Istilah strict parents kini semakin populer menjadi topik pembicaraan di media sosial.
Topik ini sering kali muncul dalam diskusi seputar kesehatan mental, terutama saat seseorang membagikan pengalaman masa kecil yang terasa penuh tekanan dan serba diatur oleh orang tua.
Bahkan, banyak yang baru menyadari bahwa pola asuh yang mereka alami ternyata memengaruhi cara berperilaku mereka saat dewasa.
Meski sering dibicarakan, masih banyak yang belum benar-benar memahami makna dari strict parents.
Sebagian hanya menganggap bahwa strict parents adalah orang tua yang menerapkan kedisiplinan.
Agar tidak terjadi kesalahpahaman, simak penjelasan mengenai strict parents berikut ini.
Apa yang Dimaksud Strict Parents?
Strict parents adalah orang tua yang sangat ketat, mengontrol, dan menuntut kepatuhan anak tanpa memberi ruang untuk diskusi atau kebebasan berekspresi.
Bagi strict parents, aturan dan disiplin menjadi prioritas utama, sementara komunikasi dua arah dengan anak sering kali diabaikan.
Dalam psikologi, pola asuh seperti ini disebut dengan authoritarian parenting.
Berbeda dengan authoritative parenting yang tetap tegas, tapi memberikan ruang diskusi dan empati pada anak.
Semua orang tua pasti memiliki niat yang baik untuk anak-anaknya, mereka ingin anak aman, sukses, dan tidak mengulang kesalahan yang sama.
Akan tetapi, cara strict parents yang terlalu kaku justru membuat anak merasa dikontrol.
Contoh Strict Parents dalam Kehidupan Sehari-hari
Strict parents biasanya terlihat lewat larangan yang berlebihan, kontrol yang ketat, dan kepercayaan yang sangat minim pada anak.
Supaya lebih terasa dekat dengan realita, berikut beberapa contoh strict parents dalam kehidupan sehari-hari.
1. Anak Dilarang Ikut Kegiatan Organisasi
Bagi strict parents, fokus utama anak sering kali hanya belajar.
Kegiatan organisasi, komunitas, atau ekstrakurikuler sering dianggap hanya membuang waktu dan bisa mengganggu akademik atau sekolah.
Padahal, aktivitas seperti ini dapat melatih kepemimpinan, kerja tim, dan kepercayaan diri pada anak.
Larangan ini justru dapat membuat anak melihat minat dan potensinya sendiri bukan prioritas.
Dari sini, anak mulai terbiasa mengesampingkan apa yang sebenarnya ia sukai.
2. Jurusan Kuliah Ditentukan Orang Tua Tanpa Diskusi
Contoh ini sangat umum.
Anak mungkin sudah punya minat tertentu, tetapi orang tua merasa tahu mana yang paling aman atau paling menjanjikan.
Tanpa diskusi dengan anak, keputusan besar seperti jurusan kuliah diambil sepihak.
Anak akhirnya mengikuti, bukan karena yakin, tapi karena takut mengecewakan.
3. Anak Tidak Boleh Mengungkapkan Pendapat yang Berbeda
Dalam pola keluarga strict parents, beda pendapat sering dianggap sebagai bentuk pembangkangan.
Anak diharapkan sejalan dengan cara pikir orang tua, tanpa banyak komentar.
Akibatnya, anak belajar menahan opini, memilih diam, dan merasa pendapatnya tidak cukup penting untuk didengar.
Lama-kelamaan, kebiasaan ini bisa terbawa hingga dewasa sehingga anak sulit menyuarakan isi kepala sendiri.
4. Nilai 90 Dianggap Biasa, Nilai 80 Dianggap Gagal
Dalam strict parenting, standar ini sering tidak disertai apresiasi.
Nilai 90 dianggap memang seharusnya, sementara nilai 80 langsung dipandang sebagai kegagalan.
Proses belajar, usaha, dan kondisi mental anak jarang jadi bahan pertimbangan.
Dari kondisi ini, anak akan mulai mengukur dirinya hanya dari angka, bukan dari perkembangan.
5. Anak Dewasa Tetap Dikontrol
Bahkan, saat anak sudah dewasa, kontrol strict parents kadang tidak berkurang.
Jam pulang masih dipantau, pilihan teman dikomentari, dan keputusan pribadi tetap diawasi.
Batas antara perhatian dan kontrol jadi semakin kabur sehingga anak kesulitan merasa benar-benar mandiri.
Kenapa Orang Tua Bisa Menjadi Strict Parents?
1. Pola Asuh Turunan
Banyak strict parents dulunya juga dibesarkan dalam lingkungan yang keras dan penuh aturan sehingga tanpa sadar mereka mengulanginya karena itulah yang mereka kenal.
Bukan karena tidak sayang pada anak, tapi karena sejak kecil mereka diajarkan bahwa disiplin keras adalah bentuk cinta.
Sayangnya, tanpa refleksi, pola lama ini terus diwariskan, meski zamannya sudah berubah.
Dari sini, strict parenting sering kali dianggap sebagai kebiasaan yang dianggap normal.
Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium
2. Takut Anak Gagal
Rasa takut adalah pemicu yang sangat kuat.
Takut anak salah pergaulan, takut masa depannya suram, takut tidak bisa bersaing.
Ketakutan ini membuat orang tua merasa harus mengontrol hampir semua aspek hidup anak.
Masalahnya, ketika rasa takut terlalu dominan, kepercayaan pada anak justru semakin kecil.
3. Tekanan Sosial dan Budaya
Di banyak lingkungan, anak masih dianggap sebagai cerminan keberhasilan orang tua.
Prestasi anak jadi bahan perbandingan, bahkan penentu harga diri keluarga.
Tekanan ini membuat orang tua memasang standar tinggi dan merasa wajib mengatur anak agar tidak mempermalukan keluarga.
Tanpa disadari, tuntutan dari luar ikut masuk ke dalam rumah dan membentuk pola asuh yang kaku.
4. Kurangnya Edukasi Parenting
Banyak orang tua tidak pernah benar-benar memahami tentang pola asuh yang sehat dan adaptif.
Mereka mengasuh berdasarkan pengalaman, nasihat turun-temurun, atau apa yang dulu dianggap berhasil.
Padahal, setiap anak memiliki kebutuhan emosional yang berbeda, dan dunia yang mereka hadapi pun sudah jauh berubah.
Kurangnya literasi membuat strict parenting terasa seperti pilihan paling aman, meski belum tentu paling tepat.
Dampak Strict Parents saat Anak Dewasa
Banyak anak yang dibesarkan oleh strict parents tumbuh dengan kecemasan, kebiasaan overthinking, dan dorongan kuat untuk selalu menyenangkan orang lain.
Ketika anak sudah dewasa, tekanan dari pola asuh strict ini biasanya tidak hilang begitu saja.
Berikut beberapa dampaknya saat anak sudah dewasa.
1. Sulit Mengambil Keputusan Sendiri
Anak dengan strict parents terbiasa diarahkan sejak kecil.
Saat dewasa dan harus memilih sendiri, mulai dari karier, pasangan, sampai keputusan kecil, mereka sering merasa ragu.
Bahkan, tidak jarang merasa takut salah, takut menyesal, dan takut memilih hal yang tidak sesuai harapan.
Akhirnya, keputusan yang seharusnya sederhana justru jadi beban mental.
2. Takut Mengecewakan Orang Lain
Banyak anak strict parents tumbuh dengan keyakinan bahwa nilai dirinya tergantung pada penerimaan orang lain.
Mereka berusaha keras agar tidak mengecewakan siapa pun, meski harus mengorbankan diri sendiri.
Perasaan bersalah muncul setiap kali ingin berkata “tidak” atau memilih jalan yang berbeda.
Inilah awal mula banyak dari mereka menjadi people pleaser tanpa sadar.
3. Perfeksionis Berlebihan
Standar tinggi yang ditanamkan sejak kecil sering berubah menjadi tuntutan internal yang tidak ada habisnya.
Segala sesuatu harus sempurna karena kesalahan terasa seperti kegagalan besar.
Perfeksionisme ini memang bisa mendorong pencapaian, tapi juga melelahkan secara mental dan emosional.
4. Sulit Berkata “Tidak”
Karena sejak kecil diajarkan untuk patuh, banyak anak strict parents kesulitan menetapkan batasan saat dewasa.
Menolak permintaan orang lain akan terasa egois.
Akibatnya, mereka sering kelelahan karena terlalu banyak mengiyakan hal yang tidak benar-benar mereka inginkan.
5. Merasa Bersalah Saat Memilih Diri Sendiri
Bahkan, saat memilih hal yang baik untuk diri sendiri, rasa bersalah sering ikut muncul.
Seolah-olah memprioritaskan kebahagiaan pribadi adalah tindakan yang salah.
Perasaan ini bisa membuat anak dewasa sulit untuk menikmati hidupnya sendiri.
Menariknya, tidak semua anak bereaksi dengan cara yang sama.
Ada yang tumbuh sangat patuh, tapi kosong secara emosional, ada juga yang justru memberontak secara ekstrem sebagai bentuk perlawanan atas kontrol yang dulu mereka alami.
Agar pemahaman tentang pola asuh dan cara membimbing anak tidak mengarah pada pola strict parents, buku Seni Menjadi Orang Tua Hebat dapat menjadi panduan praktis yang bisa diikuti.
Buku ini memberikan 75 cara nyata dan mudah diaplikasikan untuk membentuk perilaku anak, membangun kerja sama, dan menjaga ikatan keluarga.
Mulai dari menghadapi rengekan, menunda-nunda, sampai mengubah perebutan kekuasaan jadi kerja sama yang sehat, semua dibahas dengan contoh nyata dan tips langsung pakai.
Buku ini dapat dipesan secara online melalui Gramedia.com.