Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Letak Kerajaan Pajang dan Perannya dalam Peralihan Kekuasaan di Tanah Jawa

Kompas.com, 18 Februari 2026, 17:00 WIB
Letak Kerajaan Pajang  Sumber Gambar: makamhaji-sukoharjo.desa.id Letak Kerajaan Pajang 
Rujukan artikel ini:
Pasang Surut Kerajaan-Kerajaan Di Pulau…
Pengarang: The Syaeful Cahyadi
Penulis Anggi
|
Editor Novia Putri Anindhita

Saat menelusuri sejarah kerajaan-kerajaan Islam di Jawa, nama Pajang kerap muncul sebagai mata rantai penting antara Kerajaan Demak dan Mataram.

Meski masa pemerintahannya tidak panjang, Kerajaan Pajang justru memainkan peran besar dalam dinamika politik, budaya, dan militer Jawa pada abad ke-16.

Pajang bukan sekadar nama wilayah di peta, melainkan titik peralihan kekuasaan yang ikut menentukan arah sejarah Jawa berikutnya.

Agar dapat memahami peran strategis Kerajaan Pajang secara lebih utuh, berikut penjelasan mengenai letak geografisnya.

Letak Kerajaan Pajang di Jawa Tengah dan Akses Strategisnya

Secara historis, Kerajaan Pajang terletak di wilayah Pajang, dekat Surakarta (Solo), Jawa Tengah.

Pusat kekuasaannya tepatnya berada di kawasan pedalaman yang dilalui Sungai Bengawan Solo.

Berbeda dengan Kerajaan Demak yang berorientasi maritim, Pajang berdiri di wilayah agraris yang subur serta relatif aman dari ancaman laut.

Kondisi geografis ini yang menjadikan Pajang memiliki sejumlah keuntungan strategis, antara lain:

1. Dekat dengan Jalur Sungai Utama

Sungai Bengawan Solo menjadi urat nadi transportasi, perdagangan, dan komunikasi.

Sungai ini menghubungkan wilayah pedalaman dengan pesisir utara Jawa sehingga memungkinkan distribusi hasil bumi serta memudahkan pergerakan pasukan dan administrasi kekuasaan.

2. Wilayah Agraris yang Subur

Letak Kerajaan Pajang berada di dataran rendah yang kaya hasil pertanian.

Ketahanan pangan menjadi modal penting bagi keberlangsungan kerajaan untuk menopang kekuasaan dan stabilitas politik.

3. Relatif Aman dari Serangan Laut

Berada jauh dari wilayah pesisir membuat Kerajaan Pajang tidak secara langsung terancam oleh kekuatan asing yang datang melalui jalur laut, seperti Portugis atau kekuatan Eropa lainnya.

Kondisi ini memberi keuntungan dalam menjaga stabilitas politik kerajaan.

4. Berada di Persimpangan Wilayah Jawa

Pajang menjadi titik temu antara Jawa Tengah, Jawa Timur, dan jalur menuju wilayah Mataram.

Letak ini memudahkan proses konsolidasi kekuasaan ke berbagai daerah.

Dengan letak geografis seperti ini, Pajang berada di posisi yang sangat ideal untuk tampil sebagai pusat pemerintahan baru ketika Kerajaan Demak mulai diguncang konflik internal.

Dari sinilah terlihat awal pergeseran penting dalam sejarah Jawa, jika pusat kekuasaan tidak lagi bertumpu di wilayah pesisir, melainkan bergerak ke pedalaman yang lebih stabil dan strategis.

Letak Kerajaan Pajang dalam Konteks Politik Pasca Runtuhnya Kerajaan Demak

Letak Kerajaan Pajang erat kaitannya dengan situasi politik Jawa setelah runtuhnya Kesultanan Demak.

Saat Demak dilanda perebutan kekuasaan yang berkepanjangan, muncul kebutuhan akan pusat pemerintahan baru yang lebih stabil dan tidak terlalu terikat dengan konflik elite pesisir.

Saat itu, Sultan Hadiwijaya atau Jaka Tingkir kemudian menetapkan Pajang sebagai pusat kekuasaan, sebuah keputusan strategis yang mempertimbangkan politik dan geografis.

Secara politik, letak Pajang memberikan beberapa keuntungan penting:

Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium

1. Jauh dari Basis Kekuatan Lama Demak

Dengan berpindah ke wilayah pedalaman, Sultan Hadiwijaya bisa membangun legitimasi politik baru tanpa terlalu terikat dengan elite-elite Demak yang bertikai.

2. Mudah Mengontrol Wilayah Pedalaman Jawa

Banyak kadipaten dan daerah penting berada di wilayah tengah Jawa.

Letak Pajang menjadi titik yang efektif untuk mengawasi dan mengoordinasikan kekuasaan atas daerah-daerah tersebut.

3. Menjadi Penyeimbang Kekuatan Lokal

Letak Pajang memungkinkan kerajaan ini berperan sebagai mediator dan pengendali berbagai kekuatan regional, termasuk Mataram yang saat itu masih berkembang.

Dari titik inilah terlihat bahwa letak Kerajaan Pajang tidak bisa dipahami semata sebagai urusan geografis.

Posisi Pajang juga mencerminkan strategi politik yang matang.

Kerajaan ini hadir sebagai jembatan kekuasaan, yakni menghubungkan Demak yang berkarakter maritim dengan Mataram yang tumbuh sebagai kerajaan agraris dengan kekuasaan yang lebih terpusat.

Letak Kerajaan Pajang dan Warisan Budaya Pedalaman Jawa

Selain berpengaruh pada arah politik dan ekonomi, letak Kerajaan Pajang juga memberi dampak besar pada pembentukan budaya dan pola kekuasaan di Jawa.

Berada di wilayah pedalaman, Pajang menjadi titik awal lahirnya tradisi kerajaan Islam Jawa yang tidak memutus akar lokal, melainkan tumbuh berdampingan dengannya.

Beberapa warisan penting yang lahir dari posisi ini antara lain:

1. Perpaduan Islam dan Tradisi Jawa

Islam di Pajang berkembang lewat pendekatan kultural.

Nilai-nilai kejawen, simbol spiritual, dan struktur sosial Jawa tetap hidup, lalu diselaraskan secara perlahan dengan ajaran Islam.

2. Model Kepemimpinan Raja sebagai Pusat Kekuasaan

Raja dipandang bukan sekadar pemegang kekuasaan politik, tetapi juga figur sentral dalam tatanan sosial dan spiritual masyarakat.

3. Fondasi bagi Lahirnya Kerajaan Mataram

Dari Pajang muncul tokoh-tokoh penting seperti Ki Ageng Pemanahan dan Sutawijaya (Panembahan Senapati).

Letak Pajang menjadi pijakan awal bagi tumbuhnya Mataram sebagai kekuatan besar di Jawa.

Setelah memahami letak Kerajaan Pajang serta perannya dalam sejarah politik di Tanah Jawa, kini saatnya memahami konteks kerajaan lainnya yang berkaitan dengan naik-turunnya kekuasaan, intrik politik, dan keputusan para raja yang memimpinnya.

Buku Pasang Surut Kerajaan-Kerajaan di Pulau Jawa Zaman Klasik tepat untuk dijadikan bacaan lanjutan.

Dari buku ini, kamu dapat melihat bagaimana kerajaan-kerajaan di Jawa, termasuk Pajang tidak berdiri sendiri, tapi selalu dibentuk oleh kondisi politik, sosial, dan budaya di sekitarnya.

Disusun secara kronologis dan runtut, buku ini mengajak kamu mengikuti perjalanan para raja Jawa dari masa ke masa, mulai dari bagaimana mereka naik ke tampuk kekuasaan, intrik yang menyertainya, hingga alasan di balik runtuhnya kerajaan-kerajaan besar.

Menariknya, buku ini tidak hanya menampilkan sisi heroik para raja, tapi juga membuka sisi manusiawi mereka, seperti keputusan keliru, konflik internal, dan ambisi yang kadang justru menjadi awal kehancuran.

Perspektif ini membuat kita bisa melihat Pajang bukan sekadar sebagai “kerajaan peralihan”, tetapi sebagai bagian dari pola besar pasang surut kekuasaan di Jawa.

Yuk, baca selengkapnya dan pesan bukunya sekarang juga di Gramedia.com.

Rekomendasi Buku Terkait

Terkini Lainnya

7 Cerita Rakyat Toraja Singkat yang Penuh Pesan Moral dan Nilai Budaya

7 Cerita Rakyat Toraja Singkat yang Penuh Pesan Moral dan Nilai Budaya

buku
Legenda Sabai Nan Aluih: Cerita Rakyat Minangkabau tentang Keberanian dan Bakti kepada Keluarga

Legenda Sabai Nan Aluih: Cerita Rakyat Minangkabau tentang Keberanian dan Bakti kepada Keluarga

buku
Legenda Banyuwangi: Kisah Sri Tanjung dan Asal Usul Nama Banyuwangi

Legenda Banyuwangi: Kisah Sri Tanjung dan Asal Usul Nama Banyuwangi

buku
Cara Mengatasi Kompas HP Tidak Bergerak dan Penyebab Sensor Error

Cara Mengatasi Kompas HP Tidak Bergerak dan Penyebab Sensor Error

buku
Cerita Rakyat Surabaya: Kisah Dongeng Sura Baya dan Sejarah Aslinya

Cerita Rakyat Surabaya: Kisah Dongeng Sura Baya dan Sejarah Aslinya

buku
Cerita Rakyat Dayak yang Populer dan Masih Dikenang Hingga Kini 

Cerita Rakyat Dayak yang Populer dan Masih Dikenang Hingga Kini 

buku
Legenda Hulonthalo: Kisah Asal Usul Nama Gorontalo yang Sarat Makna Budaya

Legenda Hulonthalo: Kisah Asal Usul Nama Gorontalo yang Sarat Makna Budaya

buku
Kisah Sawerigading dan Asal Usul Legenda Terkenal Suku Bugis 

Kisah Sawerigading dan Asal Usul Legenda Terkenal Suku Bugis 

buku
Arti Fundamental secara Harfiah, KBBI, dan Contohnya di Berbagai Bidang

Arti Fundamental secara Harfiah, KBBI, dan Contohnya di Berbagai Bidang

buku
Cara Memakai Kompas Digital di HP dan Panduan Kalibrasinya

Cara Memakai Kompas Digital di HP dan Panduan Kalibrasinya

buku
Cerita Pong Tiku: Kisah Pahlawan Toraja yang Gigih Melawan Penjajahan

Cerita Pong Tiku: Kisah Pahlawan Toraja yang Gigih Melawan Penjajahan

buku
6 Legenda Betawi Terkenal Beserta Sejarah dan Pesan Moralnya

6 Legenda Betawi Terkenal Beserta Sejarah dan Pesan Moralnya

buku
Tren

Tren "Marriage Is Scary": Benarkah Menikah Adalah 'Ijazah Kelulusan' Hidup yang Wajib Dikejar?

buku
Ketika Validasi Menjadi Candu dan Hubungan Kehilangan Empati

Ketika Validasi Menjadi Candu dan Hubungan Kehilangan Empati

buku
Cerita Rakyat Gorontalo Singkat: Mengenal Legenda dan Kisah Tradisional yang Penuh Pesan Moral

Cerita Rakyat Gorontalo Singkat: Mengenal Legenda dan Kisah Tradisional yang Penuh Pesan Moral

buku
Asal Usul Gorontalo: Sejarah, Arti Nama, dan Perjalanan Panjang Daerah Hulonthalo

Asal Usul Gorontalo: Sejarah, Arti Nama, dan Perjalanan Panjang Daerah Hulonthalo

buku
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau