Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Apa Itu Brain Rot? Istilah Viral yang Sering Muncul di Internet

Kompas.com, 30 Juli 2026, 14:00 WIB
Brain Rot Artinya Sumber Gambar: Magnific.com Brain Rot Artinya
Rujukan artikel ini:
Dopamine Detox - Panduan Singkat…
Pengarang: Thibaut Meurisse
Penulis Nadia
|
Editor Novia Putri Anindhita

Di tengah derasnya arus informasi di internet, kita bisa menemukan berbagai jenis konten hanya dalam hitungan detik.

Mulai dari video pendek, meme, tren terbaru, hingga berbagai informasi yang terus berganti di layar.

Tanpa disadari, kebiasaan mengonsumsi konten secara terus-menerus ini membuat kita merasa sulit lepas dari layar dan terus ingin melihat konten berikutnya.

Fenomena inilah yang kemudian sering disebut dengan istilah brain rot.

Meski secara harfiah berarti "otak membusuk", istilah ini sebenarnya bukan berarti otak benar-benar mengalami kerusakan.

Lantas, apa itu brain rot dan mengapa istilah ini begitu populer di internet? Yuk, kenali arti, penyebab, hingga dampaknya dalam kehidupan sehari-hari.

Apa Itu Brain Rot?

Secara harfiah, brain rot berarti "pembusukan otak".

Namun, istilah ini tidak merujuk pada kondisi otak yang benar-benar membusuk atau mengalami kerusakan secara fisik.

Brain rot merupakan istilah informal yang digunakan untuk menggambarkan dampak dari konsumsi konten digital secara berlebihan, terutama konten yang dianggap kurang bermakna atau terlalu repetitif.

Sederhananya, istilah brain rot sering digunakan ketika seseorang merasa terlalu "terjebak" dalam kebiasaan mengonsumsi konten digital.

Beberapa contoh perilaku yang sering dikaitkan dengan brain rot antara lain:

1. Scrolling Tanpa Tujuan

Membuka media sosial hanya untuk melihat-lihat, tetapi terus menggulir layar tanpa tujuan yang jelas hingga tidak terasa sudah menghabiskan banyak waktu.

2. Terlalu Sering Menonton Video Pendek

Menonton satu video pendek kemudian berlanjut ke video berikutnya secara terus-menerus.

Konten yang cepat dan singkat dapat membuat seseorang terbiasa menerima informasi dalam waktu yang sangat singkat.

3. Sulit Berkonsentrasi pada Aktivitas Lain

Setelah terbiasa dengan konten yang berganti dengan cepat, sebagian orang mungkin merasa lebih sulit mempertahankan perhatian pada aktivitas yang membutuhkan waktu lebih lama.

Contohnya saat membaca buku atau mengerjakan tugas.

4. Terus Mengikuti Tren dan Istilah Internet

Brain rot juga sering digunakan untuk menggambarkan kondisi ketika seseorang terlalu terbawa oleh meme, istilah, karakter, atau tren tertentu yang sedang viral di internet.

5. Memenuhi Percakapan dengan Referensi Internet

Dalam penggunaan sehari-hari, istilah brain rot juga bisa merujuk pada kebiasaan menggunakan meme atau istilah viral secara berlebihan hingga menjadi bagian dari cara seseorang berkomunikasi.

Meski begitu, brain rot bukanlah diagnosis medis atau istilah ilmiah yang secara resmi digunakan untuk menyebut suatu penyakit.

Istilah ini lebih banyak digunakan sebagai bahasa populer di media sosial untuk menggambarkan fenomena yang berkaitan dengan kebiasaan mengonsumsi konten digital secara berlebihan.

Penggunaan istilah brain rot sebaiknya tidak langsung diartikan sebagai tanda bahwa seseorang mengalami gangguan pada otaknya.

Namun, kebiasaan menghabiskan terlalu banyak waktu di depan layar tetap perlu diperhatikan, terutama jika mulai mengganggu konsentrasi, waktu tidur, aktivitas sehari-hari, atau keseimbangan kehidupan digital dan dunia nyata.

Penyebab Brain Rot

Istilah brain rot semakin sering dibicarakan seiring meningkatnya penggunaan internet dan media sosial.

Meski bukan istilah medis, fenomena ini sering dikaitkan dengan kebiasaan mengonsumsi konten digital secara berlebihan dan berulang.

Ada beberapa hal yang dapat membuat seseorang lebih mudah terjebak dalam pola konsumsi konten seperti ini, di antaranya:

1. Terlalu Lama Bermain Media Sosial

Kebiasaan menghabiskan banyak waktu untuk scrolling dapat membuat seseorang terus terpapar berbagai informasi dan hiburan tanpa jeda.

2. Kecanduan Konten Singkat

Video pendek yang cepat dan mudah dikonsumsi dapat membuat seseorang terbiasa mendapatkan hiburan secara instan.

Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium

Akibatnya, aktivitas yang membutuhkan perhatian lebih lama bisa terasa kurang menarik.

3. Algoritma Media Sosial

Platform digital biasanya menampilkan konten berdasarkan minat dan kebiasaan pengguna.

Semakin sering seseorang melihat jenis konten tertentu, semakin banyak konten serupa yang muncul sehingga membuatnya terus ingin scrolling.

4. Takut Ketinggalan Tren

Keinginan untuk selalu mengikuti meme, berita viral, istilah baru, atau tren terbaru dapat mendorong seseorang untuk terus memeriksa media sosial agar tidak merasa tertinggal.

5. Menggunakan Internet sebagai Pelarian

Saat merasa bosan, stres, atau lelah, seseorang mungkin memilih membuka media sosial sebagai hiburan.

Jika dilakukan terlalu sering, kebiasaan ini dapat berkembang menjadi pola konsumsi konten yang sulit dikendalikan.

6. Kurangnya Aktivitas Offline

Ketika waktu lebih banyak dihabiskan di depan layar dan lebih sedikit melakukan aktivitas lain seperti membaca, berolahraga, berkegiatan kreatif, atau bersosialisasi secara langsung, konsumsi konten digital bisa semakin mendominasi keseharian.

Brain rot tidak disebabkan oleh satu hal saja.

Kebiasaan digital, jenis konten yang dikonsumsi, hingga cara seseorang menggunakan media sosial dapat berperan dalam terbentuknya fenomena ini.

Oleh karena itu, penting untuk mulai menyadari pola penggunaan internet dan memberikan jeda agar aktivitas digital tetap seimbang dengan kegiatan di dunia nyata.

Dampak Brain Rot dalam Kehidupan Sehari-hari

Jika kebiasaan mengonsumsi konten digital secara berlebihan terus dilakukan, brain rot sering dikaitkan dengan sejumlah perubahan dalam keseharian.

Dampaknya tidak selalu dirasakan oleh setiap orang dan istilah ini sendiri bukan diagnosis medis, tetapi beberapa hal berikut dapat muncul ketika penggunaan media sosial mulai tidak terkendali:

1. Konsentrasi Lebih Mudah Teralihkan

Terbiasa melihat konten yang singkat dan cepat berganti dapat membuat seseorang lebih mudah terdistraksi ketika mengerjakan aktivitas yang membutuhkan fokus lebih lama.

2. Sulit Menikmati Aktivitas yang Membutuhkan Waktu

Membaca buku, belajar, atau mengerjakan pekerjaan yang membutuhkan proses mungkin terasa lebih membosankan dibandingkan hiburan digital yang bisa memberikan kesenangan secara instan.

3. Waktu Banyak Terbuang

Kebiasaan scrolling tanpa tujuan dapat membuat seseorang kehilangan banyak waktu tanpa menyadarinya.

Aktivitas yang seharusnya dilakukan pun akhirnya tertunda.

4. Pola Tidur Terganggu

Terlalu lama menggunakan ponsel, terutama menjelang waktu tidur, dapat membuat waktu istirahat menjadi lebih larut atau tidak teratur.

5. Produktivitas Menurun

Ketika perhatian terlalu sering teralihkan oleh notifikasi atau keinginan untuk mengecek media sosial, menyelesaikan tugas dan pekerjaan sehari-hari bisa menjadi lebih sulit.

6. Lebih Sulit Lepas dari Media Sosial

Konten yang terus muncul dan dipersonalisasi oleh algoritma dapat membuat seseorang merasa ingin terus scrolling untuk mencari konten berikutnya.

7. Mengurangi Aktivitas di Dunia Nyata

Jika waktu di depan layar semakin mendominasi, kesempatan untuk melakukan aktivitas lain seperti berolahraga, membaca, berkegiatan kreatif, atau berinteraksi langsung dengan orang lain bisa ikut berkurang.

Dampak yang sering dikaitkan dengan brain rot lebih banyak berhubungan dengan pola penggunaan media digital yang berlebihan.

Oleh karena itu, penting untuk menggunakan media sosial secara lebih bijak, memberikan jeda dari layar, dan menyeimbangkannya dengan aktivitas lain agar kehidupan digital tetap menjadi bagian yang sehat dari keseharian.

Kalau kamu merasa mengalami brain rot karena terlalu banyak distraksi digital dan sulit fokus, buku Dopamine Detox: Panduan Singkat Menghilangkan Distraksi dan Melatih Otak Menaklukkan Hal-Hal Sulit karya Thibaut Meurisse bisa menjadi pilihan yang tepat.

Buku ini menawarkan solusi untuk mengurangi overstimulasi otak serta mengembalikan fokus dalam waktu 48 jam melalui metode yang mudah diterapkan.

Di dalamnya, kamu akan mempelajari tiga langkah praktis untuk menjalani dopamine detox, latihan aplikatif guna mengurangi distraksi dan meningkatkan konsentrasi, serta berbagai alat dan teknik sederhana agar tetap fokus tanpa harus sepenuhnya "putus dari dunia".

Ditulis dengan bahasa yang lugas dan mudah dipahami, Dopamine Detox menjadi panduan yang tepat bagi siapa saja yang ingin kembali fokus tanpa mengorbankan kewarasan.

Buku ini tersedia di Gramedia.com, Gramedia Digital, dan toko Gramedia terdekat.

Yuk, baca bukunya sekarang!

Rekomendasi Buku Terkait

Terkini Lainnya

Masih Ragu Investasi Syariah? 4 Miskonsepsi yang Perlu Diluruskan

Masih Ragu Investasi Syariah? 4 Miskonsepsi yang Perlu Diluruskan

buku
Perdagangan Masa Penjajahan Belanda: Sejarah, Sistem, dan Dampaknya bagi Indonesia

Perdagangan Masa Penjajahan Belanda: Sejarah, Sistem, dan Dampaknya bagi Indonesia

buku
Mengenal Komoditas Utama Masa Kolonial yang Jadi Incaran Belanda

Mengenal Komoditas Utama Masa Kolonial yang Jadi Incaran Belanda

buku
8 Tokoh Perlawanan terhadap Belanda dan Perjuangannya dalam Sejarah Indonesia

8 Tokoh Perlawanan terhadap Belanda dan Perjuangannya dalam Sejarah Indonesia

buku
Hasil Bumi Indonesia Masa Belanda: Rempah-Rempah hingga Komoditas Ekspor

Hasil Bumi Indonesia Masa Belanda: Rempah-Rempah hingga Komoditas Ekspor

buku
4 Pemain Muda Spanyol Paling Bersinar di Piala Dunia 2026

4 Pemain Muda Spanyol Paling Bersinar di Piala Dunia 2026

buku
8 Tokoh Kemerdekaan Korea Selatan Paling Berpengaruh Sepanjang Sejarah

8 Tokoh Kemerdekaan Korea Selatan Paling Berpengaruh Sepanjang Sejarah

buku
7 Fakta Unik Kemerdekaan Korea yang Jarang Diketahui

7 Fakta Unik Kemerdekaan Korea yang Jarang Diketahui

buku
Hubungan Korea Selatan dan Amerika Serikat: Sejarah Aliansi, Militer, dan Ekonomi

Hubungan Korea Selatan dan Amerika Serikat: Sejarah Aliansi, Militer, dan Ekonomi

buku
Kenapa Orang Betah Berlama-lama di Toko Buku? Ini Rahasianya

Kenapa Orang Betah Berlama-lama di Toko Buku? Ini Rahasianya

buku
Sejarah Hubungan Korea Selatan dan Jepang hingga Masa Modern

Sejarah Hubungan Korea Selatan dan Jepang hingga Masa Modern

buku
Siapa Pencetus Tanam Paksa? Ini Tokoh, Tujuan, dan Dampaknya bagi Indonesia

Siapa Pencetus Tanam Paksa? Ini Tokoh, Tujuan, dan Dampaknya bagi Indonesia

buku
Sistem Ekonomi Kolonial Belanda: Kebijakan dan Praktiknya di Indonesia

Sistem Ekonomi Kolonial Belanda: Kebijakan dan Praktiknya di Indonesia

buku
Fakta Penjajahan Belanda di Indonesia yang Perlu Kamu Tahu

Fakta Penjajahan Belanda di Indonesia yang Perlu Kamu Tahu

buku
Kenapa Belanda Menjajah Indonesia? Ini Alasan dan Sejarahnya

Kenapa Belanda Menjajah Indonesia? Ini Alasan dan Sejarahnya

buku
Hukum Gacha dalam Islam, Boleh atau Tidak? Simak Penjelasan Lengkapnya

Hukum Gacha dalam Islam, Boleh atau Tidak? Simak Penjelasan Lengkapnya

buku
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau