Festival Literasi Anak Rimba Kata 2026 Sesi Bicara Buku bertajuk “Celetuk Celoteh Cerita Jahil” berlangsung pada Sabtu (2/5/2026), pukul 10.00–11.00 WIB di Panggung Saga, Main Atrium Lantai Dasar Bintaro XChange Mall 2, Tangerang Selatan.
Sesi yang menjadi bagian dari Puncak Festival Literasi Anak Rimba Kata ini dipandu oleh moderator Lia Kusumawardani dan menghadirkan dua penulis buku anak, Djokolelono, penulis buku cerita bergambar Sepatu Berkucing, dan Noor H. Dee, penulis buku cerita bergambar Who Farted? dan Kumpulan Dongeng Superlucu.
Celetuk, celoteh, dan kejahilan yang dimaksud dalam tajuk acara ini bukan sekadar hiburan semata, melainkan cerminan dari cara kedua penulis memandang dunia anak.
Bagi Djokolelono dan Noor H. Dee, humor dalam cerita anak lahir dari kepekaan terhadap hal-hal kecil yang kerap luput dari perhatian orang dewasa, seperti obrolan iseng di halaman sekolah, lagu yang diplesetkan, hingga teka-teki yang dilempar begitu saja di antara teman sebaya.
Noor H. Dee menyatakan, ada satu pertanyaan yang menjadi pemantik cerita, yaitu “bagaimana jika?”.
Dari pertanyaan sederhana ini, ditambah kepekaan terhadap pengalaman sehari-hari, lahir berbagai ide cerita yang unik dan menggelitik.
Bukunya yang berjudul Who Farted?, misalnya, berangkat dari premis “bagaimana jika di pesta ulang tahun singa, raja hutan yang paling menakutkan, tiba-tiba ada yang kentut?” Dari situlah seluruh cerita mengalir.
Djokolelono pun sependapat hampir semua cerita yang baik berakar dari pertanyaan “bagaimana jika?” yang tepat.
Kelucuan dalam buku-buku mereka juga bukan sesuatu yang muncul secara kebetulan.
Noor H. Dee memang secara sadar merancangnya sejak awal dengan tujuan membuat anak-anak tertawa.
Ia menyadari anak-anak punya selera humor yang khas, bahkan jorok, misalnya kentut dan ketiak.
Semua elemen itu ia kumpulkan dan ramu menjadi cerita.
Ia juga menguji kelucuan ceritanya pada anaknya sendiri.
Bila sang anak tersenyum, berarti cerita lucunya berhasil.
Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium
Djokolelono punya cara tersendiri untuk menyelami dunia anak.
Sebelum menulis, ia selalu melakukan riset apa yang disukai anak-anak, apa yang membuat mereka penasaran, dan terutama apa yang mereka bicarakan satu sama lain.
Sumber otentiknya justru ditemukan di keseharian, seperti saat mengantar anaknya ke sekolah.
Di sanalah ia mendengar teka-teki, lelucon, hingga lagu-lagu yang diplesetkan.
Semua “penyelewengan” kecil itulah yang menjadi sumber inspirasinya.
Noor H. Dee pun menegaskan pentingnya sikap terbuka terhadap dunia anak.
Banyak orang dewasa yang merasa sebal terhadap tren yang digemari anak-anak, misalnya fenomena meme brain rot.
Padahal, sikap itulah yang menciptakan jarak.
“Bagaimana bisa dekat dengan anak kalau mencurigai apa yang disukai oleh anak? Padahal itu memang dunia mereka, tinggal bagaimana cara kita sebagai orang dewasa bisa masuk ke dunia mereka,” ujarnya.
Sebelum sesi berakhir, keduanya sempat berbagi tentang karya yang tengah mereka garap.
Djokolelono sedang merencanakan cerita lanjutan tentang kucing, terinspirasi dari 16 kucing yang tinggal di rumahnya, masing-masing dengan kepribadian yang berbeda-beda.
Sementara Noor H. Dee tengah berambisi menyelesaikan novel anak bertema gim.
Acara ditutup dengan foto bersama dan sesi tanda tangan.
Djokolelono dan Noor H. Dee mengingatkan bahwa untuk menulis cerita anak yang benar-benar lucu, penulis harus mendengarkan anak-anak, masuki dunia mereka, dan jangan takut untuk ikut tertawa.
Informasi lengkap tentang acara-acara lain dalam Festival Literasi Anak Rimba Kata dapat diakses melalui akun Instagram @rimbakata.id.