Puncak Festival Literasi Anak Rimba Kata resmi dimulai pada Jumat, 1 Mei 2026, di Bintaro Xchange Mall 2, Tangerang Selatan.
Acara ini menjadi momentum penting dalam upaya mendorong minat baca dan literasi anak di Indonesia melalui pendekatan yang menyenangkan, interaktif, dan dekat dengan dunia anak-anak.
Pembukaan puncak festival diawali dengan gelar wicara yang menghadirkan sejumlah tokoh inspiratif di bidang pendidikan dan literasi, dipandu oleh Natalie Indry dan disambut antusiasme pengunjung.
Dalam kesempatan tersebut, Najeela Shihab selaku pendidik mengatakan buku adalah alat pemantik daya pikir kritis anak dan alat untuk menjadikan mereka berdaya.
Untuk dapat mengembangkan potensi anak secara utuh, anak harus diberikan kesempatan dan akses kepada buku-buku tersebut dari orang tua dan lingkungan sekitar.
“Buku itu alat untuk berdaya, tapi kuncinya hanya satu: harus dapat kesempatan dari orang tua dan guru. Kalau buku hanya dibaca dan ditamatkan, tidak jadi bagian dari percakapan, pada akhirnya rasa berdaya itu jadi tidak ada,” ujar Najeela.
Sementara itu, Herdiana Hakim, seorang akademisi dan pemerhati sastra anak, mengatakan bahwa saat ini, sastra anak di Indonesia semakin beragam dan dipenuhi tema-tema menarik, seperti inklusivitas dan hubungan manusia dengan alam.
Selain itu, tema-tema kesetaraan gender juga mulai banyak diangkat.
Hal ini menjadi kabar baik bagi para orang tua dan pendidik.
Herdiana juga menanggapi pernyataan Najeela tentang rasa berdaya anak.
Menurutnya, memandang anak sebagai pembaca aktif adalah salah satu bentuk keberdayaan tersebut.
“Menurut saya, yang lebih penting adalah perspektif terhadap anak yang dibawa oleh penulis dan ilustrator dalam buku. Ini berkaitan dengan rasa berdaya. Cerita dalam buku jangan hanya menyampaikan pesan moral secara eksplisit dan instruktif, jadi tidak ada ruang (anak) untuk berpikir kritis,” ungkapnya.
Kepala Seksi Kurikulum Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tangerang Selatan, Mukhlis, juga menyoroti perkembangan iklim perbukuan di ranah pendidikan.
Mukhlis menyadari bahwa buku-buku saat ini sudah bertransformasi, dari yang hanya sekadar untuk dihafal, menjadi punya nilai kebermanfaatan yang lebih baik dan membuat kegiatan belajar-mengajar menjadi lebih menyenangkan.
Direktur Penerbitan dan Edukasi Gramedia, Adi Ekatama, mengungkapkan salah satu alasan penting di balik diselenggarakannya Festival Literasi Anak Rimba Kata.
Adi menyatakan bahwa mengupayakan pertumbuhan minat baca adalah tanggung jawab penerbit dan toko buku.
Selain itu, Gramedia, lewat Rimba Kata, juga ingin menanamkan rasa cinta anak pada buku dan Gramedia.
Harapannya, anak-anak tersebut dapat kembali sebagai pembaca dan pencinta buku-buku Gramedia.
“Katanya, minat baca di Indonesia rendah. Saya sendiri merasa, mungkin ini tanggung jawab Gramedia juga sebagai penerbit dan toko buku yang mungkin paling lama bergerak di bidang literasi. Apakah akses yang kita berikan ke masyarakat kurang baik, atau mungkin cara kita menjual buku kurang populer, dan sebagainya. Rimba Kata ini salah satu upaya Gramedia untuk menjawabnya,” ujar Adi.
Baca buku sepuasnya di Gramedia Digital Premium
Selama tiga hari pelaksanaan puncak festival, pengunjung disuguhkan berbagai kegiatan menarik yang dirancang untuk mengisi waktu liburan keluarga dengan aktivitas yang bermanfaat.
Acara dibagi ke dalam dua panggung utama, Panggung Rimba dan Panggung Saga, yang diisi beragam kegiatan.
Pada hari pertama, selepas pembukaan, Panggung Rimba diisi dengan dongeng interaktif, grand final lomba tahfiz, hingga sesi edukasi parenting dari Wimili Childcare dan bahasan tentang pertanyaan anak yang sulit dijawab oleh orangtua melalui acara Kulik Teka-Teki Anak.
Sementara di Panggung Saga, pengunjung dapat mengikuti berbagai sesi edukatif, seperti “Jago Jaga Diri”, “Screen Time vs. Story Time”, hingga diskusi tentang emosi anak dan sesi bercerita bersama penulis ternama.
Hari kedua menghadirkan suasana yang tak kalah meriah.
Panggung Rimba dipenuhi kegiatan kreatif, seperti “Aku Pelindung Rimba”, dongeng interaktif oleh Awam Prakoso, hingga pertunjukan hiburan Magic & Bubble Show yang dibawakan oleh pesulap Rudy.
Salah satu sesi yang menarik perhatian adalah diskusi “Dari Animasi ke Dunia Literasi” yang menghubungkan dunia hiburan anak dengan pentingnya membaca.
Di sisi lain, Panggung Saga menghadirkan diskusi menarik bersama pembicara dengan beragam topik, seperti diskusi buku bertema isu lingkungan, berbagi kisah kepenulisan kreatif, dan diskusi cara pengajaran matematika yang asyik.
Memasuki hari ketiga, festival ditutup dengan rangkaian acara yang tak kalah seru.
Panggung Rimba menghadirkan lomba mewarnai, pentas bakat, hingga sesi bermain bersama karakter favorit anak, seperti Bobo dan Kiko.
Suasana semakin hangat dengan sesi “Cerita Hebat dari Keluarga Hemat & Saga Berbagi Buku” yang mengangkat nilai kebersamaan dalam keluarga melalui literasi.
Sementara itu, Panggung Saga menyuguhkan berbagai kegiatan kreatif, seperti workshop menulis, storytelling, hingga workshop robotik yang memperkenalkan teknologi kepada anak-anak secara menyenangkan.
Selain rangkaian acara yang telah disebutkan, pengunjung juga dapat menikmati berbagai area interaktif, seperti Taman Baca, Kebun Warna, Pajang Karya, Petak Nostalgia, Pohon Cerita, Area Bermain Youvit, dan Langit Imajinasi.
Kehadiran zona-zona ini melengkapi pengalaman berkunjung sehingga festival terasa edukatif sekaligus menyenangkan bagi seluruh keluarga.
Secara keseluruhan, Festival Literasi Anak Rimba Kata tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga wadah edukasi yang memperkaya pengalaman belajar anak.
Pendekatan yang interaktif membuat literasi terasa dekat dan relevan dalam kehidupan sehari-hari.
Informasi lengkap tentang Festival Literasi Anak Rimba Kata dapat diakses melalui Instagram @rimbakata.id.