Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

8 Rekomendasi Film Korea yang Sedih, Sukses Bikin Nangis!

Kompas.com, 6 Januari 2026, 15:00 WIB
Film Korea yang Sedih  Sumber Gambar: Naver Film Korea yang Sedih 
Rujukan artikel ini:
Seribu Wajah Ayah
Pengarang: Nurun Ala
Penulis Anggi
|
Editor Novia Putri Anindhita

Setelah seharian menahan emosi atau memendam beban kerjaan, menonton film Korea yang sedih jadi salah satu cara paling ampuh untuk pelepasan emosi yang melegakan.

Cerita-cerita yang dihadirkan biasanya dekat dengan kehidupan nyata, seperti kisah cinta yang tak selalu berjalan mulus, kehilangan, hingga perpisahan dengan takdir tragis.

Selain itu, film-film Korea yang sedih tahu betul cara menyentuh sisi paling sensitif penontonnya.

Mulai dari penggunaan soundtrack yang melankolis, sinematografi yang puitis, hingga alur cerita yang jujur tanpa menjanjikan harapan palsu, semuanya dirangkai untuk memperkuat emosi di setiap adegan.

Berikut beberapa rekomendasi film Korea sedih yang bisa menemani waktu luangmu dan membantumu meluapkan perasaan yang terpendam.

Rekomendasi Film Korea yang Sedih

1. A Moment to Remember (2004)

Film ini bercerita tentang sepasang suami istri yang harus menghadapi kenyataan pahit ketika sang istri didiagnosis Alzheimer di usia muda.

Sang suami terus berusaha membuat istrinya mengingat dirinya dengan menuliskan memo-memo sederhana, dan mengajak ke tempat mereka bertemu sebagai pengingat tentang siapa dirinya.

Diperankan oleh Son Ye Jin dan Jung Woo Sung, film ini mengajak untuk melihat bagaimana cinta sejati berjuang.

2. A Millionaire's First Love (2006)

Film ini bercerita tentang Jae Kyung, seorang pewaris sombong, arogan, dan dingin yang harus pindah ke desa terpencil demi memenuhi syarat warisan dari kakeknya.

Di desa tersebut, ia bertemu dengan seorang gadis bernama Eun-hwan, yang ternyata merupakan teman masa kecilnya.

Seiring berjalannya waktu, ia pun jatuh cinta padanya.

Namun, kisah cintanya tak berjalan mulus karena Eun Hwan mengidap penyakit fatal.

Meski ceritanya terbilang klise, film ini berhasil menguras air mata penonton.

3. Miracle in Cell No. 7 (2013)

Kisah seorang ayah penyandang disabilitas mental yang harus dipenjara karena tuduhan yang tidak ia lakukan.

Fokus film ini ada pada perjuangan dan cinta tulus antara ayah dan anak perempuan kecilnya di balik jeruji besi.

Film Miracle in Cell No. 7 sukses membuat penonton mewek.

4. Ode to My Father (2014)

Perjalanan hidup seorang pria Korea Selatan yang harus berjuang keras demi keluarganya, melewati perang, migrasi, dan pengorbanan demi pengorbanan.

Film ini mengajak penonton melihat betapa besarnya beban generasi terdahulu.

Sungguh mengharukan, bagaimana pengorbanan bisa terasa begitu menyakitkan.

5. Hope (So-won) (2013)

Film ini bercerita tentang seorang gadis kecil yang mengalami kekerasan seksual hingga mengalami trauma berat yang mengakibatkan taku dengan laki-laki, termasuk ayahnya sendiri.

Perjuangan sang ayah hingga memakai kostum badut agar membuat anaknya tak takut padanya terasa sangat sedih.

Meskipun ceritanya sangat gelap tentang trauma, film ini luar biasa kuat dalam menampilkan proses healing dan dukungan keluarga yang dibutuhkan seorang anak setelah mengalami kejadian tragis.

6. Always (Ojik Geudaeman) (2011)

Kisah cinta antara mantan petinju yang keras dan seorang wanita tunanetra.

Cinta mereka harus melalui cobaan pengorbanan ekstrem.

Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium

Kesedihannya ada di rasa tidak berdaya ketika satu orang harus menanggung beban demi kebahagiaan yang lain.

Setelah selesai nangis dan mendapatkan pelepasan emosi, mungkin kamu ngerasa ingin mendalami lebih jauh kenapa kita harus ngasih ruang untuk bersedih.

7. Wedding Dress (2010)

Film ini menceritakan kisah seorang ibu tunggal yang bekerja sebagai desainer gaun pengantin dan didiagnosis menderita kanker stadium akhir.

Ia berusaha memanfaatkan waktu yang tersisa untuk mendampingi putrinya, sekaligus mempersiapkan sang putri menghadapi hidup tanpa kehadirannya.

Bahkan, ia juga menyiapkan gaun pengantin untuk masa depan sang anak.

8. Kim Ji-Young, Born 1982 (2019)

Film ini menceritakan kehidupan Kim Ji-young, seorang wanita yang menghadapi diskriminasi gender dan tekanan patriarki.

Mengorbankan karirnya untuk menjadi ibu rumah tangga, ditambah tekanan patriarki dalam keluarga, membuatnya mengalami beban emosional yang berat hingga memicu depresi.

Alasan Kenapa Film yang Sedih Baik untuk Mental

Menonton film yang sedih ternyata baik untuk kesehatan mental karena dapat membantu melepaskan hormon stres tanpa menimbulkan konsekuensi nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Selain itu, film sedih juga dapat meningkatkan rasa empati, membantu memahami penderitaan dan perspektif orang lain, serta memvalidasi emosi sehingga mengingatkan bahwa merasa sedih adalah hal yang wajar.

Pada akhirnya, film sedih, terutama film Korea bukan hanya soal air mata yang jatuh, tetapi juga menjadi ruang aman untuk jujur pada perasaan sendiri.

Di balik cerita cinta yang kandas, keluarga yang terpisah, atau perjuangan hidup yang sunyi, sering kali kita menemukan jawaban dari apa yang selama ini kita pendam.

Menangis saat menonton bukanlah tanda kelemahan.

Justru di momen itu, tubuh dan hati diberi kesempatan untuk bernapas dan melepaskan emosi yang mungkin selama ini tersimpan.

Film-film ini mengingatkan kita bahwa perasaan sedih itu manusiawi, dan merasakannya merupakan bagian penting dari proses bertumbuh.

Kalau setelah menonton film di atas selesai, tapi kamu masih ingin menyelami emosi itu, ambil waktumu, dan rasakan dengan tenang.

Karena terkadang, proses healing memang dimulai dari satu hal sederhana yakni berani merasakan lalu menerima perasaan itu dengan lembut.

Selain menonton film, kamu juga bisa memperdalam emosi dengan membaca buku.

Bacaan yang tepat dapat membantumu merenungkan pengalaman tokoh dalam cerita, memahami perasaan yang sama, dan menemukan perspektif baru.

Seperti yang ada dalam kedua buku berikut yang mengajarkan cara memproses emosi dan membangun resilience setelahnya.

Rekomendasi Buku

1. Seribu Wajah Ayah – Nurun Ala

Buku ini mengajak pembaca untuk merefleksikan kasih sayang orang tua terhadap anaknya yang tersembunyi.

Di balik kasih sayang orang tua, terdapat pengorbanan dan ketulusan orang tua agar dapat memberikan kehidupan yang bahagia bagi anak-anaknya.

Selain itu, buku ini juga mengajak pembaca untuk bersyukur atas kehadiran orang-orang tersayang dalam hidup kita.

2. Laut Bercerita − Leila S. Chudori

Novel karya Leila S. Chudori ini menceritakan kisah pilu seorang aktivis yang hilang di Jakarta pada Maret 1998.

Cerita ini menggambarkan penderitaan akibat penyekapan, kekosongan yang dirasakan keluarga yang menanti, serta cinta yang tetap abadi meski menghadapi ketidakpastian.

Dengan latar belakang sejarah yang penuh gejolak, novel ini refleksi tentang kehilangan dan harapan.

Kedua buku ini mengajarkan kita tentang pengorbanan dan ketulusan cinta yang tidak akan pernah luntur.

Semoga kisah mereka membantu kamu dalam proses pelepasan emosi yang tulus.

Kedua buku ini bisa segera kamu dapatkan di Gramedia.com dan Gramedia Digital untuk versi buku digitalnya.

Rekomendasi Buku Terkait

Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau