Sinopsis A Man Called Otto, Kisah Pria Paruh Baya yang Menguras Air Mata

Lihat Foto
Sumber Gambar: Netflix.com
A Man Called Otto
Rujukan artikel ini:
Pria Bernama Ove (A Man…
Pengarang: Fredrik Backman
|
Editor: Ratih Widiastuty

Mungkin bagi beberapa penggemar film dan pembaca sudah tidak asing lagi dengan film A Man Called Ove, film adaptasi dari buku dengan judul sama yang berasal dari Swedia.

Buku dan filmnya sendiri sebenarnya bisa dibilang cukup booming karena mampu menyajikan jalan cerita yang sederhana mengenai hubungan manusia yang selalu disertai emosi di dalamnya.

Tidak mengherankan pula apabila industri film Amerika Serikat turut melirik film ini untuk mereka remake menjadi versi Hollywood dengan judul A Man Called Otto.

Tidak main-main, film yang disutradarai oleh Marc Forster ini turut menghadirkan aktor kenamaan sekelas Tom Hanks untuk memerankan tokoh Otto.

A Man Called Otto sendiri merupakan adaptasi kedua dari buku karya Fredrik Backman yang berjudul A Man Called Ove yang terbit pada tahun 2012.

Sebelumnya A Man Called Ove sudah pernah diangkat ke layar lebar dengan judul yang sama versi Swedia pada tahun 2015.

Tidak mengherankan apabila Hollywood memutuskan untuk membuat kembali A Man Called Ove versi mereka karena memang jalan ceritanya mempunyai daya tarik emosional yang begitu kuat.

Hasilnya juga terbukti dengan kemampuan Tom Hanks yang mampu menghidupkan tokoh Otto dengan begitu apik sampai membuat penonton berderai air mata.

Menceritakan tentang apa sebenarnya film A Man Called Otto? Simak sinopsis filmnya berikut ini.

Sinopsis A Man Called Otto

A Man Called Otto berkisah mengenai Otto Anderson (Tom Hanks), pria berusia 63 tahun yang hidup di pinggiran kota Pittsburgh, Pennsylvania.

Otto tinggal dan hidup seorang diri setelah dirinya pensiun dari pekerjaannya di perusahaan baja dan ditinggal istrinya yang meninggal dunia.

Kondisi ini tentu saja sangat memengaruhi kondisi mental Otto yang membuat dirinya menjadi sosok yang pemarah dan tidak lagi mempunyai tujuan hidup.

Bahkan, Otto sendiri sepertinya sudah siap untuk pergi meninggalkan dunia ini saking merasa frustrasi dan kesepian.

Dalam menjalankan kegiatan sehari-harinya, Otto seakan sudah memiliki rutinitas yang baku serta tidak bisa diganggu maupun diubah dengan seenaknya.

Setiap orang yang bersinggungan dan berhubungan dengannya menganggap Otto merupakan sosok pria tua yang menyebalkan.

Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium

Sikap Otto yang pemarah dan menyebalkan ini muncul bukan tanpa alasan karena pasalnya, Otto sendiri mempunyai banyak kejadian traumatis di masa lalunya yang menimbulkan perasaan gelisah dan bersalah.

Bahkan, saking tertekannya, Otto kerap mencoba untuk mengakhiri hidupnya akibat tidak mampu berdamai dengan keadaannya, apalagi setelah ditinggal pergi oleh sang istri.

Namun, semenjak kehadiran tetangga barunya, yakni keluarga muda yang terdiri dari Tommy (Manuel Garcia-Rulfo), Marisol (Mariana Trevino) serta kedua anak mereka, Abby (Alessandra Peres) dan Luna (Christiana Montoya), hidup Otto berubah drastis.

Pasalnya, keluarga muda itu selalu saja berhasil mengganggu rencana Otto untuk bunuh diri.

Keluarga muda tersebut mempunyai perangai yang cerewet dan ramai sehingga mampu mengubah cara pandang Otto mengenai kehidupan yang dijalaninya selama ini.

Berbagai macam peristiwa yang terjadi membuat Otto dan tetangga barunya semakin dekat dan erat.

Meskipun pada awalnya Otto merasa terganggu dan enggan dengan kehadiran tetangga barunya itu, tapi ternyata kebaikan mereka justru mampu menyentuh hati Otto.

Adaptasi dari Buku A Man Called Ove

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, A Man Called Otto merupakan adaptasi film versi Hollywood dari buku A Man Called Ove yang ditulis oleh Fredrik Backman.

Hampir sama seperti adaptasi filmnya, A Man Called Ove pun turut menceritakan kisah seorang pria tua bernama Ove yang kehidupannya penuh perasaan traumatis.

Novel ini sendiri sudah diterbitkan oleh Forum sejak tahun 2012 yang dikarang oleh penulis Swedia.

Kemudian pada tahun 2013, A Man Called Ove diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan masuk dalam daftar New York Times Best Seller, sesudah 18 bulan diterbitkan serta bertahan hingga 42 minggu dalam daftar tersebut.

Inspirasi dari buku ini sendiri didapatkan setelah Backman membaca artikel mengenai seorang pria bernama Ove yang mengalami kejang ketika membeli tiket di sebuah museum seni.

Backman kemudian berhubungan dengan pria ini karena dia mengaku “kurang pandai berkomunikasi dengan orang lain”.

Selanjutnya dia mulai menulis postingan di blog dengan judul “I am a Man Called Ove”, di mana tulisan tersebut berisi kekesalan dan gangguan hewan peliharaannya.

Pada akhirnya, Backman menyadari jika tulisannya mempunyai potensi untuk menciptakan suatu karakter fiksi yang menarik.

Daripada kamu penasaran akan kisah Ove yang unik dan eksentrik ini, maka langsung saja memesan buku A Man Called Ove ini di Gramedia.com karena sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia.

TAG:

Terkini
Lihat Semua
Jelajahi