4 Ciri Khas Pantun Jawa Lucu dan Contoh yang Bikin Ngakak

Lihat Foto
Photo by Jorge Alvarez Lecaros on Pexels
pantun jawa lucu
Rujukan artikel ini:
Parikan Pantun Jawa
Pengarang: Koesalah Soebagyo Toer
|
Editor: Rahmad

Pantun Jawa adalah salah satu bentuk puisi rakyat yang berasal dari Jawa, Indonesia.

Pantun Jawa memiliki ciri khas dalam bentuk dan maknanya, yang terdiri dari empat baris dengan rima a-b-a-b. Setiap baris terdiri dari delapan atau sepuluh suku kata.

Sejarah pantun Jawa tidak diketahui secara pasti.

Namun, pantun Jawa diyakini berasal dari tradisi lisan masyarakat Jawa, yang pada awalnya digunakan sebagai sarana hiburan dan pengiring acara sosial seperti pernikahan, kelahiran, atau bahkan saat sedekah bumi.

Pantun Jawa juga menjadi sarana untuk menyampaikan pesan moral dan kebijaksanaan dalam kehidupan sehari-hari.

Oleh karena itu, pantun Jawa memiliki banyak variasi, tergantung pada tema dan konteks penggunaannya.

Pada masa lalu, pantun Jawa juga digunakan sebagai media untuk mengungkapkan perasaan cinta atau ungkapan kebahagiaan dalam kehidupan sosial masyarakat Jawa, termasuk berkomedi dengan pantun lucu.

Saat ini, pantun Jawa masih terus dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat Jawa sebagai warisan budaya yang sangat berharga.

Hingga saat ini, pantun jawa atau parikan yang masih populer adalah pantun jawa lucu dengan berbagai fungsinya.

Ciri Khas Pantun Jawa Lucu

Pantun Jawa adalah salah satu jenis pantun yang berasal dari budaya Jawa, Indonesia.

Ciri khas pantun Jawa yang lucu dan bikin ngakak terletak pada gaya bahasanya yang kocak dan cenderung mengandung unsur humor atau sindiran.

Berikut adalah beberapa contoh ciri khas pantun Jawa yang lucu dan bikin ngakak:

1. Menggunakan Kosakata yang Tidak Umum

Ciri khas ini bahkan terdengar lucu saat diucapkan, misalnya: "Sing kalih pitik keneh jenggotnya ngembang" (yang kedua punya ayam jenggotnya mengembang) atau "Sangkuriang melu ndadak bawa tabung gas" (Sangkuriang tiba-tiba membawa tabung gas).

2. Menggunakan Permainan Kata

Selain menggunakan permainan kata, pantun jawa lucu biasanya juga menggunakan kalimat yang ambigu. Ini tentu akan mengundang tawa dari pendengarnya.

Misalnya: "Koyo nangkane kembang tresno, ngguyu tansah dijupukono" (seperti bunga cinta, kalau dijepit selalu terkoyak-koyak) atau "Awakmu tansah ngomong, tapi kok kepala ngisor" (kamu selalu bicara, tapi kepalamu terus ke bawah).

Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium

3. Mengandung Sindiran atau Kritik Sosial yang Disampaikan

Ciri khas ini biasa disampaikan secara halus melalui bahasa pantun, misalnya: "Aja melek wae tansah duduk, sing njomplang luwe ngarep pangling" (jangan hanya duduk diam, yang berdandan berlebihan berharap dipandang).

4. Mengandung Unsur Kejadian Sehari-hari

Isi pantun jawa yang lucu bisa ditemukan di lingkungan sekitar, seperti kegiatan di pasar atau kegiatan masyarakat desa, misalnya: "Sepurane sing nggon pendhakane, wedhuse ngguyu awakmu kewan" (seperti kereta yang melintasi rel, hatimu selalu berputar-putar).

Itulah beberapa ciri khas pantun Jawa yang lucu dan bikin ngakak beserta contohnya.

Selain itu, pantun Jawa juga sering digunakan dalam berbagai kesempatan seperti acara pernikahan, pertemuan keluarga, dan acara-acara resmi lainnya.

Fungsi pantun jawa lucu ini jadi sebagai bentuk hiburan atau mencairkan suasana saat acara tersebut. Itulah sebabnya pantun jawa lucu masih banyak digunakan hingga sekarang.

Meskipun sudah ada sejak lama, tetapi eksistensi pantun Jawa masih terlihat sampai sekarang.

Di masyarakat Jawa, pantun masih sering digunakan dalam berbagai acara tradisional seperti pesta pernikahan, upacara adat, dan pertemuan formal.

Pantun juga masih menjadi bahan ajar di sekolah-sekolah dan dijaga kelestariannya melalui kegiatan seni dan budaya di komunitas Jawa.

Selain itu, pantun Jawa juga masih dikenal dan dikagumi oleh masyarakat luas di Indonesia.

Beberapa penyair dan seniman Indonesia seperti W.S. Rendra, Sitor Situmorang, dan Goenawan Mohamad juga terkenal karena kecintaan mereka pada pantun Jawa dan keahlian mereka dalam menulis pantun.

Di era digital seperti sekarang, pantun Jawa juga tetap ada di media sosial dan platform online lainnya.

Banyak pengguna media sosial yang membagikan pantun Jawa untuk mengungkapkan perasaan mereka atau untuk menghibur teman-teman mereka.

Hal ini menunjukkan bahwa pantun Jawa masih relevan dan berharga bagi masyarakat Jawa dan Indonesia secara umum.

Buku Parikan Pantun Jawa yang ditulis Koesalah Soebagyo Toer bisa kamu jadikan referensi mengetahui lebih banyak tentang pantun Jawa lucu yang bikin ngakak.

Selain menjelaskan tentang parikan yang merupakan pantun Jawa, buku ini juga memberi banyak contoh.

Buku ini bisa kamu pesan di Gramedia.com!

TAG:

Terkini
Lihat Semua
Jelajahi