Relasi Kuasa Cenderung Berubah

Relasi kuasa antara penguasa dan pengikut di Indonesia cenderung berubah belakangan ini. Masyarakat semakin mudah menyapa dan menyampaikan keluh kesah langsung kepada penguasa tanpa dihinggapi rasa takut. Relasi kuasa juga tidak lagi didasari oleh otoritas politik lama.

Hal itu dikatakan Muhammad Al-Fayyadl, kontributor Prisma online dan Islambergerak.com dalam peluncuran dan bedah buku Menembus Badai Kekuasaan karya Daniel Dhakidae, di Gedung Kompas Gramedia, Jakarta, Selasa (1/12). Hadir pula sebagai pembicara lainnya, Bivitri Susanti, peneliti Pusat Studi Hukum dan Kebijakan Indonesia.

"Kita melihat tidak jarang relasi penguasa dan massa tidak lagi berdasar otoritas politik yang lama. Di sini signifikansi aktualitas dari analisis Daniel, kekuasaan itu selalu penting. Betapapun kekuasaan hari ini tampak semakin tidak kelihatan," kata Al-Fayyadl.

Daniel Dhakidae membedah relasi kekuasaan 13 tokoh yang dikategorikannya dalam tiga bagian, yakni kekuasaan kaum tak berkuasa, kekuasaan kaum terbuang, dan ketakkuasaan kaum berkuasa. Daniel membedah tokoh yang sudah mapan dalam wacana politik di Indonesia, seperti Muhammad Hatta, Sukarno, dan Soe Hok Gie, hingga tokoh kriminal yang kini tak banyak dikenal publik, seperti Muksin Tamnge, Kusni Kasdut, dan Henky Tupanwael.

Menurut Al-Fayyadl, Daniel terinspirasi dari pemahaman dua pemikir teoretik besar Perancis, yakni Pierre Bourdieu dan Michel Foucault, memahami kekuasaan itu sebagai relasi yang kompleks, betapapun tidak terlihat, tetapi hadir dalam bentuk cara berpikir, bertindak, dan berwacana masyarakat.

Al-Fayyadl mencontohkan relasi kompleks itu dengan menekankan pada bagian ketika Daniel memberi kekuasaan pada nama yang tidak berkuasa, tetapi di sisi lain ia melucuti kekuasaan dari nama lain. Sosok Soe Hok Gie dan Pramoedya Ananta Toer, misalnya, tergambarkan konflik antara modal budaya lewat kata-kata dan kekuasaan politik.

Bivitri Susanti mengatakan, dekonstruksi terhadap kekuasaan lewat tokoh-tokoh yang dianalisisnya sangat relevan dalam kondisi kekinian, di mana kekuasaan tidak dianggap sebagai sebuah proses untuk melayani, tetapi kekuasaan kerap disalahgunakan. "Buku ini membantu untuk membaca kuasa dalam pendekatan berbeda-beda," kata Bivitri. (GAL)

sumber : http://print.kompas.com/baca/2015/12/02/Relasi-Kuasa-Cenderung-Berubah