Workout Berapa Kali Seminggu “Sebenarnya, workout berapa kali seminggu sih yang paling pas?”
Pertanyaan ini pasti pernah mampir di kepala kamu, apalagi kalau kamu baru mau mulai hidup sehat atau sedang berusaha back on track setelah lama absen olahraga.
Di satu sisi, ada ambisi ingin hasil instan dalam sebulan.
Namun, di sisi lain, realitas hidup kita ada lemburan kantor yang datang tiba-tiba, macetnya jalanan yang menguras energi, sampai urusan keluarga yang tidak bisa ditinggal.
Belum lagi godaan kasur yang jauh lebih kuat dibanding angkat beban saat hujan turun.
Masalah utamanya, banyak orang terjebak pada angka saklek.
Mereka sibuk berdebat apakah 3 kali, 4 kali, atau bahkan 6 kali seminggu adalah frekuensi paling "benar".
Padahal, tubuh manusia bukan mesin yang bisa disamakan setelannya.
Memaksakan jadwal orang lain ke hidup kamu sering kali jadi resep utama kegagalan karena yang kamu cari angka, bukan kenyamanan.
Frekuensi latihan itu strategi, bukan sekadar mengikuti tren influencer kebugaran.
Jawaban paling jujur untuk pertanyaan workout berapa kali seminggu adalah tergantung apa yang mau kamu kejar.
Tubuh kamu akan memberikan respons berbeda sesuai dengan stimulus yang diberikan.
Kalau kamu memaksakan porsi atlet ke tubuh pemula, yang ada bukan sehat, malah cedera.
Berikut frekuensi yang paling pas sesuai target yang bisa kamu coba.
Kombinasi antara kardio seperti jalan cepat, lari, atau bersepeda, dan latihan beban adalah kunci.
Frekuensi ini cukup untuk membakar kalori tanpa membuat kamu merasa tersiksa setiap hari.
Otot butuh tekanan, tapi juga butuh waktu untuk memperbaiki jaringannya.
3 hingga 4 sesi intensif sudah sangat cukup untuk melihat progres kekuatan yang signifikan.
Buat kamu yang jadwalnya super padat, cukup luangkan waktu 2-3 kali seminggu.
Ini adalah batas minimal agar metabolisme tubuh tetap terjaga.
Jangan langsung gas pol.
Biarkan otot, sendi, dan paru-paru kamu beradaptasi dulu.
Naikkan frekuensi secara bertahap saat kamu sudah mulai merasa latihan terasa "terlalu ringan".
Ingat, kesalahan paling umum adalah terlalu haus progres di awal.
Minggu pertama latihan 5 kali, minggu kedua mulai bolong karena badan pegal semua, minggu ketiga berhenti total.
Lebih baik kamu latihan 2 kali seminggu dan bertahan sampai akhir tahun, daripada ambisius tapi cuma bertahan tiga minggu.
Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium
Berikut beberapa jenis workout yang bisa kamu masukkan ke dalam jadwal workout kamu:
Latihan ini bukan sekadar angkat besi.
Kamu bisa mulai dengan bodyweight exercise seperti push-up, squat, lunges, dan juga plank.
Tujuannya adalah untuk melatih massa otot agar metabolisme tubuh makin tinggi.
Makin banyak otot, makin banyak kalori yang terbakar saat kamu diam sekalipun.
Olahraga ini sangat ramah untuk persendian dan bisa dilakukan dalam durasi yang lebih lama (30–60 menit).
Cocok dilakukan di sore hari atau saat akhir pekan.
Buat kamu yang merasa tidak punya banyak waktu, HIIT adalah solusinya.
Cukup 15–20 menit dengan gerakan intens, seperti burpees atau mountain climbers, selang-seling dengan istirahat singkat.
Hasilnya pembakaran lemak akan maksimal meski dalam waktu minimal.
Di hari kamu tidak workout berat, usahakan tetap bergerak, seperti jalan kaki ke warung, naik tangga di kantor, atau sekadar melakukan stretching ringan sambil nonton series.
Ini membantu aliran darah tetap lancar dan mengurangi rasa pegal otot (DOMS).
Satu hal yang sering luput dari perhatian saat membahas workout adalah faktor pemulihan (recovery).
Banyak yang mengira kalau semakin sering workout, otot makin cepat jadi.
Padahal kenyataannya terbalik, otot itu tumbuh dan lemak terbakar justru saat kamu sedang beristirahat, bukan saat kamu lagi keringatan di lapangan.
Ada beberapa alasan kenapa hari libur latihan itu wajib hukumnya:
Ingat, workout yang paling memberikan hasil nyata bukan yang gerakannya paling ekstrem atau durasinya paling lama, melainkan yang paling bisa kamu pertahankan secara konsisten tanpa rasa terpaksa.
Nah, sering kali tantangan terbesar kita bukan pada jadwalnya, tapi di cara kita membangun kebiasaan tersebut.
Kalau kamu masih sering merasa sering gagal mempertahankan rutinitas olahraga karena motivasi yang pasang surut, Atomic Habits karya James Clear menjadi buku yang tepat untuk dibaca.
Buku ini membahas bagaimana perubahan-perubahan super kecil (atomik) kalau dilakukan terus-menerus akan memberikan hasil yang luar biasa.
Melalui buku ini, James Clear mematahkan mitos bahwa perubahan besar butuh aksi yang drastis.
Faktanya, perubahan nyata berasal dari efek gabungan ratusan keputusan kecil yang konsisten.
Misalnya sekadar sanggup mengerjakan dua push-up sehari hingga bangun lima menit lebih awal.
Dalam buku ini, kamu juga akan diajak mendalami trik sederhana namun jenius seperti aturan dua menit hingga seni menumpuk kebiasaan yang dibedah menggunakan teori psikologi serta neurosains terbaru.
Dengan memahami isi buku ini, kamu tidak akan lagi terbebani oleh target olahraga yang muluk-muluk karena fokusmu akan bergeser pada cara membangun sistem yang membuat produktivitas dan kebahagiaan datang secara otomatis.
Yuk, baca bukunya sekarang dan dapatkan segera di Gramedia.com atau Gramedia Digital.