Remy Sylado

Remy Sylado

Dia memulai karier sebagai wartawan majalah Tempo (Semarang, 1965), redaktur majalah Aktuil Bandung (sejak 1970), dosen Akademi Sinematografi Bandung (sejak 1971), ketua Teater Yayasan Pusat Kebudayaan Bandung. Dia menulis kritik, puisi, cerpen, novel (sejak usia 18), drama, kolom, esai, sajak, roman populer, juga buku-buku musikologi, dramaturgi, bahasa, dan teologi. Remy terkenal karena sikap beraninya menghadapi pandangan umum melalui pertunjukan-pertunjukan drama yang dipimpinnya. Ia juga salah satu pelopor penulisan puisi mbeling.


Selain menulis banyak novel, ia juga dikenal piawai melukis, drama, dan tahu banyak akan film. Saat ini ia bermukim di Bandung. Remy pernah dianugerahi hadiah Sastra Khatulistiwa 2002 untuk novelnya Kerudung Merah Kirmizi. Remy juga dikenal sebagai seorang Munsyi, ahli di bidang bahasa. Dalam karya fiksinya, sastrawan ini suka mengenalkan kata-kata Indonesia lama yang sudah jarang dipakai. Hal ini membuat karya sastranya unik dan istimewa, selain kualitas tulisannya yang tidak diragukan lagi.

Penulisan novelnya didukung dengan riset yang tidak tanggung-tanggung. Seniman ini rajin ke Perpustakaan Nasional untuk membongkar arsip tua, dan menelusuri pasar buku tua. Pengarang yang masih menulis karyanya dengan mesin ketik ini juga banyak melahirkan karya berlatar budaya di luar budayanya. Di luar kegiatan penulisan kreatif, ia juga kerap diundang berceramah teologi.


Remy Sylado pernah dan masih mengajar di beberapa perguruan di Bandung dan Jakarta, seperti Akademi Sinematografi, Institut Teater dan Film, Sekolah Tinggi Teologi.

Prestasinya di bidang musik, lukis, puisi, novel, aktor, wartawan, dramawan, sejak masa kanak sampai sekarang:

  • 1956 Juara II lomba lukis tingkat SR (SD) se-Semarang
  • 1961 Juara I menyanyi meniru suara Elvis Presley di Semarang
  • 1961 Juara II menyanyi meniru suara Pat Boone di Semarang
  • 1962 Juara I menyanyi meniru suara Louis Armstrong di Semarang
  • 1986 Nominasi aktor terbaik di FFI “Tinggal Sesaat Lagi”
  • 1987 Nominasi aktor terbaik di FFI “Akibat Kanker Payudara”
  • 1988 Nominasi aktor terbaik di FFI “Dua dari Tiga Laki-laki”
  • 1989 Piagam apresiasi dari Walikota Solo untuk bidang lukis
  • 1991 Man of Achievement dalam Who’s who in Asia and Pacific
  • 2002 Khatulistiwa Literary Award: “Kerudung Merah Kirmizi”
  • 2003 Anugrah Indonesia untuk bidang musik
  • 2004 Aktor terpuji di FFB “Bintang Idola”
  • 2004 MURI untuk bidang puisi “Kerygma & Martyria”
  • 2005 Satya Lencana Kebudayaan dari Negara/Presiden
  • 2006 Sastra Terbaik Pusat Bahasa “Kerudung Merah Kirmizi”
  • 2007 Piagam apresiasi Masyarakat Budaya Minahasa
  • 2008 Piagam PAPPRI untuk bidang kritik musik
  • 2009 Tirto Adhi Soerjo Award untuk bidang pers
  • 2009 One Man One Tree Award bidang lingkungan dari Menteri Kehutanan
  • 2009 Braga Award (kepeloporan musik sastra) dari Gubernur Jabar
  • 2010 Press Card Number One pada Hari Pers Nasional
  • 2011 Sastra Bermutu “Ca Bau Kan” dari Komunitas Nobel Indonesia
  • 2012 Piagam Kebudayaan (kepeloporan teater) dari Gubernur Jabar
  • 2013 Piagam Brawijaya dari Panglima Kodam Brawijaya
  • 2013 Penghargaan Achmad Bakrie bidang sastra dari Freedom Institute
  • 2013 Piagam Penghargaan Kerukunan Keluarga Kawanua

KOMENTAR

Belum ada komentar


Leave message
Your rating:



 
 Security code