Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Asal Usul Banyuwangi: Sejarah Nama Daerah dan Legenda Sri Tanjung

Kompas.com, 6 Juli 2026, 13:00 WIB
Asal Usul Banyuwangi  Sumber Gambar: banyuwangitourism.com/De Djawatan Asal Usul Banyuwangi 
Rujukan artikel ini:
Campur-mencampur ala Banyuwangi-an
Pengarang: Litbang Kompas
Penulis Nadia
|
Editor Novia Putri Anindhita

Banyuwangi merupakan salah satu daerah yang berada di ujung timur Pulau Jawa dan dikenal sebagai gerbang penghubung antara Jawa dan Bali.

Selain memiliki kekayaan alam, budaya, dan tradisi yang beragam, Banyuwangi juga menyimpan sebuah kisah legendaris yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Kisah tersebut dikenal sebagai legenda Sri Tanjung dan Sidopekso yang dipercaya sebagai asal usul nama Banyuwangi.

Bagi masyarakat setempat, legenda ini bukan sekadar cerita rakyat.

Kisah tersebut menjadi bagian dari identitas budaya yang menjelaskan bagaimana nama Banyuwangi lahir dan mengapa daerah ini memiliki makna yang begitu mendalam dalam sejarah lokal.

Hingga saat ini, cerita asal usul Banyuwangi masih sering diajarkan di sekolah, dipentaskan dalam berbagai acara budaya, dan menjadi salah satu cerita rakyat paling terkenal dari Jawa Timur.

Lalu, bagaimana sebenarnya asal usul Banyuwangi? Apa arti nama Banyuwangi dan bagaimana legenda Sri Tanjung menjadi bagian penting dari sejarah daerah tersebut? Berikut penjelasannya.

Di Mana Letak Banyuwangi?

Banyuwangi adalah sebuah kabupaten yang terletak di bagian timur Provinsi Jawa Timur.

Wilayah ini berbatasan langsung dengan Selat Bali dan menjadi salah satu daerah terluas di Jawa Timur.

Selain dikenal karena keindahan alamnya, Banyuwangi juga memiliki kekayaan budaya yang dipengaruhi oleh berbagai tradisi, termasuk budaya Osing yang menjadi identitas masyarakat setempat.

Posisi geografis yang strategis membuat Banyuwangi berkembang sebagai pusat perdagangan, budaya, dan pariwisata sejak masa lampau hingga sekarang.

Apa Arti Nama Banyuwangi?

Sebelum membahas legenda yang melatarbelakanginya, penting untuk memahami arti dari nama Banyuwangi itu sendiri.

Nama Banyuwangi berasal dari dua kata dalam bahasa Jawa, yakni banyu berarti air dan wangi berarti harum.

Jika digabungkan, Banyuwangi berarti "air yang harum".

Makna tersebut berkaitan langsung dengan legenda Sri Tanjung yang menjadi cerita paling terkenal mengenai asal usul nama daerah ini.

Legenda Sri Tanjung dan Sidopekso

Menurut cerita rakyat yang berkembang di masyarakat, dahulu kala hiduplah sepasang suami istri bernama Sri Tanjung dan Sidopekso.

Sri Tanjung dikenal sebagai perempuan yang cantik, setia, dan memiliki hati yang baik.

Ia sangat mencintai suaminya dan selalu menjalankan kewajibannya dengan penuh tanggung jawab.

Sementara itu, Sidopekso merupakan seorang pria yang gagah dan dipercaya menjalankan tugas penting di lingkungan kerajaan.

Kehidupan mereka awalnya berjalan harmonis dan penuh kebahagiaan.

Suatu hari, Sidopekso mendapat tugas yang mengharuskannya meninggalkan rumah dalam waktu yang cukup lama.

Sebelum berangkat, ia berpesan kepada Sri Tanjung agar menjaga diri dan tetap setia menunggu kepulangannya.

Sri Tanjung menerima pesan tersebut dengan penuh kesungguhan dan menjalani kehidupannya seperti biasa selama sang suami pergi.

Ketika Sidopekso berada jauh dari rumah, muncul seseorang yang iri terhadap kebahagiaan pasangan tersebut.

Orang itu kemudian menyebarkan kabar bohong bahwa Sri Tanjung telah menjalin hubungan dengan pria lain selama suaminya pergi.

Fitnah tersebut akhirnya sampai ke telinga Sidopekso.

Tanpa mencari tahu kebenarannya terlebih dahulu, ia mempercayai kabar tersebut dan dipenuhi rasa marah serta kecewa.

Setelah kembali ke rumah, Sidopekso langsung menuduh Sri Tanjung telah mengkhianatinya.

Sri Tanjung berusaha menjelaskan bahwa dirinya tidak pernah melakukan hal yang dituduhkan.

Namun, kemarahan yang sudah menguasai hati Sidopekso membuatnya tidak mau mendengarkan penjelasan istrinya.

Karena tidak mampu membuktikan kesetiaannya kepada suami yang sudah terlanjur marah, Sri Tanjung akhirnya pasrah menghadapi nasibnya.

Sebelum meninggal, ia menyampaikan pesan yang sangat penting.

Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium

Sri Tanjung berkata bahwa jika dirinya benar-benar tidak bersalah, maka air tempat jasadnya berada akan mengeluarkan aroma harum sebagai bukti kesuciannya.

Setelah Sri Tanjung meninggal dan jasadnya jatuh ke sungai, terjadilah peristiwa yang mengejutkan.

Air sungai tersebut mengeluarkan aroma harum yang menyebar ke sekitarnya.

Melihat kejadian itu, Sidopekso akhirnya menyadari bahwa istrinya memang tidak bersalah.

Ia menyesali tindakannya yang terlalu mudah mempercayai fitnah dan tidak memberikan kesempatan kepada Sri Tanjung untuk membela diri.

Peristiwa munculnya air yang harum kemudian dikenang oleh masyarakat sekitar.

Tempat tersebut akhirnya disebut Banyuwangi yang berarti "air yang harum".

Asal Usul Banyuwangi dalam Perspektif Sejarah

Selain legenda Sri Tanjung, Banyuwangi juga memiliki sejarah panjang yang berkaitan dengan perkembangan kerajaan dan masyarakat di Jawa Timur.

1. Wilayah Kerajaan Blambangan

Pada masa lalu, wilayah Banyuwangi merupakan bagian dari Kerajaan Blambangan.

Kerajaan ini dikenal sebagai salah satu kerajaan Hindu terakhir di Pulau Jawa setelah runtuhnya Majapahit.

Blambangan memiliki peran penting dalam sejarah kawasan timur Jawa karena menjadi pusat perdagangan dan kebudayaan pada masanya.

2. Pengaruh Berbagai Kebudayaan

Karena letaknya yang strategis, Banyuwangi menerima pengaruh dari berbagai budaya, termasuk Jawa, Bali, dan Madura.

Interaksi tersebut melahirkan budaya yang khas dan masih dapat ditemukan hingga sekarang.

3. Banyuwangi Masa Kini

Saat ini Banyuwangi berkembang menjadi salah satu daerah tujuan wisata populer di Indonesia.

Meski telah mengalami modernisasi, masyarakat Banyuwangi tetap menjaga berbagai tradisi dan cerita rakyat yang menjadi bagian dari identitas daerah mereka.

Hubungan Legenda dengan Identitas Banyuwangi

Legenda Sri Tanjung memiliki hubungan yang sangat erat dengan identitas masyarakat Banyuwangi.

1. Simbol Kesucian dan Kejujuran

Sri Tanjung dianggap sebagai simbol perempuan yang setia, jujur, dan memiliki keteguhan hati.

2. Warisan Budaya

Kisah ini terus diwariskan melalui cerita lisan, buku, pertunjukan seni, dan pendidikan budaya.

3. Bagian dari Sejarah Lokal

Meskipun berbentuk legenda, cerita ini menjadi bagian penting dalam cara masyarakat memahami asal usul daerah mereka.

Nilai Moral dari Asal Usul Banyuwangi

1. Pentingnya Kepercayaan

Hubungan yang sehat harus dibangun atas dasar kepercayaan dan komunikasi yang baik.

2. Bahaya Fitnah

Legenda ini menunjukkan bahwa fitnah dapat merusak kehidupan seseorang dan menimbulkan penyesalan yang mendalam.

3. Jangan Terburu-buru Mengambil Keputusan

Sidopekso menjadi contoh bahwa keputusan yang diambil dalam keadaan marah dapat membawa akibat yang tidak dapat diperbaiki.

4. Kesetiaan dan Kejujuran

Sri Tanjung menunjukkan bahwa kejujuran dan kesetiaan merupakan nilai yang sangat penting dalam kehidupan.

5. Kebenaran Akan Terungkap

Meskipun sempat tertutupi oleh fitnah, pada akhirnya kebenaran tetap terungkap.

Mengapa Penting Memahami Asal Usul Banyuwangi?

Memahami asal usul Banyuwangi membantu masyarakat mengenal sejarah dan budaya daerah secara lebih mendalam.

Selain itu, cerita rakyat seperti legenda Sri Tanjung memiliki peran penting dalam:

  • Melestarikan budaya lokal.
  • Mengenalkan nilai moral kepada generasi muda.
  • Menjaga identitas daerah.
  • Menumbuhkan rasa bangga terhadap warisan budaya Indonesia.

Dengan memahami cerita di balik nama Banyuwangi, masyarakat dapat lebih menghargai sejarah dan tradisi yang diwariskan oleh para pendahulu.

Asal usul Banyuwangi tidak dapat dipisahkan dari legenda Sri Tanjung yang telah hidup dalam ingatan masyarakat selama bertahun-tahun.

Kisah tentang kesetiaan, fitnah, dan terungkapnya kebenaran tersebut tidak hanya menjelaskan makna nama Banyuwangi sebagai "air yang harum", tetapi juga menyimpan berbagai nilai moral yang masih relevan hingga saat ini.

Di balik perkembangan Banyuwangi sebagai daerah modern dan destinasi wisata terkenal, legenda ini tetap menjadi warisan budaya yang memperkaya identitas masyarakat dan menghubungkan generasi sekarang dengan sejarah masa lalu.

Bagi kamu yang ingin mengenal Banyuwangi lebih dekat setelah membaca kisah asal usulnya, buku Campur Mencampur Ala Banyuwangi-an dapat menjadi bacaan pendamping yang menarik.

Buku ini mengajak pembaca menyelami kekayaan budaya Banyuwangi dari sudut pandang yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakatnya.

Untuk membaca buku ini secara praktis dalam format digital, kamu dapat menemukannya di Gramedia Digital dan mulai menjelajahi pesona budaya Banyuwangi kapan saja dan di mana saja..

Rekomendasi Buku Terkait

Terkini Lainnya

Gacha Artinya Apa? Simak Istilah, Sejarah, dan Sistemnya dalam Game

Gacha Artinya Apa? Simak Istilah, Sejarah, dan Sistemnya dalam Game

buku
PeopleMath Tawarkan Perspektif Baru tentang Produktivitas Kerja

PeopleMath Tawarkan Perspektif Baru tentang Produktivitas Kerja

buku
Apa itu Gharar? Pengertian, Jenis, dan Contohnya dalam Transaksi Digital

Apa itu Gharar? Pengertian, Jenis, dan Contohnya dalam Transaksi Digital

buku
Kenapa Plushies Populer? Ini Alasannya Digemari Berbagai Kalangan

Kenapa Plushies Populer? Ini Alasannya Digemari Berbagai Kalangan

buku
Plushies Artinya Apa? Kenali Pengertian dan Perbedaannya dengan Boneka

Plushies Artinya Apa? Kenali Pengertian dan Perbedaannya dengan Boneka

buku
Weton Tulang Wangi dalam Kehidupan Sosial

Weton Tulang Wangi dalam Kehidupan Sosial

buku
Karakter Weton Tulang Wangi: Sifat Positif dan Sisi Gelap

Karakter Weton Tulang Wangi: Sifat Positif dan Sisi Gelap

buku
5 Keistimewaan Weton Tulang Wangi: Rahasia Rezeki dan Kejayaan Masa Depan

5 Keistimewaan Weton Tulang Wangi: Rahasia Rezeki dan Kejayaan Masa Depan

buku
7 Ciri Weton Tulang Wangi yang Paling Akurat Menurut Primbon Jawa

7 Ciri Weton Tulang Wangi yang Paling Akurat Menurut Primbon Jawa

buku
Perbedaan Roller Skate dan Inline Skate, Mana yang Cocok untuk Pemula?

Perbedaan Roller Skate dan Inline Skate, Mana yang Cocok untuk Pemula?

buku
Apa itu Weton Tulang Wangi? Arti, Ciri-ciri, dan Daftar Lengkapnya Menurut Primbon

Apa itu Weton Tulang Wangi? Arti, Ciri-ciri, dan Daftar Lengkapnya Menurut Primbon

buku
Mengapa Anak Sering Tidak Mau Mendengar? Pelajaran Berharga dari Buku Seni Berbicara pada Anak 

Mengapa Anak Sering Tidak Mau Mendengar? Pelajaran Berharga dari Buku Seni Berbicara pada Anak 

buku
Menjelajah Dunia Satwa bersama “Big & Little Animals – Hewan Besar dan Kecil”

Menjelajah Dunia Satwa bersama “Big & Little Animals – Hewan Besar dan Kecil”

buku
How to Start Your Own Business: Sepakati Aturan Ini Sebelum Bekerja dengan Teman atau Keluarga

How to Start Your Own Business: Sepakati Aturan Ini Sebelum Bekerja dengan Teman atau Keluarga

buku
Petualangan Seru Mengenal Beragam Hewan Unik di Dunia

Petualangan Seru Mengenal Beragam Hewan Unik di Dunia

buku
7 Manfaat Business Plan sebelum Memulai Usaha

7 Manfaat Business Plan sebelum Memulai Usaha

buku
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau