Tanda-Tanda Alami Akan Datangnya Lahar Dingin Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah gunung berapi terbanyak di dunia.
Terdapat sekitar 127–130 gunung api yang hingga kini masih aktif.
Letaknya yang berada di Ring of Fire (Cincin Api Pasifik) menyebabkan tingkat aktivitas vulkanik dan seismik di Indonesia tergolong sangat tinggi.
Kondisi ini yang membuat potensi terjadinya erupsi gunung api menjadi cukup besar.
Selain erupsi, terdapat bahaya lain yang sering terjadi setelahnya, yaitu lahar dingin.
Lahar dingin bukanlah sekadar air banjir biasa karena terbentuk dari sisa erupsi seperti abu vulkanik, pasir, batu yang terbawa aliran air hujan, dan mengalir melalui sungai atau lereng gunung.
Oleh karena itu, penting sekali untuk mengenali tanda-tanda akan datangnya lahar dingin yang biasanya datang secara tiba-tiba dengan arus yang deras.
Salah satu tanda yang paling mencolok namun sering diabaikan adalah perubahan mendadak pada debit air sungai di hilir.
Jika di wilayah puncak gunung terlihat mendung pekat atau terjadi hujan lebat, tetapi air sungai di bagian bawah justru surut secara tiba-tiba atau alirannya mengecil, kondisi ini patut diwaspadai.
Hal tersebut menandakan terjadinya bendung alami di hulu.
Material vulkanik seperti pasir dan batu menyumbat aliran air sehingga membentuk bendungan sementara yang berpotensi jebol kapan saja.
Saat sumbatan itu pecah, aliran air yang tertahan ini akan mengalir deras sambil membawa material vulkanik dalam jumlah besar dengan kekuatan berkali-kali lipat.
Jika air sungai yang biasanya jernih berubah menjadi keruh pekat menyerupai semen cair dan mulai mengeluarkan bau belerang yang menyengat, itu adalah indikator kuat bahwa sisa material erupsi di puncak sudah mulai tergerus air hujan.
Selain itu, munculnya bau belerang yang menyengat juga perlu diwaspadai.
Bau tersebut berasal dari gas-gas vulkanik yang yang terperangkap dalam endapan material dan terlepas saat bercampur dengan air.
Suara gemuruh berasal dari gesekan material padat (pasir dan kerikil) dalam jumlah yang besar.
Di tengah gemuruh itu, biasanya terdengar suara dentuman keras yang terus-menerus.
Itu bukan suara guntur, melainkan benturan antara batu-batu besar yang saling beradu dan menghantam dasar sungai.
Karena lahar dingin adalah fluida kental (debris flow), batu-batu ini tidak hanyut di permukaan, tapi bergerak di dasar aliran dengan energi kinetik yang sanggup meruntuhkan jembatan beton dalam hitungan detik.
Sebelum aliran lahar terlihat secara langsung, dalam beberapa kasus dapat muncul getaran tanah ringan di sekitar bantaran sungai.
Secara teknis, getaran ini termasuk getaran seismik frekuensi rendah yang dihasilkan oleh pergerakan massa lahar yang sangat besar dan berat.
Jika kamu berada di dekat sungai dan merasakan getaran berulang, mirip seperti ada kendaraan berat yang melintas padahal kondisi sekitar relatif sepi, hal tersebut perlu diwaspadai.
Meskipun bukan tanda awal yang selalu muncul, getaran ini dapat menjadi indikasi bahwa aliran lahar sedang bergerak tidak jauh dari lokasi.
Dalam situasi seperti ini, segera menjauh dari area sungai dan cari tempat yang lebih tinggi dengan jarak aman.
Sebagai langkah antisipasi, disarankan untuk berada setidaknya 10–15 meter dari bibir sungai guna menghindari dampak langsung lahar dingin.
Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium
Lahar dingin umumnya dipicu oleh curah hujan tinggi di kawasan puncak atau lereng gunung.
Kondisi ini tidak selalu terasa di wilayah hilir.
Artinya, meskipun di lokasi sekitar tidak turun hujan, potensi lahar dingin tetap ada jika di bagian atas terjadi hujan deras.
Oleh karena itu, penting untuk memperhatikan informasi cuaca di wilayah gunung, terutama setelah terjadi erupsi.
Jika suara gemuruh sudah menyerupai pesawat tempur dan tanah mulai bergetar hebat, artinya lahar dingin sudah berada di jarak yang sangat dekat.
Jangan menunggu sampai aliran air terlihat oleh mata karena saat itu biasanya sudah terlambat.
Lakukan langkah-langkah berikut untuk evakuasi mandiri:
Jangan pernah lari searah dengan aliran sungai (mengikuti arus ke hilir) atau mencoba menyeberangi jembatan.
Larilah ke arah tegak lurus atau diagonal menjauhi bibir sungai menuju tempat yang lebih tinggi (bukit atau dataran tinggi permanen).
Ingat, lahar dingin punya daya rusak lateral (menyamping) yang besar jika sungai meluap atau tanggul jebol.
Lahar dingin membawa beban massa yang sangat berat sehingga memiliki daya dorong yang sanggup menggerus dasar sungai (erosi vertikal) dan menghantam tebing sungai.
Pastikan kamu berada di ketinggian minimal 15 meter dari dasar sungai untuk menghindari jangkauan percikan material atau luapan mendadak.
Jangan berlindung di area cekungan atau lembah sempit meskipun posisinya jauh dari sungai utama.
Aliran lahar dingin yang sangat besar bisa mencari jalur baru atau keluar dari palung sungai asli jika terjadi penyumbatan di tikungan sungai.
Gunakan radio atau alat komunikasi untuk memantau status dari pihak berwenang (BPBD atau PVMBG).
Namun, jika kamu melihat tanda-tanda fisik (getaran dan suara) sudah sangat kuat sementara peringatan resmi belum berbunyi, percayalah pada indramu dan segera evakuasi.
Sinyal alami sering kali jauh lebih cepat daripada transmisi data elektronik di wilayah terpencil.
Nah, itu dia beberapa tanda-tanda alami akan adanya lahar dingin dan tindakan penyelamatannya yang perlu kamu pahami.
Dengan mengenali tanda-tanda tersebut, kamu bisa mengambil langkah tepat dan cepat saat bencana sedang terjadi.
Kamu juga bisa membaca buku Mitigasi Bencana yang ditulis oleh Aulia Fadhli sebagai tambahan referensi.
Buku ini membahas pentingnya pemahaman dan kesiapsiagaan dalam menghadapi berbagai jenis bencana, baik yang disebabkan oleh faktor alam maupun aktivitas manusia.
Di dalam buku ini dijelaskan mulai dari pengertian bencana, konsep mitigasi, jenis-jenis bencana, hingga langkah penanganan yang dapat dilakukan di lapangan.
Buku ini sangat cocok dijadikan rujukan untuk meningkatkan kesadaran dan kesiapan menghadapi situasi darurat.
Tidak hanya bermanfaat bagi diri sendiri, tapi untuk pengetuahuan umum dan kepentingan orang banyak.
Dapatkan segera buku Mitigasi Bencana hanya di Gramedia.com.