Jalan Puisi Dari Nusantara ke Negeri Poci (06) : Gurindam

Jalan Puisi Dari Nusantara ke Negeri Poci
 
Asal mulanya kata. Lalu, terciptalah bahasa. Dari yang biasa, kemudian manusia memilahnya untuk mengungkapkan cita, cinta, asa, kecewa, curiga, atau apapun yang dirasa. Maka, lahirlah puisi.
 
Maman S. Mahayana menguraikan perjalanan Puisi di Nusantara dalam bukunya ini: Jalan Puisi, Dari Nusantara ke Negeri Poci.
 
Doktor ilmu sastra yang mengajar di Universitas Indonesia ini hendak menguraikannya dalam sebuah naskah ilmiah: dari definisi, terminologi, analisis, hingga uraian periodisasi waktu perjalanan buah pikir manusia yang bernama puisi.
 
Namun, puisi tetaplah sebuah keindahan. Maka, dalam buku ini, kalimat-kalimat yang disusun Maman S. Mahayana tetaplah keluar dari jiwa puisi itu sendiri. Ini adalah buku untuk menimba ilmu pengetahuan tentang sastra. Tapi yang pertama akan didapat, ini adalah buku yang kalimat demi kalimatnya untuk dinikmati. Nikmat sampai tamat.  

Gurindam
 
Kurang pikir kurang siasat,
Tentu dirimu kelak tersesat.
 
Kalau mulut tajam dan kasar,
Boleh ditimpa bahaya besar.
 
Gurindam semula dipahami sebagai dua baris perkataan yang menjadi peribahasa atau pepatah.
 
Mengingat pesan yang dikandungnya berisi nasihat atau peringatan, maka dalam masyarakat Melayu, gurindam sering dianggap sejenis dengan kata mutiara.
 
Ia ditulis di halaman buku atau ditempel di dinding sebagai penghias. Kadang kala diucapkan oleh para tetua desa pada acara-acara tertentu sebagai nasihat atau peringatan.
 
Mereka menganggap bahwa nasihat seperti itu sebagai sesuatu yang patut disampaikan dan diresapi pendengarnya.
 
(Halaman 114)