10 Cara Meningkatkan Kepercayaan Diri Anak Broken Home

Lihat Foto
Sumber Gambar: Freepik.com
Cara Meningkatkan Kepercayaan Diri Anak Broken Home
Rujukan artikel ini:
Pemberdayaan Psikologis Keluarga: Seri Kesehatan…
Pengarang: Netty Herawati
Penulis Adnan
|
Editor: Novia Putri Anindhita

Tumbuh di tengah keluarga yang penuh konflik sering kali terasa seperti berjalan di atas pecahan kaca.

Rumah yang seharusnya menjadi tempat berlindung justru menyisakan trauma mendalam.

Perasaan tidak aman ini perlahan dapat memengaruhi rasa percaya diri tanpa disadari sejak usia dini.

Namun, ketahuilah bahwa latar belakang keluarga sama sekali tidak mendefinisikan masa depan.

Kehancuran hubungan orang tua bukanlah vonis mati bagi kebahagiaan dan kesuksesan hidup anak.

Kamu memiliki kekuatan penuh untuk menulis ulang cerita hidup dan membangun identitas yang baru.

Artikel ini hadir untuk memvalidasi perasaanmu dan memberikan peta jalan menuju pemulihan diri.

Mari kita pelajari cara meningkatkan kepercayaan diri anak broken home agar kamu bisa bangkit.

Mengapa Percaya Diri Menjadi Tantangan bagi Anak Broken Home?

Anak-anak dari keluarga tidak harmonis sering kali menyerap energi negatif yang ada di rumah.

Tanpa sadar, mereka mengembangkan perasaan bersalah dan menganggap diri mereka sebagai penyebab keributan orang tua.

Beban emosional ini menciptakan suara kritis di kepala yang terus mengatakan bahwa mereka tidak berharga.

Selain konflik internal, stigma sosial mengenai perceraian juga sering kali menambah tekanan mental bagi anak.

Masyarakat terkadang memberikan label negatif atau tatapan kasihan yang justru membuat anak merasa rendah diri.

Anak merasa malu untuk membuka diri karena takut dihakimi atau dianggap "produk gagal" keluarga.

Akumulasi rasa bersalah dan stigma inilah yang menjadi tembok penghalang terbesar menuju kepercayaan diri.

10 Cara Praktis Meningkatkan Kepercayaan Diri

Memulihkan rasa percaya diri adalah proses bertahap yang membutuhkan kesabaran dan latihan yang konsisten.

Berikut adalah sepuluh langkah konkret yang bisa diterapkan mulai hari ini untuk memulihkan diri.

1. Berhenti Menyalahkan Diri Sendiri

Langkah pertama adalah menyadari sepenuhnya bahwa konflik orang tua bukanlah tanggung jawab anak.

Keputusan mereka untuk bertengkar atau berpisah adalah murni akibat ketidakdewasaan atau masalah orang dewasa.

Kamu tidak memiliki kendali atas pilihan hidup mereka, jadi lepaskan beban rasa bersalah tersebut.

Katakan pada diri sendiri bahwa kamu hanyalah anak yang layak mendapatkan kasih sayang tulus.

2. Mempraktikkan Afirmasi Positif Setiap Pagi

Otak mungkin sudah terbiasa merekam kata-kata kasar atau situasi negatif yang terjadi di rumah.

Lawan rekaman buruk tersebut dengan menanamkan kalimat positif baru setiap kali bangun tidur.

Berdirilah di depan cermin dan katakan dengan lantang bahwa kamu kuat, berharga, dan mampu.

Afirmasi ini perlahan akan memprogram ulang alam bawah sadar untuk lebih menghargai diri sendiri.

3. Menemukan Potensi dan Minat (Passion)

Alihkan energi kekecewaan menjadi bahan bakar untuk mengejar prestasi di bidang yang kamu sukai.

Fokuslah mengembangkan satu keahlian khusus, entah itu seni, olahraga, akademis, atau keterampilan teknis lainnya.

Pencapaian pribadi akan memberikan bukti nyata bahwa kamu memiliki nilai lebih di luar masalah keluarga.

Rasa bangga saat berhasil dapat menjadi obat paling ampuh untuk menambal krisis kepercayaan diri.

4. Membangun Support System yang Sehat

Keluarga biologis bukanlah satu-satunya tempat untuk mendapatkan rasa aman dan dukungan emosional di dunia ini.

Carilah lingkungan pergaulan positif yang bisa menerima kamu apa adanya tanpa menghakimi latar belakang.

Seperti sahabat yang baik, mentor, atau komunitas hobi bisa menjadi keluarga pengganti yang sangat suportif.

Berada di tengah orang-orang yang positif akan menular pada cara pandang terhadap diri sendiri.

5. Membatasi Paparan Konflik

Kamu berhak untuk menarik diri dari pertengkaran orang tua demi menjaga kewarasan mental pribadi.

Jangan memosisikan diri sebagai penengah atau kurir pesan antara ayah dan ibu yang sedang bermusuhan.

Buatlah batasan yang tegas dengan masuk ke kamar atau pergi keluar saat situasi memanas.

Menjaga jarak emosional bukan berarti durhaka, melainkan upaya untuk melindungi kesehatan mental.

Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium

6. Berhenti Membandingkan Diri dengan Orang Lain

Media sosial sering kali menampilkan potret keluarga bahagia yang bisa memicu rasa iri dan sedih.

Ingatlah bahwa apa yang dilihat di media sosial hanya potongan momen terbaik.

Setiap keluarga pasti memiliki masalahnya masing-masing yang tidak pernah ditunjukkan kepada publik secara terbuka.

Fokuslah pada perjalanan penyembuhan diri sendiri daripada meratapi nasib dengan membandingkan hidup orang lain.

7. Mencari Bantuan Profesional

Terkadang trauma masa kecil terlalu berat untuk dipikul sendirian tanpa bantuan tenaga ahli.

Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan psikolog guna mengurai benang kusut emosi dalam diri.

Terapis dapat membantumu mengenali pola perilaku yang merusak dan memberikan alat koping yang tepat.

Investasi pada kesehatan mental adalah bentuk cinta tertinggi yang bisa kamu berikan pada diri sendiri.

8. Menulis Jurnal Emosi

Menulis adalah salah satu cara yang sangat efektif untuk mengeluarkan sampah emosi dari dalam kepala.

Tumpahkan segala kekesalan, ketakutan, dan harapan ke dalam buku harian yang bersifat pribadi.

Proses ini dapat membantu melihat masalah dengan lebih objektif dan meredakan ketegangan batin.

Selain itu, jurnal juga bisa menjadi rekam jejak perkembangan mental dari waktu ke waktu.

9. Merawat Diri Secara Fisik (Self-Care)

Kesehatan fisik memiliki hubungan yang sangat erat dengan stabilitas emosi dan tingkat kepercayaan diri.

Pastikan untuk selalu tidur yang cukup, makan bergizi, dan rutin berolahraga setiap hari.

Tubuh yang bugar akan memproduksi hormon endorfin yang secara alami meningkatkan suasana hati.

Saat sudah merasa nyaman dengan penampilan fisik, rasa percaya diri juga akan ikut meningkat.

10. Memaafkan Demi Ketenangan Sendiri

Memaafkan orang tua yang toxic bukan berarti membenarkan perlakuan buruk yang mereka lakukan.

Memaafkan adalah melepaskan diri dari rantai kebencian yang selama ini mengikat hati.

Simpan energi untuk membangun masa depan, bukan untuk memelihara dendam masa lalu.

Ketenangan batin hanya bisa diraih saat kamu sudah berdamai dengan kenyataan yang tidak bisa diubah.

Konsep Self-Parenting: Menjadi Pelindung bagi Diri Sendiri

Salah satu teknik psikologi yang paling berdaya bagi anak korban perceraian adalah Self-Parenting.

Konsep ini mengajak untuk berperan sebagai orang tua yang ideal bagi diri sendiri.

Seperti belajar untuk memenuhi kebutuhan emosional inner child yang selama ini terabaikan oleh orang tua.

Berikan validasi, kasih sayang, dan rasa aman yang dulu tidak pernah kamu dapatkan di rumah.

Jadilah pelindung bagi diri sendiri dengan menetapkan standar perlakuan yang layak kamu terima.

Dengan melakukan ini, kamu tidak lagi menggantungkan kebahagiaan pada perubahan sikap orang tua.

Kamu juga mengambil alih kendali penuh atas kesejahteraan emosional dan menjadi arsitek bagi kebahagiaan sendiri.

Memutus Rantai Luka Keluarga

Menjadi percaya diri di tengah keluarga yang retak memang bukan perjalanan yang mudah, namun sangat mungkin dilakukan.

Luka masa lalu tidak harus menjadi warisan yang dibawa ke masa depan.

Dengan langkah yang tepat dan kemauan kuat, kamu bisa memutus rantai trauma tersebut dan tumbuh menjadi pribadi yang utuh.

Jika kamu membutuhkan panduan mendalam untuk memahami dinamika ini, buku Pemberdayaan Psikologis Keluarga Seri Kesehatan Mental dan Kesejahteraan Psikologis karya Netty Herawati adalah referensi yang sangat tepat.

Buku ini mencoba mengenalkan dinamika keluarga dengan menampilkan seluk-beluk interaksi serta hal-hal yang berkaitan dengannya.

Penulis menyajikannya dengan kalimat-kalimat yang sederhana dan lugas sehingga mudah dipahami oleh siapa saja.

Dengan harapan, konsep psikologi yang diberikan tidak terkesan kering dan membosankan bagi pembaca umum.

Selain itu, buku ini juga ditunjang dengan materi yang relevan untuk pemberdayaan mental anggota keluarga.

Nantinya diharapkan pembaca mampu menjaga keseimbangan emosional dan menciptakan kesejahteraan psikologis di masa depan.

Segera miliki panduan berharga ini dengan membelinya melalui Gramedia Digital.

TAG:

Terkini
Lihat Semua
Jelajahi