Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Syarat Hewan yang Bisa Dijadikan Pakan Ikan, Jangan Asal! 

Kompas.com, 3 Maret 2026, 11:00 WIB
Syarat Hewan yang Bisa Dijadikan Pakan Ikan Sumber Gambar: Pexels.com  Syarat Hewan yang Bisa Dijadikan Pakan Ikan
Rujukan artikel ini:
Pakan Ikan Ramah Lingkungan [PIRL]
Pengarang: Yulfiperius
Penulis Anggi
|
Editor Novia Putri Anindhita

Bagi kamu yang hobi pelihara ikan hias di akuarium atau sedang menekuni budi daya ikan konsumsi di kolam, pemberian pakan tentu menjadi prioritas.

Namun, masih ada yang memberi ikan dengan pakan apa saja yang mudah ditemukan, mulai dari serangga hingga makanan sisa dapur, dengan harapan ikan cepat besar.

Padahal, kesalahan dalam pemberian pakan justru dapat membuat air kolam menjadi keruh dan bahkan memicu kematian ikan secara massal.

Memberi pakan alami berupa hewan hidup memang baik karena nutrisinya masih segar, namun tetap ada aturan yang perlu diperhatikan.

Oleh karena itu, memahami syarat hewan yang layak dijadikan pakan ikan menjadi langkah penting agar bibit ikan yang sudah diinvestasikan tidak terbuang sia-sia.

Pemberian pakan bukan hanya soal membuat ikan kenyang, tetapi juga memastikan keamanannya agar terhindar dari penyakit dan parasit.

Dengan memahami kriteria pakan yang tepat, ikan tidak hanya tumbuh sehat, tetapi juga memiliki kualitas yang lebih unggul.

Apa Itu Pakan Ikan?

Secara sederhana, pakan ikan adalah segala jenis bahan makanan yang diberikan kepada ikan untuk memenuhi kebutuhan energi, mendukung pertumbuhan, serta menjaga daya tahan tubuhnya.

Kualitas pakan ikan sangat berpengaruh terhadap kondisi tubuh ikan, pakan dengan kualitas buruk akan mengganggu metabolisme ikan.

Pakan ikan terbagi menjadi dua kelompok, yaitu pakan buatan (pelet) dan pakan alami.

Pakan alami biasanya berupa organisme hidup, baik mikroskopis seperti kutu air (Daphnia) maupun hewan yang lebih besar seperti cacing sutra, udang kecil, hingga larva serangga.

Keunggulan pakan alami dari hewan adalah kandungan proteinnya yang sangat tinggi dan adanya enzim pencernaan alami yang dapat membantu ikan menyerap nutrisi lebih cepat.

Syarat Hewan yang Bisa Dijadikan Pakan Ikan

Memberi makan ikan terdapat standar kelayakan yang wajib dipenuhi agar ikan tidak sekadar hidup, tapi juga tumbuh optimal tanpa merusak kualitas air kolam.

Ingat, hewan pakan yang kotor adalah sumber penyakit tercepat bagi ekosistem air.

Berikut beberapa poin yang harus diperhatikan sebelum dijadikan sebagai pakan ikan.

1. Higienitas Lingkungan Asal

Pastikan hewan pakan tidak diambil dari tempat yang tercemar limbah domestik atau kimia.

Hewan seperti cacing sutra yang diambil dari got kotor berisiko membawa bakteri Salmonella atau logam berat.

Jika ragu dengan asalnya, sebaiknya lakukan karantina terlebih dulu hewan pakan tersebut dalam air bersih mengalir selama 24 jam untuk membuang sisa kotoran di perutnya (proses purging).

2. Proporsi Ukuran Tubuh

Pastikan dimensi hewan pakan sesuai dengan bukaan mulut ikan.

Hewan yang terlalu besar akan sulit ditelan dan bisa melukai tenggorokan ikan, sementara yang terlalu kecil hanya akan membuang energi ikan karena mereka harus berburu lebih banyak.

Ukuran ideal biasanya tidak lebih dari sepertiga lebar bukaan mulut ikan.

3. Densitas Nutrisi yang Spesifik

Hewan yang baik harus punya kandungan protein yang tinggi namun dengan kadar lemak yang terkontrol.

Contohnya, Artemia sangat bagus untuk burayak karena kaya akan asam lemak, sementara maggot BSF punya kandungan asam amino yang lengkap untuk pertumbuhan daging ikan konsumsi.

Hindari hewan yang kandungan nutrisinya rendah atau hanya tinggi kandungan airnya saja.

4. Tekstur dan Kecernaan

Ikan tidak memiliki gigi pengunyah seperti mamalia, mereka hanya mencabik atau langsung menelan.

Syarat hewan yang ideal adalah yang memiliki eksoskeleton (kulit luar) yang lunak.

Hewan dengan cangkang keras seperti jenis serangga tertentu sulit dicerna dan bisa menyebabkan sumbatan pada usus ikan.

Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium

5. Gerakan yang Merangsang Insting

Hewan pakan yang sehat biasanya aktif bergerak.

Gerakan lincah ini penting untuk merangsang insting berburu ikan yang secara tidak langsung meningkatkan metabolisme dan nafsu makan mereka.

Hewan pakan yang sudah mati atau lemas justru berisiko tinggi membawa kuman pembusuk yang bisa mengotori air kolam.

Solusi Hemat dengan Daur Ulang Pakan Ikan Alami

Pakan ikan alami juga dapat kita ciptakan dengan memanfaatkan sistem daur ulang bahan-bahan di sekitar rumah.

Selain untuk menghemat biaya, cara ini juga membantu untuk mengurangi tumpukan sampah yang ada di rumah.

Berikut beberapa cara cerdas yang bisa kamu coba sekarang juga:

1. Budi Daya Maggot BSF dari Limbah Dapur

Sisa makanan seperti sayuran, buah, atau nasi basi jangan dibuang ke tempat sampah umum.

Sisa makanan tersebut dapat digunakan sebagai media tumbuh larva lalat Black Soldier Fly (BSF).

Maggot memiliki kandungan protein sekitar 40% lebih yang membuat pertumbuhan ikan lele, nila, atau arwana jadi jauh lebih pesat dibanding hanya mengandalkan pakan pabrikan.

2. Kultur Kutu Air (Daphnia) dari Limbah Cair

Buat kamu yang memiliki bayi ikan (burayak), tidak perlu bingung mencari pakan lembut.

Kamu bisa daur ulang air bekas cucian beras atau air rebusan sayur yang sudah difermentasi dengan sedikit ragi.

Air kaya nutrisi ini bakal jadi tempat tumbuh kutu air yang melimpah.

3. Beternak Cacing Tanah di Media Organik

Cacing tanah adalah pakan premium untuk meningkatkan kesuburan ikan indukan.

Kamu bisa memanfaatkan proses daur ulang sampah daun kering, kardus bekas yang dicacah, atau sisa kulit buah sebagai media ternaknya.

Bonusnya, selain dapat pakan ikan, sisa medianya dapat kamu gunakan sebagai pupuk tanaman hias di rumah.

4. Sterilisasi Pakan Hasil Daur Ulang

Pakan yang berasal dari alam atau proses daur ulang lingkungan wajib disterilkan dulu agar tetap higienis.

Caranya rendam pakan alami, seperti cacing sutra atau cuk dalam larutan garam krosok atau air yang diberi sedikit obat biru (Methylene Blue) selama 10-15 menit.

Langkah ini krusial untuk membunuh kuman dan parasit supaya ikan kamu tidak terkena penyakit kulit atau gangguan pencernaan.

Itulah beberapa syarat yang perlu dipenuhi agar hewan dapat dijadikan sebagai pakan ikan alami yang aman.

Memelihara atau membudidayakan ikan bukan sekadar hobi yang dilakukan asal-asalan karena dibutuhkan ketelatenan agar pertumbuhan ikan dan keseimbangan ekosistem tetap terjaga.

Hal ini memang terlihat sepele, namun ketika kriteria pakan yang tepat sudah diterapkan, maka risiko kematian ikan secara massal dapat berkurang.

Kuncinya sederhana yaitu jangan malas untuk selalu mengecek kebersihan dan kualitas pakan sebelum diberikan kepada ikan.

Bagi kamu yang ingin memulai untuk membuat pakan ikan sendiri, buku Pakan Ikan Ramah Lingkungan (PIRL) yang ditulis oleh Yulfiperius dapat menjadi referensi bacaan yang tepat.

Buku ini terdiri dari beberapa bab yang membahas berbagai topik penting, mulai dari potensi tongkol jagung sebagai bahan baku pakan, sumber nutrien dan energi, peranan serta kebutuhan nutrisi ikan, hingga formulasi dan proses pembuatan pakan ikan.

Selain itu, buku ini juga dilengkapi dengan pembahasan evaluasi kualitas pakan, pemanfaatan pakan dalam tubuh ikan, serta roadmap riset terkait kebutuhan nutrisi pada hewan air.

Buku ini sangat bermanfaat bagi pembudidaya, maupun siapa saja yang tertarik mengembangkan pakan ikan mandiri yang lebih efisien dan ramah lingkungan.

Dapatkan dan baca buku Pakan Ikan Ramah Lingkungan (PIRL) selengkapnya di Gramedia Digital.

Rekomendasi Buku Terkait

Terkini Lainnya

Dari Luka Menuju Cahaya: Menyelami Makna Buku Merangkai Luka Menjadi Cahaya

Dari Luka Menuju Cahaya: Menyelami Makna Buku Merangkai Luka Menjadi Cahaya

buku
Aturan Perjalanan Mudik Menggunakan Kendaraan Pribadi yang Perlu Kamu Ketahui

Aturan Perjalanan Mudik Menggunakan Kendaraan Pribadi yang Perlu Kamu Ketahui

buku
Mengenal Kekuatan Militer Indonesia dan Peran TNI dalam Menjaga Kedaulatan Negara

Mengenal Kekuatan Militer Indonesia dan Peran TNI dalam Menjaga Kedaulatan Negara

buku
Cara Membuat Gulai Tikungan Otentik ala Blok M, Gurih dan Bikin Nagih

Cara Membuat Gulai Tikungan Otentik ala Blok M, Gurih dan Bikin Nagih

buku
Cara Membuat Abstrak yang Baik untuk Publikasi Jurnal Ilmiah

Cara Membuat Abstrak yang Baik untuk Publikasi Jurnal Ilmiah

buku
Perbedaan Pilates dan Yoga: Mana yang Lebih Cocok untuk Tubuh dan Gaya Hidupmu?

Perbedaan Pilates dan Yoga: Mana yang Lebih Cocok untuk Tubuh dan Gaya Hidupmu?

buku
13 Rekomendasi Tempat Makan di Central Park 2026

13 Rekomendasi Tempat Makan di Central Park 2026

buku
Menelusuri Jejak Sejarah Perang Banten 1888

Menelusuri Jejak Sejarah Perang Banten 1888

buku
10 Inspirasi Pose Photobooth Grup yang Seru & Estetik

10 Inspirasi Pose Photobooth Grup yang Seru & Estetik

buku
Baju Olahraga yang Nyaman untuk Pilates agar Latihan  Terasa Maksimal

Baju Olahraga yang Nyaman untuk Pilates agar Latihan  Terasa Maksimal

buku
Perbedaan Gultik dengan Gulai Biasa: Ini Ciri Khas yang Banyak Orang Belum Tahu

Perbedaan Gultik dengan Gulai Biasa: Ini Ciri Khas yang Banyak Orang Belum Tahu

buku
Seri Komik AKASHA: Sang Pembedah Kebenaran dan Pemberi Hukuman di Tengah Keadilan yang Retak

Seri Komik AKASHA: Sang Pembedah Kebenaran dan Pemberi Hukuman di Tengah Keadilan yang Retak

buku
ABC Dinosaurs: Petualangan Prasejarah Mengenal Huruf A-Z

ABC Dinosaurs: Petualangan Prasejarah Mengenal Huruf A-Z

buku
Rekomendasi Makanan di Pujasera Blok M Square

Rekomendasi Makanan di Pujasera Blok M Square

buku
Melihat Dunia Kamen Rider Lebih Dalam: Dari Kota Misterius hingga Organisasi Rahasia

Melihat Dunia Kamen Rider Lebih Dalam: Dari Kota Misterius hingga Organisasi Rahasia

buku
7 Kesalahan Pemula Saat Pilates yang Sering Dianggap Sepele

7 Kesalahan Pemula Saat Pilates yang Sering Dianggap Sepele

buku
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau