Dampak Strict Parents pada Remaja Sikap orang tua yang tegas adalah hal wajar karena untuk membentuk anak yang disiplin dan bertanggung jawab.
Namun, saat ketegasan berubah menjadi sikap terlalu mengontrol, penuh larangan, dan minim kompromi, maka hal tersebut dikategorikan sebagai pola strict parents.
Meski dilandasi niat baik, pola strict parents ini malah memberikan tekanan pada anak.
Anak dituntut untuk patuh, salah bertindak dianggap sebagai perlawanan, dan perasaan yang jarang didengar merupakan hal yang sering terjadi.
Kondisi seperti ini dapat memberikan dampak yang lebih terasa ketika anak memasuki usia remaja.
Padahal, masa remaja merupakan fase pencarian jati diri untuk belajar mengenal diri sendiri dan membangun kepercayaan diri.
Jika kondisi ini terjadi maka fase tersebut menjadi terhambat sehingga berpengaruh pada perkembangan dan perilaku anak.
Biasanya, anak yang dibesarkan dengan strict parents terlihat penurut, memiliki nilai bagus, dan aman, nyatanya di dalam dirinya menyimpan banyak tekanan, kecemasan, takut gagal, bahkan luka emosional yang terbawa hingga dewasa.
Berikut ini beberapa dampak strict parents pada remaja yang perlu menjadi perhatian para orang tua.
Strict parents adalah orang tua dengan kontrol tinggi, aturan ketat, dan komunikasi satu arah.
Sekilas terlihat rapi dan terstruktur, seperti jadwal jelas, aturan wajib dipatuhi, dan standar tinggi.
Tapi anak menjadi tidak punya ruang bertanya atau menyampaikan pendapat karena hampir semua keputusan datang dari orang tua, dari belajar, pergaulan, hobi, sampai cara bersikap.
Anak diharapkan patuh, bukan paham, salah sedikit biasanya berujung hukuman atau ceramah, bukan diskusi.
Kalau terus dibiarkan, anak bisa tumbuh dengan rasa takut salah hingga dewasa.
Remaja sedang membangun identitas diri dan kemandirian emosional.
Mereka bukan anak kecil lagi, tapi juga belum sepenuhnya dewasa sehingga butuh ruang untuk mencoba, salah, dan belajar dari pengalaman sendiri.
Beberapa kebutuhan penting remaja di fase ini adalah sebagai berikut:
Kalau kebutuhan ini terabaikan, remaja patuh bukan karena mereka paham, tapi karena takut.
Tekanan yang terus menekan tanpa ruang dialog ini bisa menimbulkan stres, kecemasan, dan konflik batin yang tersimpan lama.
Remaja yang dibesarkan dengan strict parents lebih rentan stres, cemas, dan terbiasa memendam emosi.
Hidup mereka di bawah standar tinggi dan ekspektasi besar.
Berikut beberapa dampak strict parents yang paling umum.
Remaja dengan strict parents rawan stres karena mereka selalu dalam mode siaga yang membuat tubuh dan pikiran tegang saat mencoba hal baru.
Remaja dengan strict parents sulit untuk membuat keputusan karena takut salah atau dikritik.
Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium
Hal ini bisa terjadi karena sering kali usaha besar mereka dinilai kurang, jarang mendapat pujian dan hanya mendapatkan kritik.
Perasaan ini muncul karena selama ini keinginan pribadi mereka ditekan, masalah disembunyikan demi citra “anak baik”.
Ironisnya, tekanan ini jarang terlihat dari luar.
Pertanyaan seperti, “Kalau aku gagal, aku masih layak dicintai nggak?” terus berputar di kepala.
Jika berlangsung lama, stres bisa berkembang jadi gangguan kecemasan, burnout, bahkan depresi.
Dari sini, dampaknya tidak cuma soal mental, melainkan cara remaja menghadapi dan memahami emosinya pun ikut terbentuk.
Remaja yang tumbuh dengan strict parents sering terlihat patuh di rumah, tapi bingung bersikap di luar.
Hal ini bisa terjadi karena semua batasan yang ada dalah hidupnya datang dari kontrol orang tua, bukan kesadaran diri.
Beberapa pola sosial yang sering muncul:
Tak jarang remaja menjalani dua kehidupan sekaligus, seperti rapi dan patuh di rumah, tapi berbeda di luar.
Pola ini bukan karena niat buruk, tapi karena mereka tidak pernah diajarkan mengenali batasan diri dan bertanggung jawab atas kebebasan.
Jika kebingungan sosial ini terus berlanjut, dampaknya bisa terbawa hingga dewasa dan memengaruhi pertemanan, pasangan, dan lingkungan kerja.
Memahami dampak strict parents itu penting, bukan untuk menyalahkan, tapi supaya orang tua bisa lebih sadar dan remaja bisa tumbuh dengan lebih sehat.
Dengan memahami pola asuh dan efeknya, orang tua bisa mulai menciptakan lingkungan di mana remaja tidak cuma patuh, tapi juga tahu caranya merasa aman, dihargai, dan dipercaya.
Hal ini merupakan langkah kecil untuk membentuk generasi yang lebih kuat dan lebih bahagia, tanpa harus kehilangan kedekatan di rumah.
Selain itu, orang tua juga bisa belajar dari pengalaman nyata, dialog, dan referensi seperti buku atau artikel terpercaya untuk menemukan cara-cara praktis mendampingi remaja.
Salah satunya dengan membaca buku Dampak Pola Asuh Orang Tua Terhadap Masalah Mental Emosional Remaja.
Buku ini tepat dijadikan panduan dalam memahami hubungan pola asuh dan kesehatan mental pada remaja.
Isi buku ini merupakan hasil dialog dengan remaja di sebuah Kelurahan sehingga berisi cerita dan konflik nyata.
Mulai dari cerita dengan teman sebayanya, tekanan dari orang tua, sampai masalah perilaku yang bisa memicu stres dan kecemasan.
Selain itu, buku ini juga menyoroti bagaimana pola asuh yang terlalu ketat atau minim komunikasi bisa membentuk cara remaja menghadapi masalah dan hubungan sosial mereka di kehidupan sehari-hari.
Buku ini memberikan insight praktis untuk orang tua maupun siapa saja yang ingin memahami psikologi remaja dengan lebih realistis.
Tidak hanya membahas masalahnya saja, buku ini juga memberikan langkah-langkah nyata yang bisa diterapkan supaya remaja bisa belajar mandiri, percaya diri, dan lebih siap menghadapi hidup.
Cocok banget buat kamu yang pengen lihat sisi lain dari parenting, bukan cuma teori, tapi juga pengalaman nyata yang relatable.
Buku Dampak Pola Asuh Orang Tua Terhadap Masalah Mental Emosional Remaja bisa langsung diakses melalui Gramedia Digital.