Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sejarah dan Letak Kerajaan Samudera Pasai: Kerajaan Islam Pertama di Indonesia

Kompas.com, 13 Februari 2026, 14:00 WIB
Letak Kerajaan Samudera Pasai  Sumber Gambar: Gramedia.com Letak Kerajaan Samudera Pasai 
Rujukan artikel ini:
Islam Dalam Arus Sejarah Indonesia
Pengarang: Jajat Burhanudin
Penulis Adnan
|
Editor Novia Putri Anindhita

Samudera Pasai memiliki peran penting dalam sejarah bangsa sebagai kerajaan Islam pertama yang berdiri di Nusantara.

Kerajaan ini menjadi pintu gerbang utama bagi masuknya peradaban Islam dan arus perdagangan internasional ke Asia Tenggara.

Banyak sejarawan sepakat bahwa Pasai adalah titik awal penyebaran budaya Melayu-Islam yang kini mendominasi kawasan ini.

Namun, sering kali siswa maupun masyarakat umum masih bingung mengenai lokasi persis kerajaan besar ini sekarang.

Posisi wilayahnya yang istimewa adalah salah satu hal yang memengaruhi kemakmuran ekonomi dan kestabilan politik Samudera Pasai selama berabad-abad.

Artikel ini akan mengupas tuntas sejarah dan letak kerajaan samudera pasai berdasarkan bukti autentik yang ada.

Letak Kerajaan Samudera Pasai

Pertanyaan mengenai Samudera Pasai terletak di provinsi mana sekarang sering muncul dalam ujian sejarah di sekolah.

Secara administratif modern, pusat kerajaan ini terletak di wilayah Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh, Indonesia.

Lokasi intinya berada di Kecamatan Samudera dan Kecamatan Syamtalira Bayu yang merupakan kawasan pesisir yang subur.

Pusat pemerintahan diperkirakan berjarak kurang lebih 15 kilometer dari Kota Lhokseumawe yang kini menjadi pusat industri.

Wilayah ini secara geografis dikenal sebagai Pesisir Timur Laut Aceh yang menghadap langsung ke perairan lepas.

Topografi wilayahnya yang datar dan dekat dengan muara sungai menjadikannya lokasi ideal untuk pembangunan kota pelabuhan.

Jejak peradaban masa lalu masih dapat ditemukan di antara pemukiman penduduk yang kini mendiami kawasan bersejarah tersebut.

Bukti Catatan Sejarah Mengenai Lokasi Pasai

Keberadaan dan lokasi Samudera Pasai bukan sekadar legenda rakyat, melainkan tercatat rapi dalam jurnal perjalanan penjelajah dunia.

1. Catatan Perjalanan Ibnu Batutah (Rihlah)

Ibnu Batutah adalah seorang penjelajah muslim tersohor asal Maroko yang singgah ke Pasai pada tahun 1345 Masehi.

Dalam catatannya yang berjudul Rihlah, ia menyebut wilayah ini dengan nama "Sumutrah" yang kemudian menjadi asal nama Sumatera.

Ia mendeskripsikan Pasai sebagai negeri yang sangat hijau, subur, dan memiliki kota pelabuhan yang sangat sibuk.

Ibnu Batutah mencatat bahwa pusat kerajaan dikelilingi oleh benteng kayu yang kokoh untuk melindungi istana sultan.

Letak kerajaan digambarkan berada di tepi pantai namun memiliki akses sungai yang memungkinkan kapal masuk ke pedalaman.

Deskripsi ini sangat cocok dengan kondisi geografis muara Sungai Pasai yang ada di Kabupaten Aceh Utara saat ini.

Ia juga memuji kesalehan Sultan Malik az-Zahir yang memimpin saat itu sebagai raja yang sangat taat beragama.

2. Kesaksian Marco Polo dalam Perjalanan Pulang dari China

Jauh sebelum kedatangan Ibnu Batutah, penjelajah Venesia bernama Marco Polo sudah lebih dulu singgah pada tahun 1292.

Marco Polo mampir ke wilayah utara Sumatera ini dalam perjalanan pulangnya dari Tiongkok menuju ke Persia.

Dalam bukunya The Travels of Marco Polo, ia menyebut sebuah tempat bernama "Samara" yang diidentifikasi sebagai Samudera.

Ia tinggal di sana selama lima bulan untuk menunggu angin muson berubah arah agar kapal bisa berlayar.

Marco Polo mencatat bahwa penduduk setempat di daerah perkotaan sudah mulai memeluk hukum Islam atau disebut Saracen.

Catatan ini menjadi bukti tertulis tertua dari bangsa Eropa mengenai keberadaan komunitas Islam di lokasi tersebut.

Kesaksiannya mengonfirmasi bahwa Pasai terletak di jalur strategis yang pasti disinggahi kapal-kapal dagang jarak jauh.

Mengapa Letak Kerajaan Samudera Pasai Sangat Strategis?

Kejayaan ekonomi Pasai tidak bisa dilepaskan dari posisi geografisnya yang menguasai jalur emas perdagangan maritim dunia.

Kerajaan ini berdiri tepat di bibir Selat Malaka yang merupakan pintu gerbang lalu lintas pelayaran internasional.

Selat Malaka berfungsi sebagai jalur penghubung utama antara pedagang dari dunia Arab-India dengan pedagang dari Tiongkok.

Posisi Pasai menjadikannya sebagai Bandar Transito atau tempat persinggahan wajib bagi kapal-kapal yang melintas.

Pedagang asing harus singgah di pelabuhan Pasai untuk mengisi perbekalan air bersih dan makanan sebelum melanjutkan perjalanan.

Selain itu, mereka juga harus menunggu pergantian arah angin muson yang terjadi setiap enam bulan sekali.

Selama masa tunggu tersebut, terjadilah transaksi dagang besar-besaran yang melibatkan komoditas rempah-rempah dari seluruh Nusantara.

Pasai sendiri dikenal sebagai penghasil lada kualitas terbaik yang sangat diburu oleh pasar Eropa dan Timur Tengah.

Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium

Letak yang strategis ini juga memudahkan interaksi budaya dan agama, menjadikan Pasai pusat penyebaran Islam pertama.

Para pedagang muslim dari Gujarat dan Persia merasa nyaman tinggal di Pasai karena lokasinya yang mudah dijangkau.

Bisa dikatakan, letak geografis adalah modal utama Samudera Pasai dalam membangun imperium maritim yang disegani dunia.

Kondisi Geografis dan Batas Wilayah Kerajaan

Untuk membayangkan batas wilayah kekuasaan Samudera Pasai, kita perlu melihat peta politik Sumatera di masa lalu.

Wilayah inti kerajaan meliputi daerah pesisir yang diapit oleh dua sungai besar, yaitu Sungai Peusangan dan Sungai Pasai.

Di sebelah timur, wilayah Pasai berbatasan langsung dengan Kerajaan Perlak yang merupakan sekutu sekaligus kerabat dekatnya.

Pernikahan politik antara Sultan Malik as-Saleh dengan Putri Ganggang Sari dari Perlak menyatukan kedua wilayah ini.

Penyatuan tersebut memperluas wilayah kekuasaan Pasai hingga mencakup hampir seluruh pesisir timur laut Aceh masa kini.

Pusat keramaian dan pasar terpusat di daerah yang disebut Samudera Geudong, yang kini menjadi nama kecamatan.

Wilayah pedalaman yang berbukit-bukit berfungsi sebagai daerah penyangga dan penghasil komoditas pertanian seperti lada dan beras.

Sungai-sungai yang bermuara di Selat Malaka menjadi urat nadi transportasi yang menghubungkan pedalaman dengan pelabuhan internasional.

Kondisi tanah yang datar di pesisir memudahkan pembangunan infrastruktur kota dan pemukiman penduduk yang padat.

Sementara itu, jarak Samudera Pasai dari Banda Aceh adalah sekitar 270 kilometer ke arah timur.

Jarak yang cukup jauh dari ujung utara pulau ini memberikan Pasai otonomi pengembangan wilayahnya sendiri yang unik.

Kombinasi antara akses laut yang terbuka dan pedalaman yang subur menjadikan pertahanan ekonomi kerajaan sangat kuat.

Peninggalan Arkeologis sebagai Penanda Lokasi

Bukti paling tak terbantahkan mengenai lokasi kerajaan Samudera Pasai adalah keberadaan situs makam raja.

Kompleks makam pendiri kerajaan, Sultan Malik as-Saleh, ditemukan dalam kondisi terawat di Desa Beuringen, Aceh Utara.

Nisan makam ini bertuliskan angka tahun 1297 Masehi, menandai wafatnya sang pendiri dinasti Meukuta Alam tersebut.

Batu nisan tersebut terbuat dari batuan granit yang diimpor langsung dari Gujarat, India, membuktikan hubungan dagang internasional.

Selain makam raja, ditemukan pula ratusan nisan lain milik kerabat istana dan para ulama besar di sekitarnya.

Keberadaan kompleks pemakaman yang luas ini menandakan bahwa area tersebut dulunya adalah ibu kota yang padat.

Di dekat lokasi makam, terdapat pula situs reruntuhan yang dipercaya sebagai bekas pondasi istana kesultanan.

Penemuan mata uang emas Dirham di sekitar lokasi juga memperkuat bukti adanya aktivitas ekonomi pusat kerajaan.

Dirham Pasai adalah mata uang emas tertua di Nusantara, dengan kadar emas 70% dan berdiameter 10 milimeter.

Sebaran penemuan koin emas ini di berbagai desa sekitar Lhokseumawe menunjukkan luasnya area transaksi pasar kerajaan.

Situs-situs arkeologis ini kini menjadi museum terbuka yang memvalidasi semua catatan sejarah tentang lokasi Pasai.

Mengetahui letak dan sejarah Samudera Pasai membantu kita memahami akar identitas bangsa sebagai negara maritim yang besar.

Kejayaan masa lalu membuktikan bahwa nusantara pernah menjadi poros peradaban dunia berkat posisi strategis dan keterbukaan masyarakatnya.

Pengetahuan ini seharusnya memicu semangat generasi muda untuk menggali lebih dalam kekayaan sejarah Islam di Indonesia.

Bagi kamu yang ingin mendalami analisis sejarah tentang bagaimana Islam membentuk fondasi bangsa, buku Islam Dalam Arus Sejarah Indonesia karya Jajat Burhanudin adalah referensi yang wajib dibaca.

Buku ini menghadirkan narasi analitis mengenai proses awal islamisasi yang erat kaitannya dengan jalur perdagangan dan pembentukan kerajaan.

Penulis membagi pembahasannya ke dalam empat bagian utama yang menyimpul benang merah sejarah bangsa secara runtut.

Bagian selanjutnya memaparkan perkembangan peradaban Islam di bumi Nusantara hingga tantangan berat menghadapi kolonialisme bangsa Barat.

Sebagai penutup, buku ini memaparkan awal pergerakan modern Islam di Indonesia yang menjadi cikal bakal kemerdekaan bangsa.

Ditulis dengan deskripsi sejarah yang sangat perinci, karya ini dapat menjadi referensi penting bagi mahasiswa maupun akademisi.

Perkaya wawasan sejarahmu sekarang dengan membeli buku Islam Dalam Arus Sejarah Indonesia melalui Gramedia Digital.

Rekomendasi Buku Terkait

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau