Apakah Trust Issue Penyakit Mental? Berikut Penjelasan dan Strategi Pemulihannya

Lihat Foto
Sumber Gambar: Freepik.com 
Apakah Trust Issue Penyakit Mental
Rujukan artikel ini:
Don't Believe Everything You Think
Pengarang: Joseph Nguyen
Penulis Anggi
|
Editor: Novia Putri Anindhita

Terjebak dengan rasa tidak percaya dan curiga terus-menerus memang sangat melelahkan.

Bayangkan, setiap ada pesan masuk di ponsel pasangan, atau saat rekan kerja bersikap terlalu baik, otak seakan secara otomatis menaruh curiga pada mereka.

Kondisi sulit percaya ini sering kali dilabeli sebagai trust issue.

Hingga kini, masih banyak yang menyepelekan kondisi ini dan menganggapnya sebagai sifat cemburu atau waspada biasa.

Padahal, rasa tidak percaya yang kronis ini sering kali menjadi sinyal dari kondisi psikis seseorang yang sedang tidak baik-baik saja.

Meski bukan sebuah diagnosis tunggal, trust issue bisa menjadi gejala menuju masalah kesehatan mental yang lebih kompleks jika dibiarkan tanpa penanganan.

Apakah trust issue termasuk dalam penyakit mental? Simak penjelasannya berikut ini.

Apa Itu Trust Issue?

Secara sederhana, trust issue adalah kondisi saat seseorang merasa sangat sulit untuk menaruh rasa percaya kepada orang lain, bahkan kepada mereka yang sudah lama dikenal atau terbukti baik.

Namun, ini bukan sekadar sifat tidak percaya biasa, melainkan sebuah mekanisme pertahanan diri yang muncul karena rasa takut akan dikhianati atau disakiti kembali.

Kondisi ini sering kali membuat interaksi sosial terasa sangat melelahkan.

Saat orang lain bisa tertawa lepas dalam sebuah hubungan, seseorang yang memiliki trust issue mungkin malah sibuk menganalisis gerak-gerik pasangan atau mencari maksud tersembunyi di balik kebaikannya.

Mereka seolah membangun tembok tinggi untuk melindungi diri.

Memang benar, tembok itu untuk melindungi dari rasa sakit, tapi di sisi lain, hal ini juga bisa membuat kesepian karena tidak ada orang yang benar-benar bisa masuk dan mendekat.

Penting untuk dipahami bahwa trust issue biasanya tidak muncul begitu saja karena ini adalah hasil dari pengalaman pahit yang belum sepenuhnya sembuh.

Apakah Trust Issue Penyakit Mental?

Secara klinis, apakah trust issue penyakit mental jawabannya adalah tidak secara berdiri sendiri, melainkan lebih sebagai respons psikologis terhadap trauma.

Namun, hal ini bisa menjadi awal menuju gangguan yang lebih serius jika intensitasnya sudah tidak masuk akal.

Mari kita identifikasi level masalah kepercayaan melalui kriteria berikut:

1. Lumpuhnya Fungsi Keseharian (Daily Impairment)

Cek apakah rasa tidak percaya ini sudah bersifat paralyzing.

Jika kecurigaan membuat jadi tidak fokus bekerja karena terus memantau GPS pasangan, kehilangan jam tidur karena overthinking, atau menarik diri dari pergaulan karena merasa semua orang adalah ancaman, maka ini sudah menjadi sinyal gangguan kesehatan mental yang nyata.

2. Komorbiditas dengan Diagnosis Klinis

Sering kali rasa tidak percaya yang ekstrem hanyalah puncak gunung es dari kondisi lain.

Dalam psikologi, ini sering dikaitkan dengan Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) akibat pengkhianatan yang kemudian memicu ketakutan akan ditinggalkan, hingga gangguan kecemasan sosial yang kronis.

3. Generalisasi Luka Masa Lalu

Salah satu ciri khas yang berbahaya adalah ketika melakukan proyeksi pada orang lain.

Seolah menghukum orang baru yang sebenarnya tulus hanya karena kesalahan orang di masa lalu.

Jika kondisi emosional ini tidak segera diperbaiki, maka akan terus ada dalam siklus trauma yang menghalangi hadirnya kebahagiaan baru.

4. Paranoia dan Resistensi Terhadap Bukti

Penyakit mental sering kali melibatkan distorsi kognitif.

Jika seseorang sudah memberikan bukti transparansi yang luar biasa, namun tetap merasa mereka berbohong tanpa alasan logis, ini bukan lagi sekadar waspada, melainkan paranoia.

Ketidakmampuan otak untuk menerima bukti keamanan adalah indikator kuat adanya stres psikologis yang dalam.

5. Strategi Pertahanan yang Merusak (Maladaptif)

Alih-alih membangun komunikasi, kamu justru memilih cara-cara destruktif seperti stalking secara berlebihan, mengetes pasangan secara ekstrem, atau melakukan sabotase diri (self-sabotage) sebelum orang lain sempat mengecewakan.

Perilaku ini menunjukkan bahwa sistem pertahanan mental kamu sudah terlalu lelah dan butuh penanganan profesional.

Mengapa Kondisi Sulit Percaya Membutuhkan Perhatian Serius?

Walaupun secara medis jawaban atas pertanyaan 'apakah trust issue penyakit mental' adalah bukan diagnosis tunggal, dampaknya bagi tubuh tidak bisa disepelekan

Otak akan terus menerus mengirim sinyal bahaya, meski sebenarnya tidak ada masalah yang berarti.

Secara biologis, kondisi ini memaksa tubuh terjebak dalam mode survival alias fight-or-flight secara permanen.

Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium

Akibatnya, hormon stres seperti kortisol dan adrenalin diproduksi secara ugal-ugalan tanpa henti.

Jika kondisi ini terus dibiarkan dalam jangka panjang, maka tidak hanya akan membuat mudah cemas, tapi benar-benar bisa merusak sistem saraf dan menurunkan imunitas tubuh.

Secara klinis, pola kecurigaan ini biasanya bukan penyakit yang muncul tiba-tiba, melainkan attachment style yang terbentuk sejak masa kecil.

Jika dulu tumbuh di lingkungan yang tidak konsisten, saat orang dewasa yang seharusnya menjadi pelindung justru sering mengecewakan atau tidak bisa diandalkan, maka otak secara otomatis membentuk pertahanan diri.

Inilah yang kemudian terbawa hingga dewasa; sebuah mekanisme koping yang sering disalahartikan sebagai penyakit, padahal sebenarnya itu adalah luka lama yang belum mengering.

Penting untuk dicatat, mengakui kalau memiliki masalah kepercayaan bukan berarti kamu gila atau rusak.

Strategi Pulih dari Jeratan Trust Issue

Berikut langkah taktis untuk mulai menyembuhkan trust issue yang selama ini menyiksa pikiran kamu:

1. Validasi Tanpa Menghakimi Diri Sendiri

Langkah pertama adalah berdamai dengan rasa curiga.

Jangan memarahi diri sendiri atau merasa aneh saat kecurigaan itu muncul.

Sadari bahwa itu adalah cara otak berusaha melindungimu dari rasa sakit yang pernah ada.

Alih-alih menekannya, katakan pada diri sendiri "aku merasa curiga sekarang karena aku takut terluka lagi, tapi perasaan ini tidak selalu benar."

2. Bangun Komunikasi yang Transparan

Luka dari masalah kepercayaan sering kali tumbuh subur dalam diam.

Cobalah untuk mulai jujur tentang titik rapuhmu kepada orang-orang terdekat.

Cara ini jauh lebih efektif daripada langsung melontarkan tuduhan yang justru merusak hubungan.

3. Gunakan Teknik Fact-Checking

Saat pikiran mulai memutar skenario buruk yang liar, segera tarik napas dan lakukan cek realita.

Tanyakan pada dirimu: "Apakah ada bukti nyata yang objektif kalau dia bohong sekarang? Atau ini hanya proyeksi dari ketakutan masa laluku?"

Bedakan antara firasat yang berdasar dengan asumsi yang lahir dari trauma.

4. Regulasi Biologis dengan Self-Care

Karena kecurigaan kronis menguras energi fisik, kamu butuh cara untuk menurunkan kadar kortisol dalam tubuh.

Lakukan olahraga rutin, latihan pernapasan, atau meditasi kesehatan untuk membuat tubuh rileks.

Saat tubuh rileks maka akan membuat otak lebih jernih dalam menilai situasi.

5. Belajar Percaya pada Diri Sendiri (Self-Trust)

Inti dari pemulihan sebenarnya bukan pada seberapa besar percaya orang lain tidak akan mengecewakanmu, melainkan seberapa besar kamu percaya bahwa kamu akan tetap baik-baik saja jika hal itu terjadi.

Saat kamu tahu kamu punya kekuatan untuk bangkit dari kekecewaan, kamu tidak akan lagi merasa perlu "menjaga" orang lain secara berlebihan.

Berhenti mencurigai setiap langkah orang lain memang melelahkan, tapi semua itu berada dikendali dirimu sendiri.

Jadikan perjalanan memulihkan diri ini sebagai bentuk kasih sayang kepada dirimu yang dulu pernah terluka.

Kamu berhak mendapatkan hubungan yang tenang dan hidup yang tidak lagi didikte oleh rasa takut.

Pelan tapi pasti, biarkan sisi dirimu yang waspada mulai belajar untuk bersantai sehingga kamu bisa kembali melihat bahwa masih banyak ruang aman yang layak kamu tempati.

Buku Don't Believe Everything You Think karya Joseph Nguyen bisa menjadi referensi yang tepat untuk dibaca.

Buku ini seperti mengajak membuka mata bahwa rasa sakit itu mungkin tidak bisa dihindari, tapi menderita terus-menerus karena pikiran sendiri itu sebenarnya pilihan.

Tidak hanya memberikan tips, penulis juga menjelaskan akar kenapa seseorang sering merasa cemas dan gimana cara memutus rantai pikiran negatif yang dapat merusak diri sendiri.

Buku ini juga mengajarkan cara mengakses intuisi agar tidak mudah larut dengan pikiran sendiri yang seringnya hanya asumsi.

Intinya, buku ini adalah kunci untuk kamu yang ingin mendapatkan kedamaian emosional tanpa harus perang terus sama isi kepala.

Yuk, pesan dan dapatkan bukunya sekarang juga di Gramedia.com.

TAG:

Terkini
Lihat Semua
Jelajahi