Risiko Kerja di Hongkong yang Masih Jarang Diketahui

Lihat Foto
Sumber Gambar: Freepik.com
Resiko Kerja di Hongkong 
Rujukan artikel ini:
Second Sister (Putri Kedua)
Pengarang: Chan Ho - Kei
|
Editor: Ratih Widiastuty

Menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) atau Pekerja Migran Indonesia (PMI), khususnya Tenaga Kerja Wanita (TKW) di berbagai negara, termasuk Hongkong mempunyai beberapa risiko berat.

Maka dari itu, sebelum memutuskan untuk bekerja di Hongkong wajib mempertimbangkan konsekuensi yang akan terjadi.

Hongkong sendiri adalah kota metropolitan yang menawarkan peluang kerja bagi banyak orang dari seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Bagi kebanyakan Tenaga Kerja Wanita, Hongkong merupakan tempat mencari nafkah untuk memperbaiki kehidupan lebih baik bagi keluarga di Indonesia.

Akan tetapi, di balik peluang dan harapan yang ditawarkan, ternyata ada berbagai risiko yang harus dihadapi selama bekerja di sana.

Beberapa risiko tersebut mulai dari dimarahi majikan, mendapatkan majikan yang pelit, sampai rasa rindu pada keluarga karena terpisah jarak dari mereka.

Tidak hanya itu, kekerasan fisik dan pelecehan seksual pun menjadi risiko lainnya yang mesti dihadapi oleh beberapa pekerja.

Tentunya hal ini menjadikan pengalaman bekerja di Hongkong tidaklah gampang, tapi masih ada banyak orang yang mau berjuang untuk memperbaiki kehidupan mereka demi keluarga tercinta di Tanah Air.

Untuk lebih jelasnya, simak beberapa risiko bekerja di Hongkong berikut ini sebagai informasi dan pertimbangan sebelum memutuskan untuk bekerja di kota metropolitan tersebut.

Risiko Kerja di Hongkong

1. Tekanan Pekerjaan

Tidak dapat dipungkiri jika bekerja di Hongkong memiliki tekanan yang tinggi akibat kebiasaan berbicara masyarakatnya yang keras dan cepat.

Kebanyakan bos atau majikan di Hongkong akan jauh lebih cerewet dalam menilai hasil kerja yang dilakukan.

Maka dibutuhkan mental yang kuat dan kesabaran yang tinggi untuk bisa bekerja di Hongkong dalam menghadapi bos atau majikan yang rewel.

Tidak hanya itu, para pekerja migran di Hongkong juga memiliki tuntutan pekerjaan yang tidak mudah dengan tugas melimpah.

2. Pelecehan Seksual dan Kekerasan

Menjadi TKW di Hongkong tentunya juga harus selalu mewaspadai risiko terjadinya pelecehan seksual dan kekerasan yang dilakukan oleh bos atau majikan.

Pasalnya, beberapa majikan dapat menjadi agresif dan kasar terutama sedang saat marah atau merasa kurang puas dengan hasil pekerjaan yang dilakukan.

Tidak hanya tertekan secara fisik, ancaman serta tekanan dari majikan bisa memengaruhi mental dan pikiran para pekerja.

Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium

Beberapa kasus biasanya menemukan majikan yang memanfaatkan kondisi kerja di luar negeri dengan mengancam akan menyita paspor pekerja.

3. Jam Kerja yang Panjang

Jam kerja yang panjang juga turut menghantui TKW yang bekerja di Hongkong karena biasanya majikan mengharapkan seluruh pekerjaan dapat dikerjakan dalam waktu yang lama, melebihi batas jam kerja pada umumnya.

Para TKW pun harus bekerja lebih dari delapan jam sehari tanpa memperoleh waktu istirahat yang cukup.

Hal ini tentunya sangat mengkhawatirkan karena bisa memengaruhi kondisi kesehatan mental dan fisik.

Selain pendapatan yang menggiurkan, kondisi kesehatan, baik fisik maupun mental, pun penting untuk diperhatikan.

4. Kurangnya Perlindungan Hukum

Bahasa yang berbeda dan tidak pahamnya mengenai aturan hukum tak jarang membuat para TKW kesulitan dalam memahami hak-hak kerjanya.

Tidak mengherankan, apabila masih banyak TKW yang susah memperoleh informasi konkret mengenai hak-hak mereka serta cara melindungi diri dari eksploitasi.

Walaupun terdapat undang-undang yang melindungi hak-hak pekerja di Hongkong, tapi akses terhadap perlindungan hukum kerap kali terbatas bagi para TKW.

Oleh karena itu, penting sekali untuk mengedukasi diri tentang hak-hak kerja dan hukum yang berlaku agar tidak dieksploitasi.

Hongkong tidak hanya menawarkan keindahan gemerlap kotanya saja, tapi juga turut melahirkan penulis novel kenamaan.

Salah satunya adalah Chan Ho-Kei, penulis novel Second Sister yang memang banyak digandrungi oleh pembaca di Asia, tak terkecuali Indonesia.

Novel ini menceritakan tentang Nga-Yee yang melihat adik kandungnya, Siu-Man, tewas bunuh diri dengan melompat dari jendela apartemen mereka di lantai dua puluh.

Nga-Yee menolak percaya jika adiknya itu bunuh diri, ia kemudian memutuskan untuk menyelidiki kasus kematian Siu-Man dan mengambil kesimpulan jika keputusan adiknya untuk mengakhiri hidup bukan kemauan dari adiknya melainkan tekanan dari perundungan yang dialami Siu-Man selama ini.

Nga-Yee meminta bantuan seorang peretas yang cuma dikenal sebagai N untuk menyelidiki kasus kematian adiknya.

Apakah benar kematian Siu-Man akibat dari perundungan yang dialaminya selama ini?

Cari tahu jawabannya dengan memesan bukunya di Gramedia.com.

TAG:

Terkini
Lihat Semua
Jelajahi