Kita pasti tidak asing dengan istilah “sandwich generation”.
Mereka yang termasuk sebagai generasi sandwich bukan sekadar membantu keluarganya saat perlu, tapi kebagian tanggung jawab finansial lebih daripada yang seharusnya.
Bahkan, bagi mereka yang baru mulai merintis karier sudah harus memikirkan soal biaya bulanan orang tua, sambil menyiapkan masa depan dan mungkin juga adik-adiknya.
Kondisi ini seperti menjalankan hidup yang bukan buat dirinya sendiri.
Jadi, bagaimana caranya agar tidak terus stuck di sini? Salah satu faktor utama banyak orang terjebak menjadi generasi sandwich adalah rendahnya literasi finansial yang turun-temurun.
Kalau mau memutus rantai ini, maka harus dimulai dari diri kita sendiri.
Sebelum mengatur keuangan untuk orang tua atau orang lain, kita harus mengerti dulu konsep dasar finansial untuk diri sendiri dan mulai berhitung.
Setelah tahu angka kebutuhan sebenarnya, maka kita akan tahu proporsi yang sesuai untuk diberikan ke orang tua dan berapa yang bisa kita tabung untuk keperluan diri kita sendiri.
Jadi generasi sandwich itu mungkin berat, tapi kita juga punya pilihan untuk berhenti dan lepas beban ini.
Kalau mau benar-benar lepas dari beban sebagai generasi sandwich, berikut ini beberapa langkah yang bisa diambil.
Cara agar Terbebas Menjadi Generasi Sandwich
1. Tambah Sumber Penghasilan
Satu sumber income tidak akan cukup untuk kita yang mengurus diri sendiri dan orang tua sekaligus.
Jadi, selain kerjaan utama, kita bisa cari side job, bisa mulai dari yang ringan dan fleksibel seperti reseller, freelancer, atau mengajar les.
2. Dana Darurat
Sebagai generasi sandwich, punya dana darurat tidak lagi menjadi pilihan, tapi wajib.
Idealnya, kalau orang biasa cukup punya dana darurat sekitar 4-6 bulan jumlah pengeluaran.
Bagi generasi sandwich akan butuh sekitar 10-12 bulan karena dana tersebut tidak hanya akan digunakan diri kita sendiri, tetapi juga orang tua atau saudara kita.
Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium
3. Delay Gratification
Hal satu ini memang tidak mudah.
Orang lain mungkin sudah bisa jalan-jalan atau membeli barang-barang yang mereka inginkan, tapi generasi sandwich di sini harus berusaha untuk menahan.
Ini karena mereka punya prioritas yang lebih mendesak, seperti melunasi utang orang tua, membiayai pendidikan adik, dan kebutuhan pokok lainnya.
4. Ngobrol dan Negosiasi dengan Orang Tua
Kalau kita tidak terbuka dengan orang tua, mereka tidak akan tahu beban yang kita hadapi.
Obrolan ini bisa dimulai dengan diskusi soal kebutuhan utama mereka.
Semakin kita jujur dengan kondisi kita, semakin baik juga hubungan kita.
Kalau kita bisa bijak soal finansial dan mulai dari diri sendiri, maka ada harapan untuk generasi selanjutnya agar tidak mengalami hal yang sama.
5. Fokus di Proteksi, Bukan Investasi Berisiko
Satu lagi yang paling penting adalah jangan ikutan FOMO untuk cari untung cepat dengan investasi yang berisiko tinggi.
Prioritas kita adalah menyimpan uang dengan risiko kehilangan yang sekecil mungkin.
Kita mungkin tidak bisa seperti orang lain yang bebas eksplor, tapi kita bisa tetap bangun fondasi finansial yang stabil.
Ibaratnya seperti bangun rumah, kalau bahan bangunannya pas-pasan, satu kesalahan aja bisa bikin bangunannya roboh.
Jadi, kita harus lebih defensif dan konservatif secara finansial pada masa merintis.
Kalau kamu merasa lagi berjuang keluar dari beban generasi sandwich, membangun fondasi finansial, dan mencari cara bertahan di tengah tekanan hidup, kadang yang kita butuhkan bukan cuma teori, tetapi juga perspektif baru dari orang-orang yang pernah melewati prosesnya.
Oleh karena itu, jangan sampai terlewat event Grind Theory: From Zero to Impact yang akan diselenggarakan pada hari Sabtu, 23 Mei 2026.
Dengan narasumber ternama seperti Theo Derick, Deddy Corbuzier, dan narasumber lainnya yang akan membahas tentang proses, perjuangan, mindset, dan realitas membangun hidup dari titik nol.
Info lengkap dan pendaftarannya bisa cek di grindtheory.id atau ikuti update terbarunya di Instagram @grindtheory.id!