Juz ‘Amma for Little Ones Survei sederhana pada Madrasah Diniyah Takmiliyah Suciati Saliman menunjukkan bahwa 80% anak hafal surat-surat pendek al-Qur’an, tetapi hanya 30% yang paham makna dasar dari surat yang dihafalnya.
Banyak orangtua berhasil membuat anak menghafal, tapi gagal membuat mereka merasakan makna dari ayatnya.
Generasi Alpha—Menurut Mark McCrindle peneliti asal Australia yang dikutip dari laman Britannica—adalah anak yang lahir 2010-2025 sebagai generasi digital, yang dilahirkan kebanyakan oleh Generasi Milenial.
Gen Alpha ini memiliki kebiasaan visual yang kuat, interaktif, dan pembelajar yang berbasis pengalaman.
Memiliki karakter berbeda dengan metode belajar generasi sebelumnya yang terbiasa dengan cara hafalan tradisional satu arah.
Generasi Alpha yang sejak lahir sudah terbiasa terstimulus dengan stimulasi digital sehingga berbeda dengan generasi sebelumnya.
Pengalaman mengajar di Pesantren Suciati Saliman dan Madina Institute Indonesia, anak memiliki hafalan al-Qur’an, tetapi mereka tidak memahami konteks historis dari sebuah ayat begitu juga metaforis dalam ayat dan kesulitan dalam menangkap makna al-Qur’an.
Sebetulnya tidak ada yang salah dengan menghafal, tetapi kalau terlalu fokus pada hafalan sampai meninggalkan pemahaman sama sekali bisa menjadi masalah.
Karena menyebabkan agama menjadi rutinitas kosong, hanya kumpulan daftar halal dan haram, hal yang boleh dan hal yang dilarang dilakukan.
Kalau kebiasaan ini terus dibiarkan, rentan terhadap pemahaman teks ayat kitab suci secara tekstual literalis ketika dewasa sehingga berpotensi menjadikan teks tercabut dari konteksnya.
Penulis beruntung bisa menghadirkan Juz ‘Amma for Little Ones, berusaha untuk menghadirkan Juz ‘Amma sebagai bacaan pertama yang menyenangkan bagi anak-anak.
Dalam setiap detail karya ini diperhatikan, seperti berusaha menghadirkan ilustrasi dalam setiap surat, memberikan pengalaman visual yang menarik sehingga anak bisa memiliki imajinasi tentang ayat yang dibacanya.
Selain itu, diharapkan juga pembaca memiliki pemahaman awal atas teks yang dibacanya.
Penjelasan singkat setiap ayat memberikan pemahaman awal sebuah ayat, tidak sekadar terjemahan tetapi juga interpretasi atas kalam Tuhan.
Dilengkapi dengan penambahan informasi tentang sabab nuzul (sebab diturunkan sebuah ayat) untuk memberikan pemahaman konteks sosial, politik, dan geografi pada setiap ayat.
Tujuannya agar para pembaca selalu memahami sebuah teks berbarengan dengan konteksnya sehingga memiliki pemahaman yang komprehensif.
Pembaca mendapatkan cita rasa bahasa dan nuansa teksnya.
Setiap ilustrasi yang dihadirkan berdasarkan diskusi panjang dengan illustrator.
Misalnya saat menggambarkan ayat tentang tauhid, Penulis lebih memilih ilustrasi yang menggambarkan kebesaran makhluk ciptaan Allah Swt. daripada terjebak pada antropomorfis.
Pengalaman penulis dalam mengajar di Pesantren Suciati Saliman, proses menghafal tanpa mengetahui maknanya hanya akan menjadi ingatan jangka pendek, sedangkan menghafal dengan mengetahui makna dan konteksnya akan menjadi ingatan jangka panjang.
Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium
Hal ini juga dikuatkan oleh Melissa Guarnaccia, LCSW dan Laura Angers Maddox, NCC, LPC yang dikutip dari laman Betterhelp.com.
Anak usia dini belajar dengan simbol, cerita, dan pengalaman emosional, misalnya mengajarkan QS. Ar-Rahman [55] tidak sekadar mengajarkan definisi, tetapi mencoba menghadirkan pengalaman merasakan belas kasih sayang orangtua kepada anak.
Atau ketika mengajarkan QS. Al-Fil [105] tidak hanya mengajarkan dengan definisi, tetapi menghadirkan pengalaman berkunjung ke kebun binatang.
Generasi Alpha terbiasa dengan storytelling yakni model belajar bercerita tidak sekadar menggurui.
Belajar agama dengan narasi cerita akan lebih disukai dari sekadar diajarkan.
Untuk itu, Juz ‘Amma for Little Ones berusaha menghadirkan pengalaman bercerita.
Seperti ketika menyusun QS. Al-Ikhlash [112] tidak dengan teks panjang, melainkan dengan ilustrasi yang menunjukkan dalam keindahan alam raya.
Di Pesantren Suciati Saliman, proses hafalan al-Qur’an jadi bagian dari pengalaman bukan tujuan akhir.
Santri tidak hanya menghafal tetapi juga diajak untuk memahami tafsir dan ilmu al-Qur’an agar memiliki pandangan lebih luas dan bisa membaca kitab suci tidak sebagai teks yang mati, tetapi teks yang hidup bisa bernafas sesuai dengan zamannya.
Pengalaman selama mengajar di Mardliyah Islamic Center Universitas Gadjah Mada, ada mahasiswa yang hafal al-Qur’an justru bertanya bagaimana menerapkan ayat ini dalam riset akademiknya?
Penulis merasa, sudah saatnya para orangtua dan guru bisa menjadi “penerjemah aktif” al-Qur’an, bukan sekadar memaksa anak-anak menghafalkan al-Qur’an.
Mari mencari makna bersama melalui berbagai buku pendukung lainnya.
Generasi Alpha butuh kedalaman spiritual yang penuh makna, bukan sekadar ritual yang kering makna.
Anak-anak digiring tidak hanya sebagai penghafal kitab suci, tetapi turut berkontribusi dalam menjaga makna ayat kitab suci.
Sudah saatnya mengubah standar keberhasilan, bukan sudah berapa ayat yang dihafal tetapi sudah berapa nilai yang dipahami.
Bayangkan, anak-anak zaman sekarang sudah bisa paham koding dasar yang rumit, tetapi tidak paham makna dan nuansa cita rasa bahasa al-Fatihah [1] yang dibacanya tujuh belas kali sehari.
Seperti seorang guru yang mengajarkan resep masakan yang tidak pernah mengajak muridnya ke dapur.
Kaya akan konsep, tetapi nir pengalaman.
Sebagai penulis Juz ‘Amma for Little Ones untuk anak-anak, saya berdoa agar karya sederhana ini bukan sekadar membantu menghafal, tetapi membuka pintu makna.
Bukankah al-Qur’an mengatakan a fa lā yatadabbarụnal-qur’āna yang berarti, “Maka apakah mereka tidak memperhatian al-Qur’an...?” bukan Maka apakah mereka tidak menghafalkan al-Qur’an?
Buku ini tersedia dan dapat dipesan di Gramedia.com.