji Maqashid Syariah, Penulis melihat dalam konteks hari ini sebagai ketidakcakapan memenuhi Hifzh al-‘Aql (menjaga akal) dan Hifzh al-Nafs (menjaga jiwa).

Bukan teknologi yang menjadi sumber masalah, tetapi tidak adanya keseimbangan antara spiritualitas dan dunia digital di sistem pengasuhan modern.

Maqashid Syariah dan Kesejahteraan Digital

Maqashid Syariah yang Penulis pahami dari Imam Asy-Syatibi dalam al-Muwafaqat memberikan cara pandang jelas bahwa tujuan utama syariat ada lima.

Hifz al-Din (menjaga agama), apakah gawai menghambat atau membantu tumbuh kembang spiritual anak? Hifz al-Nafs (menjaga jiwa), apakah gawai dengan konten digitalnya merusak atau membangun kesejahteraan mental anak? Hifz al-‘Aql (menjaga akal), apakah gawai menurunkan atau meningkatkan pengetahuan anak? Hifzh al-Mal (menjaga harta), apakah konsumtif atau produktif? Hifzh al-Nasl (menjaga keturunan), apakah bisa menyiapkan anak menjadi orangtua yang baik di masa depan? Dengan cara pandang ini, orangtua bisa mengevaluasi setiap keputusan dalam digital parenting.

Dari pengalaman Penulis mengajar mata kuliah agama Islam di Universitas Gadjah Mada dan pesantren, anak hari ini tidak butuh agama hanya sebagai daftar kumpulan larangan, tetapi sebagai mata air makna yang sesuai dengan kehidupan mereka.

Tidak hanya melarang menggunakan TikTok, tetapi bisa mengajarkan etika bermedia sosial agar berhati-hati dalam menonton, mengomentari, dan berinteraksi di dunia maya.

Di Madina Institute Indonesia dan pesantren kami membahas fikih konten, hukum ujaran kebencian, menyebar hoaks, dan konten negatif.

Juga belajar akhlak di media sosial berbasis kitab Adab al-‘Alim wa al-Muata’alim.

Kami juga membedah fenomena media sosial dalam Saturday Forum.

Di keluarga seharusnya orangtua memiliki batas waktu pemakaian gawai.

Menghadirkan waktu berkualitas dengan anak tanpa gawai, walau dalam keseharian sangat sulit dilakukan karena orangtua sudah lelah seharian bekerja.

Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium

Sampai rumah tinggal sisa tenaga sehingga inginnya beristirahat tanpa dibebani urusan parenting anak.

Orangtua seharusnya menghadirkan suasana agar anak lebih tertarik dengan dunia nyata, misal dengan mengajak berenang, berjalan-jalan di komplek, berkebun, membaca buku fisik, olahraga, dan aktivitas lainnya.

Penulis menyusun Juz Amma for Little Ones yang bisa menjadi jembatan orangtua dan anak dalam membaca, memahami, dan menarasikan setiap surat dengan cara yang menyenangkan.

Dalam bentuk buku pop-up dinilai bisa sebagai jembatan interaksi orangtua dan anak.

Mereka bisa bermain secara interaktif, bercerita, dan berimajinasi seperti di game digital.

Selain itu, buku pop-up ini juga memberikan pengalaman sensorik yang dimainkan bersama sehingga meningkatkan ikatan orangtua dan anak.

Orangtua terlibat aktif dalam kegiatan membaca bersama.

Ini adalah momen terbaik memasukkan pengajaran nilai agama dengan cara yang menyenangkan.

Buku pop-up Islami bahkan meningkat 200% dalam dua tahun terakhir membuktikan bahwa anak masih tertarik dengan konten fisik yang kreatif.

Solusi Praktis untuk Keluarga

Untuk membangun kebiasaan penggunaan gawai yang sehat dalam keluarga, beberapa solusi sederhana dapat diterapkan, antara lain:

  • Keluarga bisa memulai dengan mengecek penggunaan gawai anggota keluarga selama seminggu.
  • Membuat kesepakatan dengan anak-anak kapan bisa memakai gawai.
  • Minimal membuat satu ruangan yang bebas gawai, misal ruang makan.
  • Orangtua menyiapkan waktu khusus untuk aktivitas nyata seperti membaca buku bersama, bermain bersama, dan sejenisnya.
  • Edukasi anak tentang konten yang tidak boleh dilihat, mengenali hoaks, mengenali video kekerasan, dan melindungi privasi.
  • Anak-anak bisa diajarkan cara memakai gawai yang bermanfaat, misalnya, membaca al-Qur’an melalui aplikasi yang didampingi orangtua.
  • Menonton konten edukasi yang bisa didiskusikan dengan keluarga, seperti di pesantren, keluarga juga penting memiliki sistem evaluasi.

Membangun Generasi Digital Berakhlak

Memberi anak gawai tanpa pengawasan sama halnya seperti memberi anak-anak pisau tajam, tanpa mengajarkan cara memegangnya.

Keduanya alat bermanfaat, tetapi amat sangat berbahaya tanpa pengetahuan dan pengawasan.

Tujuan Penulis bukan membuat anak-anak anti teknologi, tetapi mendidik anak-anak menggunakan teknologi dengan bijak.

Teknologi adalah wasilah (alat) bukanlah ghayah (tujuan).

Alat bisa menjadi kebaikan jika digunakan dengan tepat dan menjadi musibah jika disalahgunakan.

Mari mulai dari diri sendiri karena Rasulullah Saw. mengingatkan setiap orang adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.

Orangtua adalah pemimpin dan anak-anak adalah amanah.

Di zaman digital ini, penting untuk kembali merenungkan bahwa anak-anak perlu tahu kapan harus melepaskan gawainya, dan melihat makna di dunia nyata.

Juz Amma for Little Ones bisa menjadi teman belajar dan mengalihkan perhatian anak dari gawai.

Pesantren bukanlah lembaga tanpa cacat, dengan segala keterbatasannya, telah terbukti mengurangi gawai cukup efektif.

Kini giliran keluarga Muslim mencobanya dalam konteks yang sesuai dengan dirinya.

Rekomendasi Buku Terkait

Terkini Lainnya

Ciri Puyuh Mau Bertelur: Tanda Fisik, Perilaku, dan Cara Mengetahuinya dengan Mudah

Ciri Puyuh Mau Bertelur: Tanda Fisik, Perilaku, dan Cara Mengetahuinya dengan Mudah

buku
Masa Produktif Puyuh Bertelur: Umur Ideal, Puncak Produksi, dan Cara Menjaganya Tetap Optimal

Masa Produktif Puyuh Bertelur: Umur Ideal, Puncak Produksi, dan Cara Menjaganya Tetap Optimal

buku
Kapan Puyuh Mulai Bertelur? Kenali Usia dan Tandanya Berikut Ini

Kapan Puyuh Mulai Bertelur? Kenali Usia dan Tandanya Berikut Ini

buku
Kandungan Nutrisi Telur Puyuh dan Manfaatnya bagi Tubuh

Kandungan Nutrisi Telur Puyuh dan Manfaatnya bagi Tubuh

buku
Jalur Migrasi Burung: Pengertian, Rute, dan Peran Indonesia dalam Flyway Asia

Jalur Migrasi Burung: Pengertian, Rute, dan Peran Indonesia dalam Flyway Asia

buku
Apa Alasan Burung Bermigrasi? Cari Tahu di Sini!

Apa Alasan Burung Bermigrasi? Cari Tahu di Sini!

buku
Apa Itu Migrasi Burung? Pengertian, Penyebab, dan Proses Terjadinya

Apa Itu Migrasi Burung? Pengertian, Penyebab, dan Proses Terjadinya

buku
Kekayaan Raja Maroko: Sumber Kekayaan dan Fakta Menariknya

Kekayaan Raja Maroko: Sumber Kekayaan dan Fakta Menariknya

buku
Peran Raja Maroko: Kedudukan, Wewenang, dan Pengaruhnya dalam Pemerintahan Modern

Peran Raja Maroko: Kedudukan, Wewenang, dan Pengaruhnya dalam Pemerintahan Modern

buku
Dokumen SDUWHV Apa Saja? Ini Daftar Dokumen Wajib dan Tips Lolos Verifikasi

Dokumen SDUWHV Apa Saja? Ini Daftar Dokumen Wajib dan Tips Lolos Verifikasi

buku
Cara Daftar e-Visa Imigrasi dengan Mudah

Cara Daftar e-Visa Imigrasi dengan Mudah

buku
Bazi Bukan Sekadar Ramalan, Ini Cara Memahaminya

Bazi Bukan Sekadar Ramalan, Ini Cara Memahaminya

buku
Menjawab Rasa Ingin Tahu Tanpa Batas bersama Ensiklopedia Anak – Kamu Mau Tahu Segalanya?

Menjawab Rasa Ingin Tahu Tanpa Batas bersama Ensiklopedia Anak – Kamu Mau Tahu Segalanya?

buku
Menyingkap Sejarah Manusia dari Berbagai Negara di Dunia

Menyingkap Sejarah Manusia dari Berbagai Negara di Dunia

buku
Memasuki Pintu Gerbang Menuju Ratusan Keajaiban di Dunia bersama Ensiklopedia Lengkap Pertamaku

Memasuki Pintu Gerbang Menuju Ratusan Keajaiban di Dunia bersama Ensiklopedia Lengkap Pertamaku

buku
Bukan Gaji yang Kurang, Bisa Jadi Kamu Salah Urutan Bayar

Bukan Gaji yang Kurang, Bisa Jadi Kamu Salah Urutan Bayar

buku
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau