Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dampak Strict Parents pada Remaja: Disiplin, Tekanan Mental, atau Luka Emosional?

Kompas.com, 29 Januari 2026, 12:00 WIB
Dampak Strict Parents pada Remaja  Sumber Gambar: Freepik.com Dampak Strict Parents pada Remaja 
Rujukan artikel ini:
Dampak Pola Asuh Orang Tua…
Pengarang: Yeni Devita
Penulis Vadiyah
|
Editor Novia Putri Anindhita

Sikap orang tua yang tegas adalah hal wajar karena untuk membentuk anak yang disiplin dan bertanggung jawab.

Namun, saat ketegasan berubah menjadi sikap terlalu mengontrol, penuh larangan, dan minim kompromi, maka hal tersebut dikategorikan sebagai pola strict parents.

Meski dilandasi niat baik, pola strict parents ini malah memberikan tekanan pada anak.

Anak dituntut untuk patuh, salah bertindak dianggap sebagai perlawanan, dan perasaan yang jarang didengar merupakan hal yang sering terjadi.

Kondisi seperti ini dapat memberikan dampak yang lebih terasa ketika anak memasuki usia remaja.

Padahal, masa remaja merupakan fase pencarian jati diri untuk belajar mengenal diri sendiri dan membangun kepercayaan diri.

Jika kondisi ini terjadi maka fase tersebut menjadi terhambat sehingga berpengaruh pada perkembangan dan perilaku anak.

Biasanya, anak yang dibesarkan dengan strict parents terlihat penurut, memiliki nilai bagus, dan aman, nyatanya di dalam dirinya menyimpan banyak tekanan, kecemasan, takut gagal, bahkan luka emosional yang terbawa hingga dewasa.

Berikut ini beberapa dampak strict parents pada remaja yang perlu menjadi perhatian para orang tua.

Apa Itu Strict Parents?

Strict parents adalah orang tua dengan kontrol tinggi, aturan ketat, dan komunikasi satu arah.

Sekilas terlihat rapi dan terstruktur, seperti jadwal jelas, aturan wajib dipatuhi, dan standar tinggi.

Tapi anak menjadi tidak punya ruang bertanya atau menyampaikan pendapat karena hampir semua keputusan datang dari orang tua, dari belajar, pergaulan, hobi, sampai cara bersikap.

Anak diharapkan patuh, bukan paham, salah sedikit biasanya berujung hukuman atau ceramah, bukan diskusi.

Kalau terus dibiarkan, anak bisa tumbuh dengan rasa takut salah hingga dewasa.

Mengapa Strict Parenting Sangat Berpengaruh pada Remaja?

Remaja sedang membangun identitas diri dan kemandirian emosional.

Mereka bukan anak kecil lagi, tapi juga belum sepenuhnya dewasa sehingga butuh ruang untuk mencoba, salah, dan belajar dari pengalaman sendiri.

Beberapa kebutuhan penting remaja di fase ini adalah sebagai berikut:

  • Pendapatnya Diakui: Bukan semua harus dituruti, tapi suara mereka perlu didengar.
  • Percaya Mengambil Keputusan: Mereka perlu belajar bertanggung jawab, bukan selalu diarahkan.
  • Dukungan Saat Gagal: Kegagalan adalah bagian dari proses tumbuh dan belajar, bukan suatu aib.

Kalau kebutuhan ini terabaikan, remaja patuh bukan karena mereka paham, tapi karena takut.

Tekanan yang terus menekan tanpa ruang dialog ini bisa menimbulkan stres, kecemasan, dan konflik batin yang tersimpan lama.

Dampak Strict Parents pada Kesehatan Mental Remaja

Remaja yang dibesarkan dengan strict parents lebih rentan stres, cemas, dan terbiasa memendam emosi.

Hidup mereka di bawah standar tinggi dan ekspektasi besar.

Berikut beberapa dampak strict parents yang paling umum.

1. Stres

Remaja dengan strict parents rawan stres karena mereka selalu dalam mode siaga yang membuat tubuh dan pikiran tegang saat mencoba hal baru.

2. Kecemasan Berlebihan

Remaja dengan strict parents sulit untuk membuat keputusan karena takut salah atau dikritik.

Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium

3. Merasa Tak Pernah Cukup Baik

Hal ini bisa terjadi karena sering kali usaha besar mereka dinilai kurang, jarang mendapat pujian dan hanya mendapatkan kritik.

4. Takut Mengecewakan Orang Tua

Perasaan ini muncul karena selama ini keinginan pribadi mereka ditekan, masalah disembunyikan demi citra “anak baik”.

Ironisnya, tekanan ini jarang terlihat dari luar.

Pertanyaan seperti, “Kalau aku gagal, aku masih layak dicintai nggak?” terus berputar di kepala.

Jika berlangsung lama, stres bisa berkembang jadi gangguan kecemasan, burnout, bahkan depresi.

Dari sini, dampaknya tidak cuma soal mental, melainkan cara remaja menghadapi dan memahami emosinya pun ikut terbentuk.

Dampak Sosial Strict Parents pada Remaja

Remaja yang tumbuh dengan strict parents sering terlihat patuh di rumah, tapi bingung bersikap di luar.

Hal ini bisa terjadi karena semua batasan yang ada dalah hidupnya datang dari kontrol orang tua, bukan kesadaran diri.

Beberapa pola sosial yang sering muncul:

  • Sulit berkata “Tidak” karena terbiasa menuruti orang lain, bahkan saat merugikan diri sendiri.
  • Mudah dimanipulasi karena kurangnya batasan pribadi membuat mereka gampang dipengaruhi teman atau lingkungan dominan.
  • Takut konflik karena sering kali konflik diasosiasikan dengan hukuman sehingga mereka cenderung diam atau mengalah.
  • Memberontak di luar rumah, patuh di rumah, tapi melepas aturan di luar tanpa cara mengelola kebebasan yang sehat.

Tak jarang remaja menjalani dua kehidupan sekaligus, seperti rapi dan patuh di rumah, tapi berbeda di luar.

Pola ini bukan karena niat buruk, tapi karena mereka tidak pernah diajarkan mengenali batasan diri dan bertanggung jawab atas kebebasan.

Jika kebingungan sosial ini terus berlanjut, dampaknya bisa terbawa hingga dewasa dan memengaruhi pertemanan, pasangan, dan lingkungan kerja.

Memahami dampak strict parents itu penting, bukan untuk menyalahkan, tapi supaya orang tua bisa lebih sadar dan remaja bisa tumbuh dengan lebih sehat.

Dengan memahami pola asuh dan efeknya, orang tua bisa mulai menciptakan lingkungan di mana remaja tidak cuma patuh, tapi juga tahu caranya merasa aman, dihargai, dan dipercaya.

Hal ini merupakan langkah kecil untuk membentuk generasi yang lebih kuat dan lebih bahagia, tanpa harus kehilangan kedekatan di rumah.

Selain itu, orang tua juga bisa belajar dari pengalaman nyata, dialog, dan referensi seperti buku atau artikel terpercaya untuk menemukan cara-cara praktis mendampingi remaja.

Salah satunya dengan membaca buku Dampak Pola Asuh Orang Tua Terhadap Masalah Mental Emosional Remaja.

Buku ini tepat dijadikan panduan dalam memahami hubungan pola asuh dan kesehatan mental pada remaja.

Isi buku ini merupakan hasil dialog dengan remaja di sebuah Kelurahan sehingga berisi cerita dan konflik nyata.

Mulai dari cerita dengan teman sebayanya, tekanan dari orang tua, sampai masalah perilaku yang bisa memicu stres dan kecemasan.

Selain itu, buku ini juga menyoroti bagaimana pola asuh yang terlalu ketat atau minim komunikasi bisa membentuk cara remaja menghadapi masalah dan hubungan sosial mereka di kehidupan sehari-hari.

Buku ini memberikan insight praktis untuk orang tua maupun siapa saja yang ingin memahami psikologi remaja dengan lebih realistis.

Tidak hanya membahas masalahnya saja, buku ini juga memberikan langkah-langkah nyata yang bisa diterapkan supaya remaja bisa belajar mandiri, percaya diri, dan lebih siap menghadapi hidup.

Cocok banget buat kamu yang pengen lihat sisi lain dari parenting, bukan cuma teori, tapi juga pengalaman nyata yang relatable.

Buku Dampak Pola Asuh Orang Tua Terhadap Masalah Mental Emosional Remaja bisa langsung diakses melalui Gramedia Digital.

Rekomendasi Buku Terkait

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau