Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Menjawab Dilema Pekerja Hari Ini lewat Buku Mengapa Negara Gagal

Kompas.com, 28 Agustus 2026, 14:00 WIB
Buku Mengapa Negara Gagal Sumber Gambar: Dok. Elex Media Komputindo Buku Mengapa Negara Gagal
Rujukan artikel ini:
Mengapa Negara Gagal - Why…
Pengarang: Daron Acemoglu, James A.…
|
Editor Novia Putri Anindhita

Setiap bulan, banyak pekerja menjalani rutinitas yang hampir sama.

Gaji masuk, lalu segera terbagi untuk tempat tinggal, makan, transportasi, tagihan, kebutuhan keluarga, dan berbagai pengeluaran lain yang sulit ditunda.

Menabung menjadi target yang terus diusahakan, sementara lonjakan biaya hidup kerap kali lebih besar daripada kenaikan pendapatan.

Banyak yang meresponsnya dengan mengambil pekerjaan tambahan, mencari peluang baru, atau menerapkan gaya hidup frugal living.

Keringat terus diperas, tetapi ironisnya rasa aman secara ekonomi tetap terasa jauh dari genggaman.

Pengalaman semacam ini kerap disederhanakan menjadi persoalan individu.

Gaji kecil dianggap akibat kurang terampil, tabungan tipis dituding karena gaya hidup boros, dan karier yang stagnan dinilai karena kurang gigih berusaha.

Logika ini menempatkan seluruh beban kemakmuran di pundak pribadi.

Padahal, kehidupan ekonomi seseorang juga dibentuk oleh sesuatu yang jauh lebih besar dari keputusan pribadinya, yaitu sistem yang menentukan kesempatan kerja, aturan usaha, perlindungan hukum, akses pendidikan, hingga bagaimana sumber daya dan kekuasaan didistribusikan.

Konteksnya menjadi menarik ketika melihat data ekonomi Indonesia.

Sepanjang 2025, ekonomi Indonesia tumbuh 5,11 persen.

Pada Agustus tahun yang sama, jumlah penduduk bekerja mencapai 146,54 juta orang, sementara rata-rata upah buruh berada di angka Rp3,33 juta per bulan.

Angka-angka tersebut menunjukkan ekonomi tetap bergerak dan jutaan orang tetap bekerja.

Namun, pertumbuhan ekonomi pada tingkat nasional tidak otomatis membuat setiap orang merasakan peningkatan kesejahteraan dengan kecepatan yang sama.

Di sinilah buku Mengapa Negara Gagal karya Daron Acemoglu dan James A. Robinson menawarkan cara pandang yang menarik.

Buku ini mengajak pembaca melihat kemiskinan, ketimpangan, dan kemakmuran bukan hanya melalui seberapa rajin masyarakat bekerja atau seberapa banyak sumber daya yang dimiliki sebuah negara.

Fokusnya terletak pada institusi politik dan ekonomi, yaitu aturan dan struktur yang menentukan bagaimana kekuasaan dan kesempatan bekerja dalam sebuah masyarakat.

Ketika Dua Negara dengan Sejarah Serupa Berakhir Berbeda

Salah satu contoh paling terkenal dalam buku ini adalah Korea Utara dan Korea Selatan.

Keduanya memiliki akar sejarah, budaya, bahasa, dan identitas masyarakat yang sangat dekat dan mirip.

Namun, setelah terpisah secara politik, keduanya menempuh jalur pembangunan yang sangat berbeda.

Korea Selatan berkembang menjadi negara dengan ekonomi maju, sementara Korea Utara mengalami keterbatasan ekonomi dan politik yang jauh lebih berat.

Perbedaan tersebut membuat kita sulit menjelaskan kemakmuran hanya dari kacamata budaya, sumber daya alam, atau karakter masyarakat.

Acemoglu dan Robinson kemudian mengarahkan perhatian pada institusi.

Menurut mereka, cara sebuah negara mengatur kekuasaan dan kesempatan memiliki pengaruh besar terhadap perjalanan ekonominya.

Negara yang mampu menciptakan aturan yang memberi kesempatan luas kepada masyarakat akan memiliki ruang lebih besar untuk berkembang.

Sebaliknya, ketika kesempatan dan kekuasaan terkonsentrasi pada kelompok tertentu, perkembangan ekonomi dapat lebih banyak menghasilkan keuntungan bagi mereka yang sudah berada di posisi kuat.

Institusi Menentukan Seberapa Jauh Kerja Keras Bisa Membawa Kita

Buku Mengapa Negara Gagal membedakan institusi menjadi dua bentuk besar, yaitu institusi inklusif dan ekstraktif.

Institusi inklusif menciptakan arena yang adil bagi seluruh lapisan masyarakat.

Hak milik mendapatkan perlindungan, kesempatan berusaha terbuka, hukum berdiri tegak tanpa pandang bulu, dan setiap orang memiliki insentif untuk berinvestasi serta menciptakan inovasi.

Sebaliknya, institusi ekstraktif bekerja dengan memusatkan kekuasaan dan keuntungan kepada kelompok tertentu, sementara kesempatan masyarakat luas dibatasi.

Perbedaannya bisa dibayangkan melalui hal yang sederhana.

Dua orang dapat sama-sama memiliki ide usaha, kemampuan, dan kemauan untuk bekerja.

Namun, hasil yang mereka peroleh tidak hanya ditentukan oleh kualitas pribadi.

Akses terhadap modal, kepastian hukum, pasar, pendidikan, infrastruktur, dan persaingan yang sehat ikut menentukan apakah kemampuan tersebut dapat berkembang.

Dalam lingkungan yang inklusif, akan lebih banyak orang yang memiliki kesempatan untuk menciptakan sesuatu.

Sementara dalam lingkungan yang ekstraktif, kesempatan dapat berhenti pada kelompok yang sudah memiliki akses terhadap kekuasaan dan sumber daya.

Karena itu, kemiskinan tidak selalu bisa dibaca sebagai kegagalan individu.

Ada kondisi ketika seseorang bekerja keras di dalam sistem yang memang memberikan ruang terbatas untuk berkembang.

Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium

Ketimpangan Terlihat dari Kesempatan yang Dimiliki

Persoalannya menjadi lebih jelas ketika melihat kondisi kelas menengah Indonesia.

BPS mencatat jumlah penduduk kelas menengah turun dari 57,33 juta orang pada 2019 menjadi 47,85 juta pada 2024, berkurang sekitar 9,48 juta orang dalam lima tahun.

Pada saat yang sama, jumlah kelompok yang berada di bawah kelas menengah justru meningkat.

Perubahan ini menunjukkan bahwa sebagian masyarakat yang sebelumnya relatif lebih mapan kini berada pada posisi ekonomi yang lebih rentan.

Angka tersebut tentu tidak berarti Indonesia dapat langsung disebut sebagai negara dengan institusi ekstraktif.

Namun, data itu menunjukkan bahwa pembahasan mengenai distribusi kesempatan dan hasil pembangunan tetap relevan.

Sebab ketimpangan tidak hanya berbicara tentang siapa yang memiliki uang lebih banyak.

Di belakangnya, terdapat perbedaan akses terhadap pendidikan, pekerjaan, modal, perlindungan, dan kemampuan untuk memengaruhi keputusan yang menentukan kehidupan ekonomi.

Struktur ketenagakerjaan juga menunjukkan kerentanan serupa.

Di samping rata-rata upah buruh nasional sebesar Rp3,33 juta yang hanya tumbuh tipis 1,94 persen, sebagian besar tenaga kerja kini terserap di sektor informal, UMKM mikro, pekerja lepas, dan tenaga alih daya (outsource) tanpa perlindungan kerja yang kokoh.

Kerja keras yang dijalani jutaan orang hari ini sering kali tidak diimbangi dengan bantalan pengaman yang layak ketika guncangan ekonomi datang.

Ketika Ekonomi Berkaitan dengan Kekuasaan

Di bagian ini, gagasan Mengapa Negara Gagal menjadi semakin menarik.

Institusi ekonomi tidak muncul begitu saja karena berkaitan erat dengan institusi politik.

Pemerintah membuat aturan, menetapkan kebijakan, mengelola sumber daya publik, membangun layanan dasar, dan menentukan bagaimana hukum ditegakkan.

Karena itu, distribusi kekuasaan politik ikut menentukan bagaimana aturan ekonomi dibentuk.

Ketika kekuasaan tersebar dan dapat diawasi, institusi memiliki peluang lebih besar untuk melayani kepentingan masyarakat luas.

Sebaliknya, ketika kekuasaan terkonsentrasi, kelompok yang sudah memperoleh keuntungan dapat menggunakan kekuatan politik untuk mempertahankan keuntungan ekonominya.

Dari hal tersebut, terbentuklah lingkaran yang sulit diputus.

Kekuasaan menghasilkan keuntungan, keuntungan membantu mempertahankan kekuasaan, lalu kekuasaan digunakan kembali untuk menjaga aturan yang sama.

Negara Bisa Tumbuh, tetapi Kesempatan Belum Tentu Merata

Salah satu hal penting dalam Mengapa Negara Gagal adalah bahwa institusi ekstraktif tidak selalu membuat ekonomi langsung berhenti.

Sebuah negara tetap bisa tumbuh melalui pembangunan yang terpusat atau pemanfaatan sumber daya, tetapi pertumbuhan tersebut belum tentu membuka kesempatan ekonomi yang luas bagi masyarakat.

Dalam kondisi seperti ini, ekonomi dapat terlihat berkembang, sementara sebagian masyarakat masih kesulitan memperbaiki kehidupan mereka.

Indonesia sendiri mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 5,11 persen sepanjang 2025.

Angka ini menunjukkan perekonomian terus berkembang, tetapi belum menggambarkan bagaimana hasil pertumbuhan tersebut dirasakan oleh masyarakat.

Pertumbuhan ekonomi dan pemerataan kesempatan merupakan dua hal yang berbeda.

Ekonomi dapat tumbuh, sementara akses terhadap pekerjaan layak, pendidikan, modal, dan peluang usaha masih belum dirasakan secara merata.

Gagasan dari buku Mengapa Negara Gagal membantu melihat persoalan ini dari sudut yang lebih luas.

Kemajuan sebuah negara tidak cukup dilihat dari seberapa besar ekonominya tumbuh, tetapi juga dari seberapa luas kesempatan yang terbuka bagi masyarakat untuk bekerja, berusaha, berinovasi, dan memperbaiki kehidupan.

Ketika kesempatan tersebut semakin terbuka, pertumbuhan ekonomi memiliki peluang lebih besar untuk menghasilkan kemakmuran yang dirasakan secara luas.

Menyediakan Ruang bagi Makna Kerja Keras

Memahami perspektif Acemoglu dan Robinson bukan berarti menafikan nilai kerja keras, melainkan menyadarkan kita bahwa kerja keras membutuhkan tanah yang subur untuk bertumbuh.

Dedikasi, keuletan, dan keterampilan individu adalah benih yang hanya bisa berbuah jika ditopang oleh sistem hukum yang adil, persaingan usaha yang sehat, dan kebijakan publik yang berpihak pada rakyat banyak.

Karena itu, kemajuan sebuah negara tidak cukup diukur dari gedung yang semakin tinggi atau angka pertumbuhan yang terus bergerak.

Yang perlu dilihat adalah seberapa luas kesempatan dibuka dan seberapa kuat institusi memastikan kesempatan tersebut tidak hanya dinikmati oleh mereka yang sejak awal sudah memiliki kekuasaan.

Sebuah bangsa tidak hanya perlu merdeka untuk menentukan siapa yang memerintah, tetapi juga terus berusaha memastikan bahwa bertambah banyak warganya yang memiliki kesempatan untuk menentukan masa depan mereka sendiri.

Itulah yang membuat Mengapa Negara Gagal menarik dibaca.

Buku karya Daron Acemoglu dan James A. Robinson ini membahas hubungan antara kemiskinan, ketimpangan, pertumbuhan ekonomi, kekuasaan, serta institusi politik dan ekonomi, sekaligus menunjukkan bagaimana sejarah membentuk jalan yang ditempuh sebuah negara.

Bagi yang ingin memahami lebih jauh mengapa sebagian negara berhasil membangun kemakmuran sementara sebagian lainnya terus berhadapan dengan kemiskinan dan ketimpangan, Mengapa Negara Gagal bisa menjadi bacaan yang membuka perspektif baru.

Bukunya bisa didapatkan di toko buku Gramedia terdekat, Gramedia.com, dan Gramedia Digital.

Rekomendasi Buku Terkait

Terkini Lainnya

Ciri Puyuh Mau Bertelur: Tanda Fisik, Perilaku, dan Cara Mengetahuinya dengan Mudah

Ciri Puyuh Mau Bertelur: Tanda Fisik, Perilaku, dan Cara Mengetahuinya dengan Mudah

buku
Masa Produktif Puyuh Bertelur: Umur Ideal, Puncak Produksi, dan Cara Menjaganya Tetap Optimal

Masa Produktif Puyuh Bertelur: Umur Ideal, Puncak Produksi, dan Cara Menjaganya Tetap Optimal

buku
Kapan Puyuh Mulai Bertelur? Kenali Usia dan Tandanya Berikut Ini

Kapan Puyuh Mulai Bertelur? Kenali Usia dan Tandanya Berikut Ini

buku
Kandungan Nutrisi Telur Puyuh dan Manfaatnya bagi Tubuh

Kandungan Nutrisi Telur Puyuh dan Manfaatnya bagi Tubuh

buku
Jalur Migrasi Burung: Pengertian, Rute, dan Peran Indonesia dalam Flyway Asia

Jalur Migrasi Burung: Pengertian, Rute, dan Peran Indonesia dalam Flyway Asia

buku
Apa Alasan Burung Bermigrasi? Cari Tahu di Sini!

Apa Alasan Burung Bermigrasi? Cari Tahu di Sini!

buku
Apa Itu Migrasi Burung? Pengertian, Penyebab, dan Proses Terjadinya

Apa Itu Migrasi Burung? Pengertian, Penyebab, dan Proses Terjadinya

buku
Kekayaan Raja Maroko: Sumber Kekayaan dan Fakta Menariknya

Kekayaan Raja Maroko: Sumber Kekayaan dan Fakta Menariknya

buku
Peran Raja Maroko: Kedudukan, Wewenang, dan Pengaruhnya dalam Pemerintahan Modern

Peran Raja Maroko: Kedudukan, Wewenang, dan Pengaruhnya dalam Pemerintahan Modern

buku
Dokumen SDUWHV Apa Saja? Ini Daftar Dokumen Wajib dan Tips Lolos Verifikasi

Dokumen SDUWHV Apa Saja? Ini Daftar Dokumen Wajib dan Tips Lolos Verifikasi

buku
Cara Daftar e-Visa Imigrasi dengan Mudah

Cara Daftar e-Visa Imigrasi dengan Mudah

buku
Bazi Bukan Sekadar Ramalan, Ini Cara Memahaminya

Bazi Bukan Sekadar Ramalan, Ini Cara Memahaminya

buku
Menjawab Rasa Ingin Tahu Tanpa Batas bersama Ensiklopedia Anak – Kamu Mau Tahu Segalanya?

Menjawab Rasa Ingin Tahu Tanpa Batas bersama Ensiklopedia Anak – Kamu Mau Tahu Segalanya?

buku
Menyingkap Sejarah Manusia dari Berbagai Negara di Dunia

Menyingkap Sejarah Manusia dari Berbagai Negara di Dunia

buku
Memasuki Pintu Gerbang Menuju Ratusan Keajaiban di Dunia bersama Ensiklopedia Lengkap Pertamaku

Memasuki Pintu Gerbang Menuju Ratusan Keajaiban di Dunia bersama Ensiklopedia Lengkap Pertamaku

buku
Bukan Gaji yang Kurang, Bisa Jadi Kamu Salah Urutan Bayar

Bukan Gaji yang Kurang, Bisa Jadi Kamu Salah Urutan Bayar

buku
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau