Film Korea yang Sedih Setelah seharian menahan emosi atau memendam beban kerjaan, menonton film Korea yang sedih jadi salah satu cara paling ampuh untuk pelepasan emosi yang melegakan.
Cerita-cerita yang dihadirkan biasanya dekat dengan kehidupan nyata, seperti kisah cinta yang tak selalu berjalan mulus, kehilangan, hingga perpisahan dengan takdir tragis.
Selain itu, film-film Korea yang sedih tahu betul cara menyentuh sisi paling sensitif penontonnya.
Mulai dari penggunaan soundtrack yang melankolis, sinematografi yang puitis, hingga alur cerita yang jujur tanpa menjanjikan harapan palsu, semuanya dirangkai untuk memperkuat emosi di setiap adegan.
Berikut beberapa rekomendasi film Korea sedih yang bisa menemani waktu luangmu dan membantumu meluapkan perasaan yang terpendam.
Film ini bercerita tentang sepasang suami istri yang harus menghadapi kenyataan pahit ketika sang istri didiagnosis Alzheimer di usia muda.
Sang suami terus berusaha membuat istrinya mengingat dirinya dengan menuliskan memo-memo sederhana, dan mengajak ke tempat mereka bertemu sebagai pengingat tentang siapa dirinya.
Diperankan oleh Son Ye Jin dan Jung Woo Sung, film ini mengajak untuk melihat bagaimana cinta sejati berjuang.
Film ini bercerita tentang Jae Kyung, seorang pewaris sombong, arogan, dan dingin yang harus pindah ke desa terpencil demi memenuhi syarat warisan dari kakeknya.
Di desa tersebut, ia bertemu dengan seorang gadis bernama Eun-hwan, yang ternyata merupakan teman masa kecilnya.
Seiring berjalannya waktu, ia pun jatuh cinta padanya.
Namun, kisah cintanya tak berjalan mulus karena Eun Hwan mengidap penyakit fatal.
Meski ceritanya terbilang klise, film ini berhasil menguras air mata penonton.
Kisah seorang ayah penyandang disabilitas mental yang harus dipenjara karena tuduhan yang tidak ia lakukan.
Fokus film ini ada pada perjuangan dan cinta tulus antara ayah dan anak perempuan kecilnya di balik jeruji besi.
Film Miracle in Cell No. 7 sukses membuat penonton mewek.
Perjalanan hidup seorang pria Korea Selatan yang harus berjuang keras demi keluarganya, melewati perang, migrasi, dan pengorbanan demi pengorbanan.
Film ini mengajak penonton melihat betapa besarnya beban generasi terdahulu.
Sungguh mengharukan, bagaimana pengorbanan bisa terasa begitu menyakitkan.
Film ini bercerita tentang seorang gadis kecil yang mengalami kekerasan seksual hingga mengalami trauma berat yang mengakibatkan taku dengan laki-laki, termasuk ayahnya sendiri.
Perjuangan sang ayah hingga memakai kostum badut agar membuat anaknya tak takut padanya terasa sangat sedih.
Meskipun ceritanya sangat gelap tentang trauma, film ini luar biasa kuat dalam menampilkan proses healing dan dukungan keluarga yang dibutuhkan seorang anak setelah mengalami kejadian tragis.
Kisah cinta antara mantan petinju yang keras dan seorang wanita tunanetra.
Cinta mereka harus melalui cobaan pengorbanan ekstrem.
Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium
Kesedihannya ada di rasa tidak berdaya ketika satu orang harus menanggung beban demi kebahagiaan yang lain.
Setelah selesai nangis dan mendapatkan pelepasan emosi, mungkin kamu ngerasa ingin mendalami lebih jauh kenapa kita harus ngasih ruang untuk bersedih.
Film ini menceritakan kisah seorang ibu tunggal yang bekerja sebagai desainer gaun pengantin dan didiagnosis menderita kanker stadium akhir.
Ia berusaha memanfaatkan waktu yang tersisa untuk mendampingi putrinya, sekaligus mempersiapkan sang putri menghadapi hidup tanpa kehadirannya.
Bahkan, ia juga menyiapkan gaun pengantin untuk masa depan sang anak.
Film ini menceritakan kehidupan Kim Ji-young, seorang wanita yang menghadapi diskriminasi gender dan tekanan patriarki.
Mengorbankan karirnya untuk menjadi ibu rumah tangga, ditambah tekanan patriarki dalam keluarga, membuatnya mengalami beban emosional yang berat hingga memicu depresi.
Menonton film yang sedih ternyata baik untuk kesehatan mental karena dapat membantu melepaskan hormon stres tanpa menimbulkan konsekuensi nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu, film sedih juga dapat meningkatkan rasa empati, membantu memahami penderitaan dan perspektif orang lain, serta memvalidasi emosi sehingga mengingatkan bahwa merasa sedih adalah hal yang wajar.
Pada akhirnya, film sedih, terutama film Korea bukan hanya soal air mata yang jatuh, tetapi juga menjadi ruang aman untuk jujur pada perasaan sendiri.
Di balik cerita cinta yang kandas, keluarga yang terpisah, atau perjuangan hidup yang sunyi, sering kali kita menemukan jawaban dari apa yang selama ini kita pendam.
Menangis saat menonton bukanlah tanda kelemahan.
Justru di momen itu, tubuh dan hati diberi kesempatan untuk bernapas dan melepaskan emosi yang mungkin selama ini tersimpan.
Film-film ini mengingatkan kita bahwa perasaan sedih itu manusiawi, dan merasakannya merupakan bagian penting dari proses bertumbuh.
Kalau setelah menonton film di atas selesai, tapi kamu masih ingin menyelami emosi itu, ambil waktumu, dan rasakan dengan tenang.
Karena terkadang, proses healing memang dimulai dari satu hal sederhana yakni berani merasakan lalu menerima perasaan itu dengan lembut.
Selain menonton film, kamu juga bisa memperdalam emosi dengan membaca buku.
Bacaan yang tepat dapat membantumu merenungkan pengalaman tokoh dalam cerita, memahami perasaan yang sama, dan menemukan perspektif baru.
Seperti yang ada dalam kedua buku berikut yang mengajarkan cara memproses emosi dan membangun resilience setelahnya.
Buku ini mengajak pembaca untuk merefleksikan kasih sayang orang tua terhadap anaknya yang tersembunyi.
Di balik kasih sayang orang tua, terdapat pengorbanan dan ketulusan orang tua agar dapat memberikan kehidupan yang bahagia bagi anak-anaknya.
Selain itu, buku ini juga mengajak pembaca untuk bersyukur atas kehadiran orang-orang tersayang dalam hidup kita.
Novel karya Leila S. Chudori ini menceritakan kisah pilu seorang aktivis yang hilang di Jakarta pada Maret 1998.
Cerita ini menggambarkan penderitaan akibat penyekapan, kekosongan yang dirasakan keluarga yang menanti, serta cinta yang tetap abadi meski menghadapi ketidakpastian.
Dengan latar belakang sejarah yang penuh gejolak, novel ini refleksi tentang kehilangan dan harapan.
Kedua buku ini mengajarkan kita tentang pengorbanan dan ketulusan cinta yang tidak akan pernah luntur.
Semoga kisah mereka membantu kamu dalam proses pelepasan emosi yang tulus.
Kedua buku ini bisa segera kamu dapatkan di Gramedia.com dan Gramedia Digital untuk versi buku digitalnya.