Fondasi Keragaman, Mengenal Kitab Suci Agama di Indonesia

Lihat Foto
Sumber Gambar: Freepik.com
Kitab Suci Agama di Indonesia
Rujukan artikel ini:
Sejarah Agama & Kepercayaan di…
Pengarang: Siti Fauziyah, S.TH.I., M.AG.
Penulis Anggi
|
Editor: Novia Putri Anindhita

Keberagaman agama di Indonesia merupakan salah satu kekayaan spiritual yang nyata bagi bangsa ini.

Saat ini, terdapat enam agama yang diakui secara resmi, yaitu Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu, masing-masing memiliki tradisi, ajaran, dan praktik ibadahnya sendiri.

Di balik semua perbedaan tersebut, satu hal yang selalu menjadi fondasi bagi umatnya adalah kitab suci.

Kitab suci inilah yang menjadi sumber ajaran, pedoman hidup, panduan moral dan identitas spiritual bagi jutaan umat di tanah air.

Dengan memahami apa saja kitab suci agama di Indonesia, kita tidak hanya menambah pengetahuan tetapi juga mengajarkan cara menghargai, merawat, dan menjaga toleransi antar sesama umat manusia.

Berikut ini adalah kitab suci agama di Indonesia beserta peranannya dalam kehidupan umat.

Kitab Suci Agama di Indonesia

Meskipun ada enam agama yang diakui di Indonesia, dalam pembahasan kitab suci, Kristen Protestan dan Katolik digabung dalam satu poin karena keduanya sama-sama menggunakan Alkitab sebagai kitab suci utama.

1. Islam: Al-Qur’an

Al-Qur’an adalah kitab suci umat Islam, diyakini sebagai firman Allah Swt. yang murni.

Secara harfiah, Al-Qur’an artinya bacaan yang sempurna.

Al-Qur'an berfungsi sebagai petunjuk hidup (Huda), pembeda antara yang benar dan salah (Al-Furqan), serta sumber utama hukum dan etika (Syariah), atau dengan kata lain sebagai pedoman moral bagi umat Islam dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Pewahyuan Al-Qur’an berlangsung secara berangsur-angsur (mutawatir) selama kurang lebih 23 tahun, disesuaikan dengan situasi dan kebutuhan umat pada masa itu.

2. Kristen & Katolik: Alkitab

Meskipun terdapat perbedaan jumlah Deuterokanonika (kitab tambahan) antara Katolik dan Protestan, Alkitab tetap menjadi pedoman ajaran dan iman yang sama bagi kedua tradisi.

Alkitab umat Katolik terdiri dari 73 kitab, termasuk kitab-kitab Deuterokanonika, dengan Perjanjian Lama berjumlah 46 kitab dan Perjanjian Baru 27 kitab.

Sementara itu, Alkitab umat Protestan terdiri dari 66 kitab, yaitu Perjanjian Lama 39 kitab dan 27 Perjanjian Baru.

Meski berbeda, keduanya sama-sama mengajarkan kasih dan hubungan dengan Tuhan.

3. Hindu: Weda

Untuk umat Hindu, kitab suci utama mereka adalah Weda.

Berasal dari kata Vid yang berarti Ilmu Pengetahuan.

Weda ini merupakan sumber ajaran dan pandangan hidup yang sangat luas, mencakup mulai dari ritual, doa, filosofi, hingga astronomi.

Kitab suci ini memiliki bagian utama yang dikenal sebagai Catur Weda Samhita, yaitu Rigveda, Yajurveda, Samaveda, dan Atharvaveda, dan berfungsi sebagai pedoman Dharma (kebenaran), Karma (perbuatan), Moksa (kebebasan), serta menjadi sumber hukum keagamaan.

4. Buddha: Tripitaka (Tiga Keranjang)

Untuk agama Buddha, kitab suci utama mereka adalah Tripitaka

Secara harfiah berarti 'Tiga Keranjang' (Tri = tiga, Pitaka = keranjang).

Tripitaka adalah kumpulan ajaran, aturan, dan filsafat yang diyakini berasal dari Sang Buddha.

Isinya terbagi menjadi Vinaya Pitaka (aturan monastik), Sutta Pitaka (khotbah dan ajaran), serta Abhidhamma Pitaka (filsafat dan psikologi).

Fungsi utama Tripitaka adalah sebagai panduan etika dan meditasi bagi umat Buddha untuk mengakhiri penderitaan (Dukkha) dan mencapai Nirwana.

5. Konghucu: Si Shu dan Wu Jing (Empat Kitab dan Lima Kitab Klasik)

Ajaran Konghucu sangat menekankan pada hubungan sosial, etika, dan penghormatan kepada leluhur.

Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium

Konghucu memiliki dua kitab utama yaitu Kitab Si Shu (Empat Kitab) dan Kitab Wu Jing (Untaian Lima Kitab).

Fungi utama Kitab Shi Su sebagai pedoman moral, pendidikan etika, dan pengembangan diri bagi umat Konghucu.

Sementara Kitab Wujing menjadi sumber literatur, filsafat, sejarah, dan panduan tata krama dalam budaya Konghucu.

Kitab Suci Agama di Indonesia dan Konsep Wahyu di Baliknya

Meskipun semua kitab suci berfungsi sebagai panduan utama, kedudukan dan status spiritualnya di mata para pemeluknya tidak seragam.

Perbedaan mendasar ini sangat bergantung pada bagaimana kitab suci itu diyakini diturunkan atau dikumpulkan apakah melalui wahyu langsung dari Tuhan, ilham, atau sekadar kodifikasi ajaran pencerahan.

Berikut bagaimana proses pewahyuan itu terjadi:

1. Wahyu Langsung (Kalamullah)

Dalam Islam, Al-Qur'an diyakini sebagai Firman Allah Swt. yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad Saw melalui Malaikat Jibril.

Teksnya murni, tidak dapat diubah, dan merupakan mukjizat abadi.

2. Teks yang Diilhami

Dalam Kristen, Alkitab diyakini ditulis oleh manusia (para Nabi dan Rasul) yang diilhami oleh Roh Kudus.

Meskipun ditulis oleh tangan manusia, isinya diyakini tidak mengandung kesalahan dalam menyampaikan kehendak Tuhan.

3. Ajaran dan Kodifikasi

Dalam Hindu (Weda) dan Buddha (Tripitaka), kitab suci adalah kumpulan ajaran, wejangan, dan filosofi dari Rsi atau sosok pencerahan (Sang Buddha).

Meskipun isinya suci dan mutlak, sifatnya lebih merupakan kodifikasi ajaran yang menjadi panduan moral dan spiritual, bukan langsung Firman yang diucapkan secara verbal dari Tuhan dalam bentuk teks.

Kitab Suci Agama di Indonesia sebagai Fondasi Toleransi

Setelah melihat betapa kayanya panduan spiritual yang ada di Indonesia, kita sadar bahwa semua kitab suci itu mengajarkan hal-hal fundamental yang sama yakni cinta, moralitas, dan etika.

Meskipun ritual dan sejarahnya berbeda, semua kitab suci mengajarkan umatnya untuk berbuat baik, menghargai sesama, dan mencari kedamaian.

Kitab suci bukanlah pemisah, melainkan fondasi kuat yang menopang keragaman dan toleransi di Indonesia.

Mengenal kitab suci agama di Indonesia bukan tentang membandingkan mana yang paling benar, melainkan tentang belajar memahami betapa beragamnya cara manusia mencari makna hidup.

Di setiap lembar kitab suci, terdapat doa, harapan, dan nilai-nilai kebaikan yang tumbuh dari konteks dan perjalanan yang berbeda, tapi dengan tujuan yang sama yaitu hidup yang lebih bermakna dan penuh welas asih.

Di tengah perbedaan yang sering disorot, pemahaman justru bisa menjadi jembatan yang mendekatkan.

Agar kamu dapat mendalami pemahaman tentang sejarah agama, filsafat dan bagaimana ajaran yang diterapkan, buku Sejarah Agama & Kepercayaan di Dunia menjadi bacaan yang tepat.

Buku ini membuka ruang dialog yang jujur tentang keberagaman agama dan kepercayaan di dunia.

Bukan untuk membandingkan mana yang paling benar, melainkan untuk membantu kita memahami bagaimana setiap agama lahir, berkembang, dan dimaknai oleh para penganutnya.

Dengan sudut pandang yang tenang dan empatik, buku ini mengajak pembaca melihat agama sebagai bagian penting dari identitas, budaya, dan perjalanan manusia mencari makna hidup.

Lewat pembahasan yang reflektif, kita diajak menyadari bahwa banyak prasangka muncul bukan karena perbedaan, tapi karena kurangnya pemahaman.

Buku ini menegaskan bahwa mempelajari agama lain adalah bentuk keberanian, keberanian untuk mendengar, belajar, dan menghargai sudut pandang yang berbeda tanpa harus kehilangan keyakinan sendiri.

Buku Sejarah Agama & Kepercayaan di Dunia bisa kamu dapatkan sekarang juga di Gramedia.com atau toko Gramedia terdekat.

TAG:

Terkini
Lihat Semua
Jelajahi