Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sering Takut Mati karena Rasa Cemas Berlebihan? Ini Penyebab dan Solusi yang Tepat

Kompas.com, 30 Desember 2025, 13:00 WIB
Penjelasan Rasa Cemas Berlebihan Takut Mati  Sumber Gambar: Freepik.com  Penjelasan Rasa Cemas Berlebihan Takut Mati 
Rujukan artikel ini:
The Power Of Mindfulness :…
Pengarang: Sony Adams
Penulis Nadia
|
Editor Novia Putri Anindhita

Rasa cemas adalah bagian alami dari emosi manusia.

Namun, ketika kecemasan muncul secara berlebihan hingga disertai ketakutan akan kematian, kondisi ini bisa menjadi sangat menakutkan dan mengganggu kehidupan sehari-hari.

Banyak orang yang mengalami keluhan seperti jantung berdebar kencang, sesak nafas, pusing, hingga muncul pikiran “saya akan mati sekarang”, padahal hasil pemeriksaan medis menunjukkan tubuh dalam kondisi baik.

Fenomena inilah yang sering disebut sebagai rasa cemas berlebihan takut mati.

Kondisi ini tidak hanya membuat penderitanya menderita secara fisik, tetapi juga secara mental karena muncul ketakutan yang terus berulang.

Pertanyaannya, mengapa rasa cemas bisa sampai memicu ketakutan berlebihan akan kematian?

Apa Itu Rasa Cemas Berlebihan Takut Mati?

Rasa cemas berlebihan takut mati adalah kondisi ketika seseorang mengalami kecemasan intens yang disertai ketakutan irasional akan kematian, meskipun tidak ada ancaman fisik nyata.

Dalam dunia psikologi, kondisi ini sering berkaitan dengan anxiety disorder, panic disorder, atau yang lebih spesifik dikenal sebagai thanatophobia (fobia terhadap kematian).

Kecemasan jenis ini bukan sekadar rasa takut biasa.

Penderitanya benar-benar meyakini bahwa dirinya sedang berada dalam kondisi berbahaya, bahkan akan meninggal dalam waktu dekat, meskipun secara medis tidak ditemukan kelainan serius.

Mengapa Rasa Takut Mati Bisa Muncul karena Kecemasan?

Ketakutan terhadap kematian akibat kecemasan berlebihan berkaitan erat dengan respons fight or flight dalam tubuh.

Saat seseorang cemas, otak mengirimkan sinyal bahaya meskipun sebenarnya tidak ada ancaman nyata.

Akibatnya, tubuh memproduksi hormon stres seperti adrenalin dan kortisol secara berlebihan.

Respons ini memicu berbagai sensasi fisik seperti:

  • Jantung berdebar sangat kencang
  • Napas terasa pendek
  • Tubuh gemetar
  • Rasa melayang atau pusing

Masalahnya, sensasi-sensasi tersebut sering disalahartikan oleh pikiran sebagai tanda serangan jantung atau kondisi fatal lainnya.

Di sinilah pikiran katastrofik bekerja seseorang langsung merasa bahwa dirinya akan mati, padahal yang terjadi adalah reaksi kecemasan.

Penyebab Rasa Cemas Berlebihan Disertai Takut Mati

Ada banyak faktor yang dapat memicu munculnya kecemasan berlebihan hingga menimbulkan ketakutan terhadap kematian.

Berikut beberapa penyebab yang paling umum:

1. Trauma Psikologis

Pengalaman traumatis seperti kecelakaan, kehilangan orang terdekat atau sakit berat.

2. Gangguan Panik

Serangan panik ini yang menimbulkan sensasi seperti akan mati.

3. Stres Berkepanjangan

Stres berkepanjangan dapat disebabkan oleh banyak faktor, seperti tekanan pekerjaan, masalah keluarga, atau konflik emosional.

4. Overthinking

Overthinking atau kondisi ketika dipenuhi pemikiran negatif yang berulang dan sulit dihentikan.

Jika kondisi ini terus berlangsung, energi dan mental akan terkuras dan rasa cemas akan semakin meningkat.

5. Kurang Tidur

Pola tidur yang buruk dapat meningkatkan sensitivitas kecemasan.

Saat tubuh tidak mendapatkan istirahat yang cukup, kemampuan otak untuk mengatur emosi dan merespons stres akan menurun sehingga rasa cemas lebih cepat muncul.

6. Konsumsi Kafein Berlebihan

Kafein dapat memicu jantung berdebar dan rasa gelisah, terutama jika dikonsumsi secara berlebihan.

Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium

7. Pernah Mengalami Sakit Serius

Trauma medis bisa memicu ketakutan berlebih karena meninggalkan dampak psikologis yang mendalam.

Apakah Rasa Cemas Berlebihan Takut Mati Berbahaya?

Secara langsung, rasa cemas berlebihan tidak menyebabkan kematian.

Serangan panik meskipun terasa sangat menakutkan dan seolah mengancam nyawa, sebenarnya tidak bersifat mematikan.

Namun, jika kecemasan berlebihan dibiarkan tanpa penanganan yang tepat, kondisi ini dapat menjadi sangat berbahaya bagi kualitas hidup dan kesehatan mental secara menyeluruh.

Beberapa dampak jangka panjang yang dapat terjadi akibat kecemasan berlebihan antara lain:

  • Gangguan tidur kronis
  • Penurunan produktivitas dan konsentrasi
  • Menarik diri dari lingkungan sosial
  • Depresi
  • Ketergantungan obat atau alkohol
  • Menurunnya kualitas hidup secara keseluruhan

Oleh karena itu, meskipun tidak mematikan secara fisik, rasa cemas berlebihan tetap harus ditangani dengan serius agar tidak berkembang menjadi gangguan mental yang lebih berat dan mengganggu kehidupan sehari-hari.

Hubungan Rasa Takut Mati dengan Panic Attack

Panic attack atau serangan panik adalah salah satu pemicu utama munculnya ketakutan akan kematian.

Saat serangan panik terjadi, tubuh mengalami lonjakan adrenalin yang sangat cepat.

Sensasi ini sering disalah artikan sebagai tanda akan terkena serangan jantung, stroke, atau kematian mendadak.

Padahal, secara medis, serangan panik tidak membahayakan nyawa.

Sensasi yang muncul hanyalah reaksi tubuh terhadap kecemasan ekstrem.

Sayangnya, pengalaman panic attack yang berulang membuat seseorang semakin takut sehingga membentuk lingkaran kecemasan yang sulit diputus.

Kapan Harus ke Psikolog atau Psikiater?

Segera cari bantuan profesional dari psikolog atau psikiater apabila kamu mengalami kondisi berikut karena gejala ini menandakan kecemasan sudah berada pada tingkat yang serius dan tidak boleh diabaikan:

  1. Serangan panik terjadi berulang setiap minggu, baik dengan pemicu yang jelas maupun secara tiba-tiba.
  2. Takut mati hampir setiap hari, disertai rasa cemas berlebihan tanpa sebab pasti.
  3. Sulit tidur karena pikiran negatif, overthinking, atau rasa gelisah yang tidak kunjung reda.
  4. Menghindari aktivitas sehari-hari karena takut kambuh, seperti bekerja, bersosialisasi, atau keluar rumah.
  5. Muncul pikiran untuk menyakiti diri sendiri, merasa putus asa, atau kehilangan harapan.

Psikolog akan membantu melalui terapi psikologis untuk mengelola pikiran, emosi, dan perilaku yang memicu kecemasan, sedangkan psikiater dapat memberikan pengobatan medis jika diperlukan sesuai dengan indikasi dan evaluasi klinis.

Mencari bantuan sedini mungkin dapat mempercepat proses pemulihan dan mencegah kondisi semakin memburuk.

Contoh Kasus Rasa Cemas Berlebihan Takut Mati

Banyak orang mengalami ketakutan akan kematian dalam situasi tertentu, misalnya:

  • Takut mati saat jantung tiba-tiba berdebar sebelum tidur
  • Takut mati saat sendirian di rumah
  • Takut mati ketika merasa sesak napas setelah overthinking
  • Takut mati setelah membaca berita tentang penyakit serius

Dalam banyak kasus, pemeriksaan medis menunjukkan kondisi tubuh baik-baik saja, dan penyebab utamanya adalah kecemasan yang tidak terkelola.

Rasa cemas berlebihan takut mati adalah kondisi yang sangat mengganggu secara emosional, meskipun tidak membahayakan nyawa secara langsung.

Ketakutan ini muncul akibat respons alami tubuh terhadap kecemasan yang disalah artikan sebagai ancaman serius.

Jika tidak segera ditangani, kondisi ini dapat menurunkan kualitas hidup, memicu gangguan panik, hingga berujung pada depresi.

Melalui pemahaman yang tepat, teknik pengelolaan kecemasan, serta bantuan profesional bila diperlukan, rasa cemas berlebihan dan ketakutan terhadap kematian dapat dikendalikan bahkan disembuhkan.

Selain journaling, salah satu cara sederhana namun efektif untuk menenangkan diri dari rasa cemas berlebihan adalah dengan membaca buku yang bersifat reflektif dan menenangkan pikiran.

Aktivitas membaca membantu mengalihkan fokus dari pikiran negatif yang berulang, sekaligus memberikan pemahaman baru tentang cara menerima hidup dengan lebih tenang dan sadar.

Salah satu buku yang direkomendasikan untuk membantu proses ini adalah The Power of Mindfulness karya Sony Adams.

Buku ini mengajak pembaca untuk berlatih mindfulness secara bertahap selama 30 hari, dengan tujuan melatih kesadaran penuh terhadap pikiran, perasaan, dan situasi yang sedang dialami.

Melalui latihan-latihan sederhana, pembaca diajak untuk berhenti melawan rasa cemas, menerima ketakutan dengan lebih bijak, serta membangun hubungan yang lebih damai dengan diri sendiri.

Buku ini tersedia dan bisa didapatkan secara online melalui Gramedia.com sehingga mudah diakses kapan saja.

Rekomendasi Buku Terkait

Terkini Lainnya

Jembatani Sains dan Etika, Al-Hikam Malang Hadirkan Wamen Prof. Stella Christie di Festival Ilmiah Santri 2026

Jembatani Sains dan Etika, Al-Hikam Malang Hadirkan Wamen Prof. Stella Christie di Festival Ilmiah Santri 2026

buku
Anatomi Fisiologis Jantung: Struktur, Fungsi, dan Cara Kerjanya

Anatomi Fisiologis Jantung: Struktur, Fungsi, dan Cara Kerjanya

buku
Bagaimana Susunan Tata Surya Terbentuk dan Tersusun? Ini Penjelasannya

Bagaimana Susunan Tata Surya Terbentuk dan Tersusun? Ini Penjelasannya

buku
Apa Arti Nonchalant dalam Bahasa Gaul?

Apa Arti Nonchalant dalam Bahasa Gaul?

buku
Apa yang Dibutuhkan Anak Broken Home? Panduan Membangun Mental Juara

Apa yang Dibutuhkan Anak Broken Home? Panduan Membangun Mental Juara

buku
Mengenal Citra Satelit sebagai Teknologi Penginderaan Jauh Modern

Mengenal Citra Satelit sebagai Teknologi Penginderaan Jauh Modern

buku
10 Cara Menerapkan Pola Hidup Sehat: Strategi Penting untuk Umur Panjang

10 Cara Menerapkan Pola Hidup Sehat: Strategi Penting untuk Umur Panjang

buku
10 Contoh Pola Hidup Sehat yang Mudah untuk Diterapkan

10 Contoh Pola Hidup Sehat yang Mudah untuk Diterapkan

buku
9 Makanan Buka Puasa Khas Asia yang Populer dan Enak

9 Makanan Buka Puasa Khas Asia yang Populer dan Enak

buku
Keutamaan Malam Lailatul Qadar: Malam yang Bisa Mengubah Hidup Kamu

Keutamaan Malam Lailatul Qadar: Malam yang Bisa Mengubah Hidup Kamu

buku
Masa Kejayaan Kerajaan Gowa-Tallo Makassar: Kisah Kejayaan Hingga Keruntuhannya

Masa Kejayaan Kerajaan Gowa-Tallo Makassar: Kisah Kejayaan Hingga Keruntuhannya

buku
Waktu yang Tepat untuk Meditasi agar Manfaatnya Lebih Optimal

Waktu yang Tepat untuk Meditasi agar Manfaatnya Lebih Optimal

buku
Mengenalkan Konsep Uang Lewat Cerita yang Menyenangkan

Mengenalkan Konsep Uang Lewat Cerita yang Menyenangkan

buku
Apa Saja Kebutuhan Protein untuk Bulking? Cari Tahu di Sini! 

Apa Saja Kebutuhan Protein untuk Bulking? Cari Tahu di Sini! 

buku
Menyelami Misteri Laut Melalui “Why? The Sea – Laut (Edisi Baru)”!

Menyelami Misteri Laut Melalui “Why? The Sea – Laut (Edisi Baru)”!

buku
Dampak Strict Parents pada Remaja: Disiplin, Tekanan Mental, atau Luka Emosional?

Dampak Strict Parents pada Remaja: Disiplin, Tekanan Mental, atau Luka Emosional?

buku
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau